Tampilkan postingan dengan label Friendship Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friendship Series. Tampilkan semua postingan
Bye Neva
Bye… Neva !
Aku harus meninggalkan Neva, sebesar apapun cintaku padanya… tapi, bukankah keputusan yang baru kubuat tadi sebetulnya adalah bukti sejati aku memang mencintainya… jika aku tidak sayang padanya, tidak peduli padanya, maka tentu aku akan terus-terusan menjadi kekasihnya… membelenggunya dalam perasaan yang menyesatkan … yang semu… yang hanya kan bermuara pada jurang kemaksiatan yang dibenci oleh_Nya… Hya, keputusan ini sudah bulat dan besok aku akan bicara pada Neva, aku akan meluruskan hubungan ini agar tepat sesuai syariat… putus hubungan tanpa perlu memutuskan tali silaturahim… aku harus sabar menjelaskan hal ini padanya… walau mungkin akan sangat sulit bagi Neva untuk menerimanya.
“ …Ini pasti karena Ega, iya kan Vo…? “, desak Neva gundah…
“ Bukan Va, insya Allah bukan karena makhluk…”, putusku.
“ Impossible… kita tuh udah pacaran dari kelas empat SD Vo, gimana mungkin ditahun ke sebelas kamu bisa tiba-tiba mutusin aku tanpa sebab kaya gini… kamu mikir deh, cewek mana yang bisa serta merta nerima keputusan sepihak kayak begini… “, Neva menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya… dia kecewa, demi Allah aku tahu hatinya terluka…
“ aku…aku ga percaya kamu bisa setega ini…”, bisiknya dibalik isak tangis yang mulai terdengar.
God, melihatnya menangis… sungguh aku ga akan pernah sanggup… karena selama ini aku memang tak pernah rela membiarkannya terluka oleh satu apapun… setidaknya dada ini akan siap disandari agar sakit itu terbagi… namun kini… ternyata akulah si pembawa pedang panjang yang telah menebas urat nadinya dan membiarkan darah itu mengalir begitu saja….
“ Percayalah ini yang terbaik,Va… percayalah Allah akan jauh lebih ridho dengan keputusan ini… setelah ini Revo akan tetap ada untuk Neva, sebagai saudara seiman… Revo sangat berharap tali silaturahim yang telah terjalin dengan indahnya tidak turut putus bersama lahirnya keputusan ini…”, kucoba meyakinkannya…
Neva merebahkan tubuhnya ke hamparan empuk rumput manila tempat kami biasa duduk berduaan di halaman belakang rumahnya seraya menikmati warna-warni ratusan jenis anggrek yang turut menghiasi sudut-sudut tamannya. Matanya menerawang, kebiasaan yang muncul bilamana ia sedang sedih… biasanya aku juga akan turut rebah disampingnya dan menggenggam tangan putih yang halus itu erat-erat, seolah tersalur kekuatan agar dia tegar menjalani kehidupan selanjutnya... Tapi kali ini tidak, aku tidak semestinya mengambil kesempatan menyentuh gadis belia itu… seperti yang sering aku lakukan dulu…
“ Va, aku pulang dulu… maafkan aku… “, aku berdiri meninggalkannya…
“ Vo,tunggu…” desahnya… aku berhenti, tak berani menoleh…memandangnya dalam kondisi terluka tak berdaya…
“ …kamu, akan membayar mahal untuk ini semua…” bisiknya…
“ Cuma itu…?, ada lagi yang ingin disampaikan ?”, tanyaku dengan debar jantung bergemuruh…
“ …kamu nggak akan bisa gantiin aku dengan gadis manapun…” tegasnya…
Aku meneruskan langkahku… sekali lagi, maafin aku Va… aku yakin ini yang terbaik…
*$*
Kesibukan menghadapi Mid Semester alhamdulillah sedikit membuat fikiranku teralih dari sosok Neva, ditambah lagi dengan beberapa aktivitas rohis dan masa orientasi klub pencinta alam buat mahasiswa baru yang full menuntut perhatianku…aku mencoba untuk tidak terusik kembali dengan apa yang baru saja terjadi diantara aku dan Neva.
Aku mulai terbiasa untuk mengisi malam minggu dengan kajian bersama di sekretariat mushola kampus atau diskusi lepas bersama aktivis kampus yang lain. Untuk beberapa pekan terakhir ini nyaris bayangan Neva tak pernah kudapati.
“ Vo, jadi benar kasak-kusuk loe mutusin Neva, cewek agro yang manis banget itu…? “, Robin antusias menanyaiku diikuti Joe, Andra dan Sebastian, konco-konco setiaku di klub pencinta alam kampus.
“ Hya, gitu deh…”, jawabku pendek…
“ Loe sakit ya,friend… masa cewek kiut,manja,seksi dan pinter kaya Neva loe sia-siain…atau emang benar gosip-gosip yang beredar itu… loe naksir sama si Ega…”, sambar Joe yang kutau diam-diam juga naksir berat sama Nevaku.
“ Ha, jadi benar nih… gara-gara si Ega …!!! ”, tuduh Bastian merespon gayaku yang sok cool alias malas ngeladeni bocah-bocah itu…
“ Emang sih, si Ega hot juga… dan gue liat-liat kayanya emang rada ngasih lampu ijo ke elu sejak masa orientasi klub minggu lalu, tapi masa Cuma gara-gara itu loe mutusin si Neva yang udah sebelas tahun loe pacari, kalo loe emang pengen dua-duanya kan loe bisa selingkuh…”, usul Andra yang langsung kusambut Istighfar dalam hati…
“ Hei, Friend… kayanya loe-loe pada mesti nginstall ulang loe-loe punya otak deh… ngeres mlulu dari tadi… gue nggak ada niat ngelaba Ega, dan gue putusin Neva karena sebuah alasan yang gue yakin loe-loe pada juga ga akan ngerti…!!!”, aku bangkit dari tempat dudukku…
“ Hei, mau kemana Vo, sori deh… kita-kita kan Cuma becanda… jangan jutek gitu dong…kita-kita ga akan rese’ lagi deh sama urusan loe… asal mulai sekarang mantan cewek loe yang aduhai itu boleh gue laba’ , gimana …!?!, paling cepat sepulangnya kita dari hiking ke Bukit Kelam minggu depan, gimana Vo… respon dong…!!!”, teriak Joe cs… Sinting, lama-lama aku bisa sinting ngeladeni otak-otak kotor macam begitu…
Akhirnya setelah menimbang-nimbang sebentar, aku memutuskan untuk mengarahkan mobil kembali ke rumah… kepalaku berat, sepulang dari lokasi hiking beberapa hari lalu mendadak tubuhku rada nge_drop… aku butuh istirahat sejenak sebelum rapat aksi sore nanti…
“ Vo, cepat kesini… Mas mau ngenalin kamu sama seseorang…!!! “, Aku baru saja memarkir mobil di garasi saat Mas Vero memanggilku. Mas semata wayangku yang baru dua pekan pulang dari studinya di State itu memang ekspresif banget dan paling heboh di rumah ini.
Sampai di ruang tamu, mami langsung mencegatku…
“ Loh,Mi…kok di sini… Mas Vero bawa siapa Mi…? “, tanyaku heran.
“ Jawab Mami yang jujur Vo, sejak kapan kamu putus sama Neva…? “, tanya mami tegas. Deg. Bagaimana Mami bisa tahu…? Padahal aku sedang mencari-cari waktu yang tepat untuk menyampaikannya pada Mami, karena aku tahu Mami sangat menyayangi Neva dan sudah menganggap gadis belia itu sebagai putrinya sendiri, terlebih karena di keluarga ini memang nggak ada anak perempuan, yang ada hanya aku dan mas Vero.
“ Hm… bulan lalu,Mi…sori Revo nggak sempat cerita sama Mami… tapi Revo niat kok cerita sama Mami…”, pujukku.
“ Kenapa kalian putus…? kamu punya gebetan baru ya…? ”,tuduh Mami..
“ Hya, nggak lah Mi… Revo Cuma nggak mau aja pacaran, banyak negatifnya…!!!”, elakku.
“ …atau karena kamu memang sudah bosan sama Neva, Mami ngerti sebelas tahun pacaran, mungkin kamu pengen nyoba’ pacaran dengan cewek lain karena Neva pacar pertama kamu…”, mami terus-terusan mengejar…
“ Mi, Plis deh… jangan mikir yang nggak-nggak… Revo nggak ada maksud buruk mutusin Neva, itu toh juga demi kebaikan Neva… dan kalau memang jodoh nggak akan lari kemanalah Mam …!!!”, hiburku… Mami mengangguk puas… dia merangkulku ke dalam…
“ Lama banget sih kamu, Vo… syukur calon istri Mas ini orangnya sabar dan pengertian, coba kalo yang cepat naik darah… berabe kan…!!!”, celoteh Mas Vero panjang lebar… namun aku tak memperdulikan kata-katanya , aku sibuk mengatasi keterkejutanku pada sosok yang sangat familiar di mataku bahkan pernah begitu lama mengisi sudut-sudut istimewa di hatiku… Ratu Nevanska Putricilla Mahendrapatti.
“ kalian pasti sudah saling kenal… Ratu mas ini kan teman kamu sekolah dulu…kuliahnya juga di kampus yang sama, Cuma karena beda fakultas mungkin kalian jadi agak saling lupa ya…?”, tebak Mas Vero,sok tahu…
“ Nggak kok,Mas… aku nggak lupa, gimana mungkin aku lupa… kita kan dari SD sampe SMA selalu sekolah di tempat yang sama, bahkan beberapa kali pernah sekelas…ya kan,Va…!!! “ jawabku santai…
Neva menatapku lekat, seolah menantang… aku berusaha tenang dan bersikap luwes, lagipula sebentar lagi dia akan jadi pendamping hidup Mas ku, kurasa itu saja sudah cukup untuk dijadikan alasan aku menjaga jarak dalam berhubungan dengannya.
“ Kami ketemu di perpustakaan, ceritanya lucu deh… kamu pasti nggak percaya …”, dan terurailah cerita yang menurutku biasa-biasa aja dari mulut Mas vero tanpa diminta… aku setor senyum tipis aja lalu pamit ke kamarku… Neva terus menatapku tajam, perasaanku nggak enak, apa ini bagian dari upaya balas dendamnya padaku… Kasihan Mas Vero, padahal dia sudah stil yakin ingin menikahi gadis yang baru dikenalnya beberapa hari itu…Kembali aku menarik nafas panjang, Neva sudahlah…
Kurebahkan kepalaku yang semakin bertambah-tambah beratnya, perlahan kupejamkan mataku sambil terus-menerus melafazkan istighfar dalam hati…
Hya, kini terasa lebih baik… memang sebaiknya aku tidur saja dulu sebentar…
Antara sadar dan tak sadar aku mendengar seseorang menyelinap ke dalam kamar, mungkin Mami yang ingin melanjutkan investigasi… Sudahlah,Mi…Revo butuh istirahat…
Kuhembuskan nafas teratur… namun instingku menangkap sosok itu semakin mendekat dan mendekat… kepalaku semakin berat dan mata ini sulit untuk membuka. Rabb, ini bukan mami dan dari parfumnya yang aku kenal baik, aku tahu ini siapa…!!!
“ Aku tahu kamu nggak tidur…”, bisiknya nakal di telingaku…
“ Kepalaku sakit,Va… dan pergilah sebelum Mas Vero memergoki kamu di sini…”, usirku dengan tetap memejamkan mataku… namun instingku menangkap gadis itu malah semakin mendekat … Ya,Rabb… gadis ini gila… dengan susah payah kutolak tubuhnya ...
“ Astaghfirullah…”, desisku dan aku segera beranjak … Neva menarik lenganku kasar dan memelukku erat-erat agar tidak pergi meninggalkannya.
“ Kamu jangan sok munafik deh,Vo… dulu kamu selalu menyukai kebersamaan kita seperti saat ini…!!! ” suaranya bergetar…
“ Iya, kuakui… aku khilaf Va… tapi syukurnya Allah masih menjaga kamu… masih menjaga aku… sehingga aku bisa menahan diri dari perbuatan terkutuk itu…”, tegasku seraya menjauh dan membuang tatapan darinya.
“ Munafik… aku nggak percaya kamu jadi sekolot itu, siapa sebenarnya yang sudah meracuni fikiran kamu… Ikhsan ?, atau Chandra ?, atau jangan-jangan si kerudung merah jambu, Nabila ? apa dia yang sudah merebut kamu dariku…? jawab Revoneo Fernanda… aku sungguh-sungguh nggak terima kamu jadi berubah kaya gini… sok ja’im… sok nggak butuh… apa coba yang aku nggak bisa berikan ?aku sudah tawarkan, kamunya aja yang nggak mau ambil…!!!” ketusnya…
“ Va, aku benar-benar nggak percaya kamu semurah ini… ternyata sebelas tahun pacaran tidak membuat aku mengenal siapa Ratu Nevanska sebenarnya… ternyata kamu nggak ada bedanya dengan cewek-cewek di luar sana… sungguh aku benar-benar sangat bersyukur telah memutuskan hubungan denganmu…!!!”, balasku tegas seraya cepat merapikan kemejaku dan pergi meninggalkannya yang sedang terpana di atas ranjangku.
Rabb, aku harus pergi dari rumah ini… kuseret langkahku ke garasi, melarikan black stream_ku ke jalanan dan memutar murottal keras-keras melampaui suara house music yang membahana dari mobil yang ada di sebelahku… Aku tak tahu harus kemana… tapi kepalaku berat…
“ … istirahatlah disini, tapi afwan nih… terpaksa ditinggal-tinggal… ana ada jadwal mengisi kajian adik-adik baru… afwan jiddan,ya Vo… assalamu’alaikum…”, Ikhsan pamit…
“ Syukran, San… oya jangan lupa miscal aku pas adzan ashar nanti ya…khawatir aja kebablasan sampe magrib, lagian kita ada syuro kan ba’da Ashar, So jangan lupa bangunin ane oke…!!!”, pesanku mewanti-wanti… Ikhsan mengacungkan ibu jarinya lalu berlalu dengan cepat meninggalkan aku di kamar kostnya…
Ternyata harus bersembunyi di ruangan sempit yang disesaki oleh buku-buku milik Ikhsan untuk aku sedikit mendapatkan ketenangan…
Ah, Neva… apa dia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya hingga sanggup melakukan perbuatan hina itu, sungguh di luar dugaanku…Apa yang sebaiknya aku lakukan, menghalangi hubungan Mas Vero dengannya ?, menuntaskan persoalan dengan menanyakan apa sebetulnya yang diinginkan gadis belia itu ? atau pergi meninggalkan kota ini… lari dari segala persoalan yang menghimpitku…bijakkah…???
Kepalaku terus berdenyut-denyut, walau akhirnya sukses juga terlelap barang beberapa menit…
*$*
“ Hei,Vo… ikut yuk ntar malam… nonton bareng Neva di Plaza, wajahmu bete’ terus beberapa hari ini … mas kira kamu butuh sedikit refreshing deh…!!! “, tawar Mas Vero yang tiba-tiba muncul dan menstealing bolaku lalu menshootnya dengan sukses ke keranjang…
“ Sori deh,Mas… aku udah ada janji malam ini…! “, jawabku pendek.
“ Cari cewek deh,Vo… laki-laki tanpa perempuan cenderung terlihat kusut dan tak bergairah… hya seperti kamu sekarang ini…”. Celoteh Mas Vero… aku nyengir aja… sesaat sebelum kabur dari nasihat-nasihat percintaannya yang basi banget buatku.
Aku mengarahkan mobil keluar dari pagar dan bergegas menuju pusat kota. Kulangkahkan kakiku menuju salah satu toko buku terlengkap di kotaku, ada beberapa buku baru yang ingin kubeli.
Aku sedang khusyuk dengan buku yang ada di tanganku saat mataku tiba-tiba ditutup oleh seseorang yang muncul dari arah belakangku
“ Guess, who ? “, bisiknya ke dekat telingaku.
“ Neva, please… ! “, segera kulepaskan diri dari makhluk cantik yang sangat familiar di hatiku itu.
“ Really Glad to meet U in here… “, bisiknya manja seraya mengalungkan kedua lengannya ke leherku.
“ Neva, don’t touch me, ok… “, tegasku seraya menyelamatkan leherku dari rengkuhan lengannya .
“ No, I wont…”, balasnya nakal.
“ Neva, I’m sorry…”, kutolak keras tubuhnya yang kemudian terhuyung ke belakang lalu bergegas meninggalkannya.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat diantara kerumunan orang-orang. Fillingku mengatakan Neva tak akan puas dengan penolakanku karena aku hafal benar watak mantan kekasihku itu. Semakin lebar kulangkahkan kaki-kakiku,, namun terlambat …seseorang telah berhasil menarik lenganku dan mencengkeramnya dengan erat.
“ Kamu nggak bisa pergi begitu saja dalam hidupku Revo… berhenti dan dengarkan aku… kumohon Revo…atau aku akan menjerit dan mengatakan pada semua orang di tempat ini kalau kau sedang menculikku…!!!”, ancamnya…
Aku menghentikan langkahku seketika. Mata si cantik berbinar dan sebaris senyum merekah hiasi wajahnya.
“ Baik, kita akan tuntaskan ini secara dewasa…”, tawarku…
“ Oke, kita ke kafe itu… kamu yang traktir !!! “, sambutnya sambil menunjuk kearah sebuah restoran mungil yang menjual aneka macam kue di pojok gedung .
“ Neva, apa sebenarnya yang kamu inginkan ? “, tanyaku to the point…
“ Aku ingin kita kembali seperti dulu… kembali menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai…dan bahagia … “ gadis itu mantap menyatakan keinginannya sambil lurus menatapku dengan tatapan memelasnya .
“…tatap mataku,Vo…lihatlah betapa besar cinta yang terpancar di sana… tidakkah kau sadari betapa aku menginginkanmu, Revoneo… “, dia mendekatkan tubuhnya padaku…menggunakan daya tariknya untuk memikatku…manis wangi parfum yang bersumber dari tubuhnya menyergap penciumanku…
“ Revo… apa kamu nggak ingat pada kenangan-kenangan indah kita dulu…?, mengapa kamu jadi berubah sejak bergaul dengan Ikhsan… diakah yang telah menjadi racun diantara kita…? “, lurus mata indah itu menatapku tajam, menanti jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.
“ Aku tahu kamu tidak akan pernah puas dengan jawaban-jawabanku… karena pernyataan itu tak pernah ada dalam logika berfikirmu… aku sudah mencoba jujur padamu dengan mengatakan alasan yang sebenarnya… Va, aku nggak mau jadi muslim munafik…yang maunya mentaati perintah yang aku bisa dan aku suka saja, tapi menolak mengindahkan hal-hal yang Allah benci untuk ditinggalkan…”, kutarik tanganku dan kuatur jarak agar hatiku dapat lebih tentram menyampaikan isi hatiku padanya.
“ Va, aku tetap sayang Neva… dan Aku ingin menyayangi Neva dengan cara yang Allah ridhoi…, aku tahu telah begitu banyak kekhilafan yang telah kita lakukan bersama… kekhilafan yang harus aku tinggalkan kala aku telah tersadarkan … dan Ikhsan adalah salah satu dari sekian banyak orang yang telah membantu aku untuk teguh dengan komitmen perbaikan diri…”, kutarik nafas panjang perlahan…
“ Aku harap kamu mengerti, betapa aku nggak ingin menyia-nyiakan sisa hidup ini dengan kesia-siaan yang hanya akan menjadi penyesalan kita di akhirat nanti… Aku bersyukur hidayah itu telah datang dan memotivasi aku untuk yakin mengambil keputusan ini… walau ini berarti aku harus rela kehilangan orang yang sangat aku sayangi karena aku tahu sesungguhnya aku nggak akan benar-benar kehilangan… aku nggak akan benar-benar kehilangan, karena setelah ini aku berharap kita masih akan terus menyambung tali silaturohim ini… aku akan tetap jadi teman kamu… teman yang akan ada untuk kamu saat kamu butuhkan, percayalah…”, Neva tertegun sesaat, lalu membuang pandangan ke meja yang memisahkan kami.
“ Tak ada satupun kenangan kita yang aku lupakan,Va… dan untuk segala yang telah aku lakukan padamu, aku minta maaf… aku tahu maaf saja tidak akan pernah cukup untuk mengurai apa yang telah aku rajut bersamamu sebelas tahun terakhir ini… aku tidak memaksamu melupakan apa-apa saja yang telah terjadi di antara kita, karena bagi orang kebanyakan kisah kita memang amatlah manis untuk dihapus dari ingatan… aku…aku…aku hanya bisa minta maaf padamu dan mohon ampun pada Yang Maha Kuasa atas apa yang telah aku perbuat selama ini…”, kuteguk minuman dingin yang ada dihadapanku… Neva masih membuang tatapannya… tak sedikit pun dia berusaha mengangkat wajahnya seperti yang biasa dia lakukan kala menantangku.
“ Kamu gadis yang baik Va, aku bahagia bisa melewati hari-hari bersamamu… walau belakangan ini aku sedikit kecewa dengan tindakanmu… namun aku berusaha memaklumi kekalutan di jiwamu, sungguh… aku lakukan ini bukan karena aku bosan padamu, atau ada wanita lain yang mengusik hatiku…kuharap kamu mengerti sekarang, mengapa aku lakukan semua ini…”, kembali kuteguk minumanku…
“ Aku harus pergi…”, bisiknya lirih…
“ Va, kamu maafin aku kan…? “, kejarku , saat dia hendak bergegas meninggalkan meja.
“ Va, jawab pertanyaanku…! “, aku turut berdiri dan mencoba menghalanginya.
“ Ntahlah, Vo… banyak hal yang sungguh aku nggak ngerti… tapi ada satu hal yang aku ingin kamu tahu… aku menghargai keputusanmu… aku perlu waktu untuk mencerna kata-katamu… setidaknya apa yang kau katakan padaku barusan telah menjelaskan bahwa aku tidak kau campakan… karena selama ini, itulah yang kurasakan… dan Revo, kumohon… tepati kata-katamu untuk selalu jadi temanku… itu saja… “, selepas mengatakan itu Neva pun berlalu… Aku menarik nafas lega… Neva sayang, cepat atau lambat kau akan mengerti, hidup ini begitu singkat untuk disia-siakan… Allah telah mengatur dengan sebaik-baik dan seindah-indah cara untuk menyatukan hamba-hamba_Nya… dengan siapa, di mana bahkan kapan waktunya…semua telah diatur oleh_Nya, lantas mengapa kita harus berlaga sok tahu untuk mencari-cari sendiri pasangan hidup kita, hingga memboroskan waktu yang sebetulnya dapat dialihkan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dan mendatangkan keridhoan_Nya. Jika saatnya tiba… akan dengan mudah Dia mencenderungkan hati ini… akan dengan mudah Dia lapangkan jalannya… dan pilihannya adalah yang terbaik untuk kita, karena Dia memberi sesuai kebutuhan … bukan keinginan… Bye Neva, I’ll always love you coz Allah…
( Pontianak, 12 April 2004, 01.40 dini hari…)
read more...
“ …Ini pasti karena Ega, iya kan Vo…? “, desak Neva gundah…
“ Bukan Va, insya Allah bukan karena makhluk…”, putusku.
“ Impossible… kita tuh udah pacaran dari kelas empat SD Vo, gimana mungkin ditahun ke sebelas kamu bisa tiba-tiba mutusin aku tanpa sebab kaya gini… kamu mikir deh, cewek mana yang bisa serta merta nerima keputusan sepihak kayak begini… “, Neva menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya… dia kecewa, demi Allah aku tahu hatinya terluka…
“ aku…aku ga percaya kamu bisa setega ini…”, bisiknya dibalik isak tangis yang mulai terdengar.
God, melihatnya menangis… sungguh aku ga akan pernah sanggup… karena selama ini aku memang tak pernah rela membiarkannya terluka oleh satu apapun… setidaknya dada ini akan siap disandari agar sakit itu terbagi… namun kini… ternyata akulah si pembawa pedang panjang yang telah menebas urat nadinya dan membiarkan darah itu mengalir begitu saja….
“ Percayalah ini yang terbaik,Va… percayalah Allah akan jauh lebih ridho dengan keputusan ini… setelah ini Revo akan tetap ada untuk Neva, sebagai saudara seiman… Revo sangat berharap tali silaturahim yang telah terjalin dengan indahnya tidak turut putus bersama lahirnya keputusan ini…”, kucoba meyakinkannya…
Neva merebahkan tubuhnya ke hamparan empuk rumput manila tempat kami biasa duduk berduaan di halaman belakang rumahnya seraya menikmati warna-warni ratusan jenis anggrek yang turut menghiasi sudut-sudut tamannya. Matanya menerawang, kebiasaan yang muncul bilamana ia sedang sedih… biasanya aku juga akan turut rebah disampingnya dan menggenggam tangan putih yang halus itu erat-erat, seolah tersalur kekuatan agar dia tegar menjalani kehidupan selanjutnya... Tapi kali ini tidak, aku tidak semestinya mengambil kesempatan menyentuh gadis belia itu… seperti yang sering aku lakukan dulu…
“ Va, aku pulang dulu… maafkan aku… “, aku berdiri meninggalkannya…
“ Vo,tunggu…” desahnya… aku berhenti, tak berani menoleh…memandangnya dalam kondisi terluka tak berdaya…
“ …kamu, akan membayar mahal untuk ini semua…” bisiknya…
“ Cuma itu…?, ada lagi yang ingin disampaikan ?”, tanyaku dengan debar jantung bergemuruh…
“ …kamu nggak akan bisa gantiin aku dengan gadis manapun…” tegasnya…
Aku meneruskan langkahku… sekali lagi, maafin aku Va… aku yakin ini yang terbaik…
*$*
Kesibukan menghadapi Mid Semester alhamdulillah sedikit membuat fikiranku teralih dari sosok Neva, ditambah lagi dengan beberapa aktivitas rohis dan masa orientasi klub pencinta alam buat mahasiswa baru yang full menuntut perhatianku…aku mencoba untuk tidak terusik kembali dengan apa yang baru saja terjadi diantara aku dan Neva.
Aku mulai terbiasa untuk mengisi malam minggu dengan kajian bersama di sekretariat mushola kampus atau diskusi lepas bersama aktivis kampus yang lain. Untuk beberapa pekan terakhir ini nyaris bayangan Neva tak pernah kudapati.
“ Vo, jadi benar kasak-kusuk loe mutusin Neva, cewek agro yang manis banget itu…? “, Robin antusias menanyaiku diikuti Joe, Andra dan Sebastian, konco-konco setiaku di klub pencinta alam kampus.
“ Hya, gitu deh…”, jawabku pendek…
“ Loe sakit ya,friend… masa cewek kiut,manja,seksi dan pinter kaya Neva loe sia-siain…atau emang benar gosip-gosip yang beredar itu… loe naksir sama si Ega…”, sambar Joe yang kutau diam-diam juga naksir berat sama Nevaku.
“ Ha, jadi benar nih… gara-gara si Ega …!!! ”, tuduh Bastian merespon gayaku yang sok cool alias malas ngeladeni bocah-bocah itu…
“ Emang sih, si Ega hot juga… dan gue liat-liat kayanya emang rada ngasih lampu ijo ke elu sejak masa orientasi klub minggu lalu, tapi masa Cuma gara-gara itu loe mutusin si Neva yang udah sebelas tahun loe pacari, kalo loe emang pengen dua-duanya kan loe bisa selingkuh…”, usul Andra yang langsung kusambut Istighfar dalam hati…
“ Hei, Friend… kayanya loe-loe pada mesti nginstall ulang loe-loe punya otak deh… ngeres mlulu dari tadi… gue nggak ada niat ngelaba Ega, dan gue putusin Neva karena sebuah alasan yang gue yakin loe-loe pada juga ga akan ngerti…!!!”, aku bangkit dari tempat dudukku…
“ Hei, mau kemana Vo, sori deh… kita-kita kan Cuma becanda… jangan jutek gitu dong…kita-kita ga akan rese’ lagi deh sama urusan loe… asal mulai sekarang mantan cewek loe yang aduhai itu boleh gue laba’ , gimana …!?!, paling cepat sepulangnya kita dari hiking ke Bukit Kelam minggu depan, gimana Vo… respon dong…!!!”, teriak Joe cs… Sinting, lama-lama aku bisa sinting ngeladeni otak-otak kotor macam begitu…
Akhirnya setelah menimbang-nimbang sebentar, aku memutuskan untuk mengarahkan mobil kembali ke rumah… kepalaku berat, sepulang dari lokasi hiking beberapa hari lalu mendadak tubuhku rada nge_drop… aku butuh istirahat sejenak sebelum rapat aksi sore nanti…
“ Vo, cepat kesini… Mas mau ngenalin kamu sama seseorang…!!! “, Aku baru saja memarkir mobil di garasi saat Mas Vero memanggilku. Mas semata wayangku yang baru dua pekan pulang dari studinya di State itu memang ekspresif banget dan paling heboh di rumah ini.
Sampai di ruang tamu, mami langsung mencegatku…
“ Loh,Mi…kok di sini… Mas Vero bawa siapa Mi…? “, tanyaku heran.
“ Jawab Mami yang jujur Vo, sejak kapan kamu putus sama Neva…? “, tanya mami tegas. Deg. Bagaimana Mami bisa tahu…? Padahal aku sedang mencari-cari waktu yang tepat untuk menyampaikannya pada Mami, karena aku tahu Mami sangat menyayangi Neva dan sudah menganggap gadis belia itu sebagai putrinya sendiri, terlebih karena di keluarga ini memang nggak ada anak perempuan, yang ada hanya aku dan mas Vero.
“ Hm… bulan lalu,Mi…sori Revo nggak sempat cerita sama Mami… tapi Revo niat kok cerita sama Mami…”, pujukku.
“ Kenapa kalian putus…? kamu punya gebetan baru ya…? ”,tuduh Mami..
“ Hya, nggak lah Mi… Revo Cuma nggak mau aja pacaran, banyak negatifnya…!!!”, elakku.
“ …atau karena kamu memang sudah bosan sama Neva, Mami ngerti sebelas tahun pacaran, mungkin kamu pengen nyoba’ pacaran dengan cewek lain karena Neva pacar pertama kamu…”, mami terus-terusan mengejar…
“ Mi, Plis deh… jangan mikir yang nggak-nggak… Revo nggak ada maksud buruk mutusin Neva, itu toh juga demi kebaikan Neva… dan kalau memang jodoh nggak akan lari kemanalah Mam …!!!”, hiburku… Mami mengangguk puas… dia merangkulku ke dalam…
“ Lama banget sih kamu, Vo… syukur calon istri Mas ini orangnya sabar dan pengertian, coba kalo yang cepat naik darah… berabe kan…!!!”, celoteh Mas Vero panjang lebar… namun aku tak memperdulikan kata-katanya , aku sibuk mengatasi keterkejutanku pada sosok yang sangat familiar di mataku bahkan pernah begitu lama mengisi sudut-sudut istimewa di hatiku… Ratu Nevanska Putricilla Mahendrapatti.
“ kalian pasti sudah saling kenal… Ratu mas ini kan teman kamu sekolah dulu…kuliahnya juga di kampus yang sama, Cuma karena beda fakultas mungkin kalian jadi agak saling lupa ya…?”, tebak Mas Vero,sok tahu…
“ Nggak kok,Mas… aku nggak lupa, gimana mungkin aku lupa… kita kan dari SD sampe SMA selalu sekolah di tempat yang sama, bahkan beberapa kali pernah sekelas…ya kan,Va…!!! “ jawabku santai…
Neva menatapku lekat, seolah menantang… aku berusaha tenang dan bersikap luwes, lagipula sebentar lagi dia akan jadi pendamping hidup Mas ku, kurasa itu saja sudah cukup untuk dijadikan alasan aku menjaga jarak dalam berhubungan dengannya.
“ Kami ketemu di perpustakaan, ceritanya lucu deh… kamu pasti nggak percaya …”, dan terurailah cerita yang menurutku biasa-biasa aja dari mulut Mas vero tanpa diminta… aku setor senyum tipis aja lalu pamit ke kamarku… Neva terus menatapku tajam, perasaanku nggak enak, apa ini bagian dari upaya balas dendamnya padaku… Kasihan Mas Vero, padahal dia sudah stil yakin ingin menikahi gadis yang baru dikenalnya beberapa hari itu…Kembali aku menarik nafas panjang, Neva sudahlah…
Kurebahkan kepalaku yang semakin bertambah-tambah beratnya, perlahan kupejamkan mataku sambil terus-menerus melafazkan istighfar dalam hati…
Hya, kini terasa lebih baik… memang sebaiknya aku tidur saja dulu sebentar…
Antara sadar dan tak sadar aku mendengar seseorang menyelinap ke dalam kamar, mungkin Mami yang ingin melanjutkan investigasi… Sudahlah,Mi…Revo butuh istirahat…
Kuhembuskan nafas teratur… namun instingku menangkap sosok itu semakin mendekat dan mendekat… kepalaku semakin berat dan mata ini sulit untuk membuka. Rabb, ini bukan mami dan dari parfumnya yang aku kenal baik, aku tahu ini siapa…!!!
“ Aku tahu kamu nggak tidur…”, bisiknya nakal di telingaku…
“ Kepalaku sakit,Va… dan pergilah sebelum Mas Vero memergoki kamu di sini…”, usirku dengan tetap memejamkan mataku… namun instingku menangkap gadis itu malah semakin mendekat … Ya,Rabb… gadis ini gila… dengan susah payah kutolak tubuhnya ...
“ Astaghfirullah…”, desisku dan aku segera beranjak … Neva menarik lenganku kasar dan memelukku erat-erat agar tidak pergi meninggalkannya.
“ Kamu jangan sok munafik deh,Vo… dulu kamu selalu menyukai kebersamaan kita seperti saat ini…!!! ” suaranya bergetar…
“ Iya, kuakui… aku khilaf Va… tapi syukurnya Allah masih menjaga kamu… masih menjaga aku… sehingga aku bisa menahan diri dari perbuatan terkutuk itu…”, tegasku seraya menjauh dan membuang tatapan darinya.
“ Munafik… aku nggak percaya kamu jadi sekolot itu, siapa sebenarnya yang sudah meracuni fikiran kamu… Ikhsan ?, atau Chandra ?, atau jangan-jangan si kerudung merah jambu, Nabila ? apa dia yang sudah merebut kamu dariku…? jawab Revoneo Fernanda… aku sungguh-sungguh nggak terima kamu jadi berubah kaya gini… sok ja’im… sok nggak butuh… apa coba yang aku nggak bisa berikan ?aku sudah tawarkan, kamunya aja yang nggak mau ambil…!!!” ketusnya…
“ Va, aku benar-benar nggak percaya kamu semurah ini… ternyata sebelas tahun pacaran tidak membuat aku mengenal siapa Ratu Nevanska sebenarnya… ternyata kamu nggak ada bedanya dengan cewek-cewek di luar sana… sungguh aku benar-benar sangat bersyukur telah memutuskan hubungan denganmu…!!!”, balasku tegas seraya cepat merapikan kemejaku dan pergi meninggalkannya yang sedang terpana di atas ranjangku.
Rabb, aku harus pergi dari rumah ini… kuseret langkahku ke garasi, melarikan black stream_ku ke jalanan dan memutar murottal keras-keras melampaui suara house music yang membahana dari mobil yang ada di sebelahku… Aku tak tahu harus kemana… tapi kepalaku berat…
“ … istirahatlah disini, tapi afwan nih… terpaksa ditinggal-tinggal… ana ada jadwal mengisi kajian adik-adik baru… afwan jiddan,ya Vo… assalamu’alaikum…”, Ikhsan pamit…
“ Syukran, San… oya jangan lupa miscal aku pas adzan ashar nanti ya…khawatir aja kebablasan sampe magrib, lagian kita ada syuro kan ba’da Ashar, So jangan lupa bangunin ane oke…!!!”, pesanku mewanti-wanti… Ikhsan mengacungkan ibu jarinya lalu berlalu dengan cepat meninggalkan aku di kamar kostnya…
Ternyata harus bersembunyi di ruangan sempit yang disesaki oleh buku-buku milik Ikhsan untuk aku sedikit mendapatkan ketenangan…
Ah, Neva… apa dia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya hingga sanggup melakukan perbuatan hina itu, sungguh di luar dugaanku…Apa yang sebaiknya aku lakukan, menghalangi hubungan Mas Vero dengannya ?, menuntaskan persoalan dengan menanyakan apa sebetulnya yang diinginkan gadis belia itu ? atau pergi meninggalkan kota ini… lari dari segala persoalan yang menghimpitku…bijakkah…???
Kepalaku terus berdenyut-denyut, walau akhirnya sukses juga terlelap barang beberapa menit…
*$*
“ Hei,Vo… ikut yuk ntar malam… nonton bareng Neva di Plaza, wajahmu bete’ terus beberapa hari ini … mas kira kamu butuh sedikit refreshing deh…!!! “, tawar Mas Vero yang tiba-tiba muncul dan menstealing bolaku lalu menshootnya dengan sukses ke keranjang…
“ Sori deh,Mas… aku udah ada janji malam ini…! “, jawabku pendek.
“ Cari cewek deh,Vo… laki-laki tanpa perempuan cenderung terlihat kusut dan tak bergairah… hya seperti kamu sekarang ini…”. Celoteh Mas Vero… aku nyengir aja… sesaat sebelum kabur dari nasihat-nasihat percintaannya yang basi banget buatku.
Aku mengarahkan mobil keluar dari pagar dan bergegas menuju pusat kota. Kulangkahkan kakiku menuju salah satu toko buku terlengkap di kotaku, ada beberapa buku baru yang ingin kubeli.
Aku sedang khusyuk dengan buku yang ada di tanganku saat mataku tiba-tiba ditutup oleh seseorang yang muncul dari arah belakangku
“ Guess, who ? “, bisiknya ke dekat telingaku.
“ Neva, please… ! “, segera kulepaskan diri dari makhluk cantik yang sangat familiar di hatiku itu.
“ Really Glad to meet U in here… “, bisiknya manja seraya mengalungkan kedua lengannya ke leherku.
“ Neva, don’t touch me, ok… “, tegasku seraya menyelamatkan leherku dari rengkuhan lengannya .
“ No, I wont…”, balasnya nakal.
“ Neva, I’m sorry…”, kutolak keras tubuhnya yang kemudian terhuyung ke belakang lalu bergegas meninggalkannya.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat diantara kerumunan orang-orang. Fillingku mengatakan Neva tak akan puas dengan penolakanku karena aku hafal benar watak mantan kekasihku itu. Semakin lebar kulangkahkan kaki-kakiku,, namun terlambat …seseorang telah berhasil menarik lenganku dan mencengkeramnya dengan erat.
“ Kamu nggak bisa pergi begitu saja dalam hidupku Revo… berhenti dan dengarkan aku… kumohon Revo…atau aku akan menjerit dan mengatakan pada semua orang di tempat ini kalau kau sedang menculikku…!!!”, ancamnya…
Aku menghentikan langkahku seketika. Mata si cantik berbinar dan sebaris senyum merekah hiasi wajahnya.
“ Baik, kita akan tuntaskan ini secara dewasa…”, tawarku…
“ Oke, kita ke kafe itu… kamu yang traktir !!! “, sambutnya sambil menunjuk kearah sebuah restoran mungil yang menjual aneka macam kue di pojok gedung .
“ Neva, apa sebenarnya yang kamu inginkan ? “, tanyaku to the point…
“ Aku ingin kita kembali seperti dulu… kembali menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai…dan bahagia … “ gadis itu mantap menyatakan keinginannya sambil lurus menatapku dengan tatapan memelasnya .
“…tatap mataku,Vo…lihatlah betapa besar cinta yang terpancar di sana… tidakkah kau sadari betapa aku menginginkanmu, Revoneo… “, dia mendekatkan tubuhnya padaku…menggunakan daya tariknya untuk memikatku…manis wangi parfum yang bersumber dari tubuhnya menyergap penciumanku…
“ Revo… apa kamu nggak ingat pada kenangan-kenangan indah kita dulu…?, mengapa kamu jadi berubah sejak bergaul dengan Ikhsan… diakah yang telah menjadi racun diantara kita…? “, lurus mata indah itu menatapku tajam, menanti jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.
“ Aku tahu kamu tidak akan pernah puas dengan jawaban-jawabanku… karena pernyataan itu tak pernah ada dalam logika berfikirmu… aku sudah mencoba jujur padamu dengan mengatakan alasan yang sebenarnya… Va, aku nggak mau jadi muslim munafik…yang maunya mentaati perintah yang aku bisa dan aku suka saja, tapi menolak mengindahkan hal-hal yang Allah benci untuk ditinggalkan…”, kutarik tanganku dan kuatur jarak agar hatiku dapat lebih tentram menyampaikan isi hatiku padanya.
“ Va, aku tetap sayang Neva… dan Aku ingin menyayangi Neva dengan cara yang Allah ridhoi…, aku tahu telah begitu banyak kekhilafan yang telah kita lakukan bersama… kekhilafan yang harus aku tinggalkan kala aku telah tersadarkan … dan Ikhsan adalah salah satu dari sekian banyak orang yang telah membantu aku untuk teguh dengan komitmen perbaikan diri…”, kutarik nafas panjang perlahan…
“ Aku harap kamu mengerti, betapa aku nggak ingin menyia-nyiakan sisa hidup ini dengan kesia-siaan yang hanya akan menjadi penyesalan kita di akhirat nanti… Aku bersyukur hidayah itu telah datang dan memotivasi aku untuk yakin mengambil keputusan ini… walau ini berarti aku harus rela kehilangan orang yang sangat aku sayangi karena aku tahu sesungguhnya aku nggak akan benar-benar kehilangan… aku nggak akan benar-benar kehilangan, karena setelah ini aku berharap kita masih akan terus menyambung tali silaturohim ini… aku akan tetap jadi teman kamu… teman yang akan ada untuk kamu saat kamu butuhkan, percayalah…”, Neva tertegun sesaat, lalu membuang pandangan ke meja yang memisahkan kami.
“ Tak ada satupun kenangan kita yang aku lupakan,Va… dan untuk segala yang telah aku lakukan padamu, aku minta maaf… aku tahu maaf saja tidak akan pernah cukup untuk mengurai apa yang telah aku rajut bersamamu sebelas tahun terakhir ini… aku tidak memaksamu melupakan apa-apa saja yang telah terjadi di antara kita, karena bagi orang kebanyakan kisah kita memang amatlah manis untuk dihapus dari ingatan… aku…aku…aku hanya bisa minta maaf padamu dan mohon ampun pada Yang Maha Kuasa atas apa yang telah aku perbuat selama ini…”, kuteguk minuman dingin yang ada dihadapanku… Neva masih membuang tatapannya… tak sedikit pun dia berusaha mengangkat wajahnya seperti yang biasa dia lakukan kala menantangku.
“ Kamu gadis yang baik Va, aku bahagia bisa melewati hari-hari bersamamu… walau belakangan ini aku sedikit kecewa dengan tindakanmu… namun aku berusaha memaklumi kekalutan di jiwamu, sungguh… aku lakukan ini bukan karena aku bosan padamu, atau ada wanita lain yang mengusik hatiku…kuharap kamu mengerti sekarang, mengapa aku lakukan semua ini…”, kembali kuteguk minumanku…
“ Aku harus pergi…”, bisiknya lirih…
“ Va, kamu maafin aku kan…? “, kejarku , saat dia hendak bergegas meninggalkan meja.
“ Va, jawab pertanyaanku…! “, aku turut berdiri dan mencoba menghalanginya.
“ Ntahlah, Vo… banyak hal yang sungguh aku nggak ngerti… tapi ada satu hal yang aku ingin kamu tahu… aku menghargai keputusanmu… aku perlu waktu untuk mencerna kata-katamu… setidaknya apa yang kau katakan padaku barusan telah menjelaskan bahwa aku tidak kau campakan… karena selama ini, itulah yang kurasakan… dan Revo, kumohon… tepati kata-katamu untuk selalu jadi temanku… itu saja… “, selepas mengatakan itu Neva pun berlalu… Aku menarik nafas lega… Neva sayang, cepat atau lambat kau akan mengerti, hidup ini begitu singkat untuk disia-siakan… Allah telah mengatur dengan sebaik-baik dan seindah-indah cara untuk menyatukan hamba-hamba_Nya… dengan siapa, di mana bahkan kapan waktunya…semua telah diatur oleh_Nya, lantas mengapa kita harus berlaga sok tahu untuk mencari-cari sendiri pasangan hidup kita, hingga memboroskan waktu yang sebetulnya dapat dialihkan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dan mendatangkan keridhoan_Nya. Jika saatnya tiba… akan dengan mudah Dia mencenderungkan hati ini… akan dengan mudah Dia lapangkan jalannya… dan pilihannya adalah yang terbaik untuk kita, karena Dia memberi sesuai kebutuhan … bukan keinginan… Bye Neva, I’ll always love you coz Allah…
( Pontianak, 12 April 2004, 01.40 dini hari…)
Posted at 20.20 | Label: Friendship Series | 1 Comments
Kejutan Oky
Kejutan Oky
“ Cari Mas Oky ya, Mbak ?, “ tanya Noni yang tiba-tiba muncul dari balik pintu timur auditorium.
“ Hm, nggak tuh… , “ jawabku sekenanya . Noni mangut-mangut…
“ … yakin Mbak, nggak cari Mas Oky…? “ kejarnya lagi… aneh juga nih anak…
“ …Iya , nggak nyari dia, tepatnya memang tidak sedang mencari siapa-siapa, memangnya kenapa…? “ tanyaku dengan nada sedikit penasaran… Noni cengar-cengir sesaat…
“ Nggak kenapa-napa sih, Mbak…Cuma perasaan, dari tadi setiap yang datang kesini selaluuuuu yang dicari Mas Oky , jadi kali-kali aja Mbak kesini buat nyari Mas Oky juga… “ jawab si mungil sambil malu hati karena udah ngotot nuduh-nuduh seniornya.
Pfuiff, Oky lagi Oky lagi… kali ini hutang apa lagi tuh anak…
Tiba-tiba…
“ Eh, hei Wi… Assalamu’alaikum, … plis Wi, bantuin ane… plis plis… plis banget ya…!!! “ Oky kembali mengatur nafasnya yang semula naik turun tak karuan…
“ Wi, ane butuh pinjaman uang… ga banyak kok… cuma sejuta…”, sejuta…? Ga banyak…? Kali ini untuk apa lagi … ?, bukannya tiga hari yang lalu baru selesai melunasi hutangnya yang lima ratus ribu padaku…
“ Buat apa sih,Ky… ?”, tanyaku penasaran…
“ Ada deh… yang pasti kamu ga’ akan ketinggalan aku undang kalau persiapannya udah beres…”, jawabnya misterius…
“ …kok gitu sih jawabannya… aku kan sohibmu Ky, kalau ada apa-apa sama kamu setidaknya kan aku bisa membantu…”, balasku tersinggung dengan jawabannya yang sok misterius…
“ …nah itu dia, aku butuh bantuanmu untuk minjami aku uang satu juta, insya Allah akhir bulan ini segera aku lunasi… tapi kalau kamu ga’ keberatan awal bulan depan aja,ya…he he he…”, huh… sebel, masih sempat ngajak becanda lagi…
“ Aku ga’ bawa uangnya sekarang… kalau emang darurat banget, kamu aja yang ambil sendiri di ATM depan… nih ambil, kamu masih ingat pin nya kan…!”, aku menyodorkan kartu ATM_ku yang emang sudah rada lusuh lantaran sering berpindah tangan.
“ Oke, Syukran Jiddan ya Ukh…pasti kukabari… tapi ga sekarang … jangan manyun gitu dong…”, dia pun berlalu seraya mengucapkan salam buat semua yang ada di ruangan…
Selalu begitu… infirodhi… suka kerja sendiri… kalau udah terjadi apa-apa baru deh kelimpungan… Bundanya, Tante Dini juga sering mengeluh kok bisa-bisanya punya anak yang doyan bikin kejutan kaya’ Oky… kalo kejutannya selalu happy ending sih, oke-oke aja… tapi kalo rada nyeleneh dan berujung prahara, uiiihh… tuh anak emang yang paling bisa…!!!
Well, aku dan Oky emang teman lama… sangat lama bahkan basi banget karena kami sudah berteman sejak masih orok… tuh, keren kan…!!! Ga ada yang mau ngaku ini ide siapa… ketika dua bersahabat Tante Dini dan Mamaku kompakan melahirkan di hari dan rumah sakit yang sama. Emang sih, si Oky menang dua puluh menit dari aku soal siapa duluan yang bikin heboh ruangan persalinan dengan jeritan kita, tapi semua orang yang kenal kami percaya kalo Oky tuh jauuuuuh lebih panjang masa kanak-kanaknya dari pada aku… Ya, itu karena dia childish banget… kolokan lagi… sama aku yang anak tetangga aja dia kolokan… apa lagi sama ortu nya…!!!, dan celakanya saudara-saudara… setelah melahirkan Oky, Tante Dini terserang kanker rahim dan ga’ bisa melahirkan lagi. Peranakannya terpaksa harus diangkat untuk menyelamatkan jiwanya… eng ing eng : jadilah Aerioky Fairish Prasetyo satu-satunya anak laki-laki paling ajaib koleksian Tante Dini… tanpa saingan dan ga’ akan tersaingi… aih, amit-amit banget nyaingin dia…
Hik, Sory Ky… aku ga’ bermaksud ngejelek-jelekin kamu… walau sejujurnya kamu emang rada aneh dibanding cowok-cowok lain. Well, bagaimanapun juga sekarang kamu udah hijrah en bertekad jadi cowok sholeh yang dicintai Allah, Rasul dan orang-orang beriman … teguh dengan komitmen dan semangat juang menegakkan nilai-nilai kebenaran di muka bumi… maafin aku karena emang suka rada rese’ sama kamu… mungkin karena kita udah begitu lama sohiban … jadi ga’ cuma yang baik-baiknya aja tentang kamu yang kutau, tapi yang amburadulnya juga aku sudah hapal… he he he…
Gimana ga’ childish coba, kalo setiap kali sakit minta dikelonin bobo’nya… gimana ga’ di bilang kolokan, kalau sampe sekarang masih sering makan disuapin Bunda… alasannya sih ga’ sempat ngambil makan sendiri… , bukan itu aja… beli baju aja mesti bareng bokap atau nyokap… ga’ pernah bisa belanja sendiri… dulu-dulu sih sebelum jadi akhwat begini, aku oke-oke aja nemeni dia ke mall dengan imbalan ditraktir makan di resto atau kalau ga’ , ya nonton film baru di biokop… sekarang sih ogah… kaya’nya ga’ bakalan nolongin ke syurga deh kalo sekedar nemani bocah gede manja pergi belanja… tapi senengnya Oky tuh ga pelit-pelit amat, ga jarang lho aku nerima kado kejutan, namanya kejutan ya waktunya ga disangka-sangka… tapi sebelnya isinya itu yang suka nyeleneh en kadang ga sesuai kebutuhan… udah tau orang lagi program diet, eh malah dihadiahi tobleron… ga’ ku ku kan…(alasan dia sih, karena program dietku udah kelewat kejam), trus udah tau kalo aku paling alergi berat sama yang namanya puisi or sastra-sastra yang njelimet githu, eh dia malah dengan pedenya ngasih aku rekaman baca puisinya yang katanya menang lomba di kecamatan … ga manfaat banget kan…??? (kalo ini, alasannya karena ga baik kalo kita ga suka sastra, sastra itu kan bisa bikin lembut hati, Al_Quran aja sastranya tingkat tinggi) belum lagi pita rambut saat aku cepak (dia bilang,cewek cepak itu ga manis, huh sok kegantengan…) , atau buku diary padahal dia tahu aku benci nulis-nulis (menurut dia, menulis itu baik, untuk mengasah kepekaan jiwa dan mendokumentasikan berbagai peristiwa) … dan masih banyak lagi yang kutumpuk di kardus gudang belakang atau kusedekahin pada orang-orang yang lebih membutuhkan, seperti Mas Jody dan Mbak Dyan, dua kakakku yang hepi banget kala ketiban limpahan…
Waktu sekolah dulu, Oky pernah ngidupin petasan pas upacara bendera dengan alasan kado kejutan buat Pak Charles, Kasek yang ternyata ultah hari itu…, dia juga pernah memberi parsel berisikan lemon yang gede-gede buat Bu Nunung yang udah ngasi dia nilai sembilan untuk matematika, kenapa lemon…? Rupanya dia baru baca tips melangsingkan tubuh di majalah wanita, dan lemon hadiah yang tepat buat Bu Nunung yang gembrot, fikirnya… Tarisa, gadis model yang kebetulan sekelas dengan kami pun tak luput dari tingkah nyelenehnya…, dia pernah dapat hadiah frame yang cantik banget tapi di dalamnya ada badut berpose sok culun… terang aja Tarisa ngamuk, apa maksudnya ngasih do’I kado kaya‘ gitu…???, selain itu dia juga pernah mengorganisir anak-anak dengan predikat jawara lima besar dari tiap-tiap kelas untuk membentuk studyclub yang efektif membantu teman-teman yang rada ketinggalan pelajaran di luar jam sekolah. Tanpa dikira-kira dia malah menjadikan kesempatan itus sebagai medan persaingan untuk para bintang-bintang kelas tadi. Persaingan dalam berbuat kebaikan, mengajar dengan sabar dan bersemangat membagi ilmu yang dimiliki. Kepala sekolah salut sekali dengan idenya dan kalau tidak salah, tradisi yang dia inisiasi itu masih berlaku sampe sekarang.
Hya, itulah Oky… sohibku yang penuh dengan kejutan-kejutan…mungkin dia ga pernah bermaksud nyeleneh saat memberikan kejutan, hanya saja niat baiknya itu sering agak kurang pas waktunya atau emang kitanya aja yang ga peka dengan maksud kejutan yang dia buat. Btw, tetap ga seharusnya aku ngata-ngatain Oky… Afwan jiddan githu low.. !
“ Huk…huk… Assalamu’alaikum Wi…Oky, Wi… Oky…“, tiba-tiba Rere muncul sambil berlarian kearahku. Mulutnya komat-kamit sembari terengah-engah menstabilkan kembali pernafasannya. Wajahnya memerah, keringat bercucuran membasahi jilbab kaosnya.
“ …wa’alaikum salam… tenang Re, tarik nafas dalam-dalam deh… nih minum dulu…”, aku menyodorkan botol minum yang selalu kubawa kemana-mana dari dalam tasku. Rere meminumnya hingga habis… tarikan nafasnya perlahan kembali normal. Beberapa helai tisu telah basah dan terkulai pasrah dalam genggamannya…
“ …ada apa sih Re, ada apa dengan Oky…? “, tanyaku penasaran, setelah kondisi Rere telah menunjukkan tanda-tanda stabil.
“ Oky dikeroyok sama anak-anak Genk Sambal… “, Genk Sambal ? kok bisa…?
“ Ah masa sih Re…? emangnya si Oky cari gara-gara apa sama mereka ?, trus gimana ceritanya dia bisa jadi martabak telur eh babak belur gitu…? nah sekarang dia dimana…? Udah dilarikan ke klinik belum…? Butuh bantuan darah…? Golongannya masih AB kan…? Bundanya sudah dikash tahu …? Sekarang dia dalam keadaan sadar atau pingsan Re…? Duh, parah banget ya…? Berapa orang sih yang ngeroyok tuh anak…? Masa bisa kalah sih…? kan sudah sabuk hitam…!, payah nih si Oky… tapi dia ga ada niat balas dendam kan…?, tadi siapa aja yang nemeni dia berantem…? ga sendirian kan …?, aduh pasti berdarah-darah deh tuh… anak-anak Genk Sambal bawa senjata tajam ga…? Ga ada yang sampe game over githu kan…?…... “
“ Stop stop stop… kamu gimana sih Wi… nanyanya satu-satu dong… jangan maen berondong gitu… aku kan bukan terdakwa kasus korupsi milyaran rupiah… Ya sudah, sekarang kita sama-sama ke Klinik Nusa Indah… syukurnya saat kejadian ada Ridwan dan Jefry yang melihat dan melarikan Oky ke sana…”, Rere pun langsung menggelandang aku ikut dengannya menuju Klinik Nusa Indah yang tak begitu jauh dari komplek dosen di lingkungan sekitar kampusku.
Ruangan sederhana yang biasanya lengang itu kali ini tampak hiruk pikuk oleh anak-anak musholla kampus yang telah lebih dulu datang ke klinik. Ada Johan, Heru, Yudi, Amar dan tak ketinggalan Ridwan plus Jefry yang sudah nolongin Oky dari kroyokan anak-anak Genk Sambal.
“ Harap tenang ya Saudara-saudara, pasien perlu istirahat…sebaiknya jangan terlalu ramai yang menjenguk, gimana kalau gantian aja ntar sore… lagian sekarang pasiennya juga belum siuman…”, Zuster Anita dengan sabar memperingatkan anak-anak yang masih heboh membicarakan kronologis kejadian tak menyenangkan itu.
“ Iya, maaf Zuster, kita balik ke musholla aja dulu lagian sudah ada yang gantiin kita-kita nungguin Oky “, Johan angkat bicara mewakili anak-anak yang lain sambil pasang isyarat ke arahku yang dia maksud datang menggantikan mereka menjaga Oky. Anak–anak bersiap akan meninggalkan ruang klinik, sebelum benar-benar cabut aku menahan Ridwan dan Jefry buat nyeritain semuanya dengan komplit. Aku benar-benar penasaran nee…
“ Afwan Wi, sebelum colaps Oky keburu berpesan…kalau penyebab peristiwa ini tolong dirahasiakan dari siapa pun termasuk kamu… itu pula sebabnya Oky melarang kami menghubungi orang tuanya untuk memberitahukan tentang accident ini… “, Jefry coba menjelaskan… Bah, pake maen rahasia-rahasiaan lagi… nih anak emang ga ada kapok-kapoknya bikin masalah…
“ Iya,Wi… kita terlanjur udah janji sama Oky… kalau kamu emang penasaran, tunggu aja sampe dia sadar en cerita sendiri… kita udah terikat janji…”, timpal Ridwan menguatkan alasan Jefry.
“ Ya, sudah… biar Tiwi tunggu sampe Okynya sadar aja… jazakumullah ya…! “, aku pilih mengalah dan merelakan kepergian Jefry dan Ridwan yang sudah menolak berbagi cerita tentang musibah yang menimpa Oky padaku…
Ugh, plis deh Ky… kenapa sih harus pake acara bonyok-bonyokan begini segala…
Aku duduk lemas di samping ranjang klinik, di dekatku ada Rere yang mulai sibuk dengan hafalan haditsnya. Bekas-bekas pukulan tampak jelas pada pipi kanan Oky sedang pada sudut bibirnya yang pecah masih sesekali menitikkan darah. Lengan kemejanya juga robek. Ups ini kan kemeja yang jarang dipakai Oky… biasanya dia baru akan menggunakan kemeja ini pada momen-momen spesial seperti saat diundang pada ulang tahun perkawinan mama dan papaku bulan lalu. Lantas kenapa hari ini dia mengenakan setelan istimewa ini...? pake digebukin segala lagi… ada apa sih sebenarnya…?
Setelah satu setengah jam terkantuk-kantuk di sisi ranjangnya, Oky baru menunjukkan tanda-tanda siuman… matanya yang lebam perlahan-perlahan terbuka sedikit… mulutnya mulai komat-kamit ga jelas, sepertinya dia kesulitan bicara karena sudut-sudut bibirnya yang pecah tampak sangat perih…
“ Udah deh Ky, jangan ngomong apa-apa dulu… kamu istirahat aja yang banyak … biar lekas sembuh dan secepat mungkin kembali ke rumah, aku khawatir diteror sama Bunda kamu, ditanya-tanya seputar kamu yang ogah banget untuk aku jawab .”, Sebetulnya dibalik kekesalanku melihat jasad saudaraku yang sudah lecek ini ada juga rasa iba… gimana nggak, Oky kan selama ini terkenal baik dengan siapa aja… termasuk Genk Sambal, dia benar-benar bukan tipe yang suka nantang-nantangin berantem, tapi kenapa coba… kejadian seperti hari ini bisa terjadi. Ah,Oky…
Genk Sambal memang terkenal barbar, sebetulnya beberapa diantara mereka adalah kakak-kakak tingkat kami yang sudah di DO. Aktivitas dulunya sih ngeband, tapi karena ga pernah menang festival satu kali pun personil Geng Sambal satu persatu mulai menunjukkan gejala stress. Liat aja penampilan mereka yang primitif banget… harusnya mereka ke laut… jadi bajak laut githu… karena kalo di darat, benar-benar salah habitat. Tapi sebenarnya anak-anak Genk Sambal secara perseorangan ga’ horor-horor amat. Mereka respek kok sama anak-anak Musholla, apalagi Oky yang suka ngasih jatah kue lebih sisa acara-acara ke mereka. Lantas, kenapa hari ini jadi beringas…? Apa giliran Oky yang ngotot ngambil kue mereka sementara mereka ga sudi ngasih…? Aih, bukan Oky banget githu low… Aku masih bengong di sisi Oky, jujur aku penasaran dan gemes banget pengen ngorek informasi yang sahih dari mulutnya, tapi tentu aja aku ga tega maksain sudut-sudut bibir yang pecah itu buat komat-kamit nyeritain detail kejadian yang sebenarnya. Oky juga tampak serba salah, kentara kalau dia pengen ngomong sesuatu, tapi ga kuat…
“ Kasih kertas sama pensil aja,Wi…”, Rere menggoyang-goyangkan tas punggungku.
“ …tapi tangannya kan juga cedera,Re…”, jawabku dengan nada kasihan… di luar dugaan Oky mengangguk…
“ coba aja dulu…”, pintanya lirih… namun tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara gaduh. Aku urung mengeluarkan pensil dari tasku… Rere bergegas melihat apa yang terjadi. Aku meneruskan kembali mengambil kertas dan pensil untuk Oky…
“ … Gawat,Wi… Geng Sambal nyerbu kemari…!!! “, wajah Rere mendadak pucat… jelas-jelas panik dengan apa yang baru dilihatnya di luar. Bulu kudukku merinding… kertas dan pensil ditanganku jatuh seketika… hiiii syereeeem… so gimana neee… pada saat aku masih sibuk dengan kebingunganku, Bang Jali_ Master Genk Sambal tiba-tiba saja menerobos masuk ke ruangan. He, jangan dikira aku takut ya… masa mujahidah takut sama beginian… ga level, gemuruh genderang perang membahana di kepalaku… Aku sudah akan bersiap-siap melindungi Oky, sedang makhluk yang akan kulindungi ini tampak kalem-kalem saja, bahkan tersenyum menyambut Bang Jali. Subhanalloh… benar-benar mental mujahid sejati, mau mati aja masih pake senyum-senyum segala ke algojo Sambal_ sang eksekutor.
“ Eh,Ky… keadaan lu gimana… ya amplop sampe bonyok githu dikerjain Lontong ame Lupis “, dua staf Bang Jali yang punya nama asli Lilo Susanto dan Dudung Lubis.
“ gue denger Pete ame Terasi ikutan juga ya…”, sambarnya sok ngakrab. Terang aja aku jadi bengong… Pete…? Terasi…? Kaya’nya anggota baru deh, aku ga kenal tuh…! Oky masih tersenyum ramah…
“ Lu pasti payah ngomong ya… ya udah kagak usah ngomong… gue sama anak-anak kesini asli cuma pengen minta maap ame elu… Lontong, Lupis, Pete dan Terasi udah gue nasehatin tentang penting dan manfaatnya disunat… sekarang mereka udah pada mau kok…”, Ha…belom disunat…?
“ bai de wei, dengan kejadian ini lu ga lantas berubah pikiran buat nyiapin acara sunatan massal untuk anak-anak kampus kita kan, Ky…? “, tanya Bang Jali dengan ekspresi penuh harap. Oky menggeleng sambil tetap tersenyum manis…
“ Siiip, soalnya gue mau nitip adek bungsu gue yang juga belon disunat… boleh ya Ky…itung-itung sebagai imbalan gue udah nolongin lu mujukin anak-anak buah gue yang belum sunat biar mau ikutan acara sunatan massal anak-anak musholla…boleh ya Ky…”, pintanya memelas. Kali ini Oky mengangguk tanpa sedetik pun wajah itu lelah untuk memberikan senyuman…
“ Lu emang sohib gue Ky…!, sekarang gue dan anak-anak cabut dulu ye… kasian mereka udah nunggu lama di luar… sebenarnya sih mau gue ajak masuk, tapi dilarang ama Zuster Anita… alasannya sih bau badan kite yang katenye rada-rada pait bisa bikin lu pingsan lagi… ade-ade aja tuh Zuster… tapi ga masalah lah… lagian mereka ga keberatan kok ditemeni Zuster Anita di ruang tunggu… mereka titip salam buat lu… nah, gue sekarang cabut dulu,ye Ky… semoge cepat sembuh… biaye berobatnye lu yang tanggung dulu ye… Kas Geng Sambal lagi payah nee… ga papa kan… dah ya, Assalamu’alaikum…”, setelah berpamitan pada aku dan Rere, Bang Jali pun cabut beserta kru-kru yang emang bau badannya pahit selangit . Oky bilang sih mereka pada rajin mandi di empang dekat laboratorium belakang, tapi soal ganti baju… itu yang amat dengan sangat meragukan… weleh-weleh…
Kami sama-sama terdiam di ruangan Oky, bermacam-macam fikiran bermain di kepalaku… seberkas perasaan penasaran dan kesal di hati perlahan melayang pergi, meninggalkan rasa bangga dan salut pada seorang sahabat kecil bernama Oky…
Oky… Oky… sunatan massal tho…bo’ ya bilang-bilang githu loch…
(Pontianak,31 Maret 2005)
read more...
“ Cari Mas Oky ya, Mbak ?, “ tanya Noni yang tiba-tiba muncul dari balik pintu timur auditorium.
“ Hm, nggak tuh… , “ jawabku sekenanya . Noni mangut-mangut…
“ … yakin Mbak, nggak cari Mas Oky…? “ kejarnya lagi… aneh juga nih anak…
“ …Iya , nggak nyari dia, tepatnya memang tidak sedang mencari siapa-siapa, memangnya kenapa…? “ tanyaku dengan nada sedikit penasaran… Noni cengar-cengir sesaat…
“ Nggak kenapa-napa sih, Mbak…Cuma perasaan, dari tadi setiap yang datang kesini selaluuuuu yang dicari Mas Oky , jadi kali-kali aja Mbak kesini buat nyari Mas Oky juga… “ jawab si mungil sambil malu hati karena udah ngotot nuduh-nuduh seniornya.
Pfuiff, Oky lagi Oky lagi… kali ini hutang apa lagi tuh anak…
Tiba-tiba…
“ Eh, hei Wi… Assalamu’alaikum, … plis Wi, bantuin ane… plis plis… plis banget ya…!!! “ Oky kembali mengatur nafasnya yang semula naik turun tak karuan…
“ Wi, ane butuh pinjaman uang… ga banyak kok… cuma sejuta…”, sejuta…? Ga banyak…? Kali ini untuk apa lagi … ?, bukannya tiga hari yang lalu baru selesai melunasi hutangnya yang lima ratus ribu padaku…
“ Buat apa sih,Ky… ?”, tanyaku penasaran…
“ Ada deh… yang pasti kamu ga’ akan ketinggalan aku undang kalau persiapannya udah beres…”, jawabnya misterius…
“ …kok gitu sih jawabannya… aku kan sohibmu Ky, kalau ada apa-apa sama kamu setidaknya kan aku bisa membantu…”, balasku tersinggung dengan jawabannya yang sok misterius…
“ …nah itu dia, aku butuh bantuanmu untuk minjami aku uang satu juta, insya Allah akhir bulan ini segera aku lunasi… tapi kalau kamu ga’ keberatan awal bulan depan aja,ya…he he he…”, huh… sebel, masih sempat ngajak becanda lagi…
“ Aku ga’ bawa uangnya sekarang… kalau emang darurat banget, kamu aja yang ambil sendiri di ATM depan… nih ambil, kamu masih ingat pin nya kan…!”, aku menyodorkan kartu ATM_ku yang emang sudah rada lusuh lantaran sering berpindah tangan.
“ Oke, Syukran Jiddan ya Ukh…pasti kukabari… tapi ga sekarang … jangan manyun gitu dong…”, dia pun berlalu seraya mengucapkan salam buat semua yang ada di ruangan…
Selalu begitu… infirodhi… suka kerja sendiri… kalau udah terjadi apa-apa baru deh kelimpungan… Bundanya, Tante Dini juga sering mengeluh kok bisa-bisanya punya anak yang doyan bikin kejutan kaya’ Oky… kalo kejutannya selalu happy ending sih, oke-oke aja… tapi kalo rada nyeleneh dan berujung prahara, uiiihh… tuh anak emang yang paling bisa…!!!
Well, aku dan Oky emang teman lama… sangat lama bahkan basi banget karena kami sudah berteman sejak masih orok… tuh, keren kan…!!! Ga ada yang mau ngaku ini ide siapa… ketika dua bersahabat Tante Dini dan Mamaku kompakan melahirkan di hari dan rumah sakit yang sama. Emang sih, si Oky menang dua puluh menit dari aku soal siapa duluan yang bikin heboh ruangan persalinan dengan jeritan kita, tapi semua orang yang kenal kami percaya kalo Oky tuh jauuuuuh lebih panjang masa kanak-kanaknya dari pada aku… Ya, itu karena dia childish banget… kolokan lagi… sama aku yang anak tetangga aja dia kolokan… apa lagi sama ortu nya…!!!, dan celakanya saudara-saudara… setelah melahirkan Oky, Tante Dini terserang kanker rahim dan ga’ bisa melahirkan lagi. Peranakannya terpaksa harus diangkat untuk menyelamatkan jiwanya… eng ing eng : jadilah Aerioky Fairish Prasetyo satu-satunya anak laki-laki paling ajaib koleksian Tante Dini… tanpa saingan dan ga’ akan tersaingi… aih, amit-amit banget nyaingin dia…
Hik, Sory Ky… aku ga’ bermaksud ngejelek-jelekin kamu… walau sejujurnya kamu emang rada aneh dibanding cowok-cowok lain. Well, bagaimanapun juga sekarang kamu udah hijrah en bertekad jadi cowok sholeh yang dicintai Allah, Rasul dan orang-orang beriman … teguh dengan komitmen dan semangat juang menegakkan nilai-nilai kebenaran di muka bumi… maafin aku karena emang suka rada rese’ sama kamu… mungkin karena kita udah begitu lama sohiban … jadi ga’ cuma yang baik-baiknya aja tentang kamu yang kutau, tapi yang amburadulnya juga aku sudah hapal… he he he…
Gimana ga’ childish coba, kalo setiap kali sakit minta dikelonin bobo’nya… gimana ga’ di bilang kolokan, kalau sampe sekarang masih sering makan disuapin Bunda… alasannya sih ga’ sempat ngambil makan sendiri… , bukan itu aja… beli baju aja mesti bareng bokap atau nyokap… ga’ pernah bisa belanja sendiri… dulu-dulu sih sebelum jadi akhwat begini, aku oke-oke aja nemeni dia ke mall dengan imbalan ditraktir makan di resto atau kalau ga’ , ya nonton film baru di biokop… sekarang sih ogah… kaya’nya ga’ bakalan nolongin ke syurga deh kalo sekedar nemani bocah gede manja pergi belanja… tapi senengnya Oky tuh ga pelit-pelit amat, ga jarang lho aku nerima kado kejutan, namanya kejutan ya waktunya ga disangka-sangka… tapi sebelnya isinya itu yang suka nyeleneh en kadang ga sesuai kebutuhan… udah tau orang lagi program diet, eh malah dihadiahi tobleron… ga’ ku ku kan…(alasan dia sih, karena program dietku udah kelewat kejam), trus udah tau kalo aku paling alergi berat sama yang namanya puisi or sastra-sastra yang njelimet githu, eh dia malah dengan pedenya ngasih aku rekaman baca puisinya yang katanya menang lomba di kecamatan … ga manfaat banget kan…??? (kalo ini, alasannya karena ga baik kalo kita ga suka sastra, sastra itu kan bisa bikin lembut hati, Al_Quran aja sastranya tingkat tinggi) belum lagi pita rambut saat aku cepak (dia bilang,cewek cepak itu ga manis, huh sok kegantengan…) , atau buku diary padahal dia tahu aku benci nulis-nulis (menurut dia, menulis itu baik, untuk mengasah kepekaan jiwa dan mendokumentasikan berbagai peristiwa) … dan masih banyak lagi yang kutumpuk di kardus gudang belakang atau kusedekahin pada orang-orang yang lebih membutuhkan, seperti Mas Jody dan Mbak Dyan, dua kakakku yang hepi banget kala ketiban limpahan…
Waktu sekolah dulu, Oky pernah ngidupin petasan pas upacara bendera dengan alasan kado kejutan buat Pak Charles, Kasek yang ternyata ultah hari itu…, dia juga pernah memberi parsel berisikan lemon yang gede-gede buat Bu Nunung yang udah ngasi dia nilai sembilan untuk matematika, kenapa lemon…? Rupanya dia baru baca tips melangsingkan tubuh di majalah wanita, dan lemon hadiah yang tepat buat Bu Nunung yang gembrot, fikirnya… Tarisa, gadis model yang kebetulan sekelas dengan kami pun tak luput dari tingkah nyelenehnya…, dia pernah dapat hadiah frame yang cantik banget tapi di dalamnya ada badut berpose sok culun… terang aja Tarisa ngamuk, apa maksudnya ngasih do’I kado kaya‘ gitu…???, selain itu dia juga pernah mengorganisir anak-anak dengan predikat jawara lima besar dari tiap-tiap kelas untuk membentuk studyclub yang efektif membantu teman-teman yang rada ketinggalan pelajaran di luar jam sekolah. Tanpa dikira-kira dia malah menjadikan kesempatan itus sebagai medan persaingan untuk para bintang-bintang kelas tadi. Persaingan dalam berbuat kebaikan, mengajar dengan sabar dan bersemangat membagi ilmu yang dimiliki. Kepala sekolah salut sekali dengan idenya dan kalau tidak salah, tradisi yang dia inisiasi itu masih berlaku sampe sekarang.
Hya, itulah Oky… sohibku yang penuh dengan kejutan-kejutan…mungkin dia ga pernah bermaksud nyeleneh saat memberikan kejutan, hanya saja niat baiknya itu sering agak kurang pas waktunya atau emang kitanya aja yang ga peka dengan maksud kejutan yang dia buat. Btw, tetap ga seharusnya aku ngata-ngatain Oky… Afwan jiddan githu low.. !
“ Huk…huk… Assalamu’alaikum Wi…Oky, Wi… Oky…“, tiba-tiba Rere muncul sambil berlarian kearahku. Mulutnya komat-kamit sembari terengah-engah menstabilkan kembali pernafasannya. Wajahnya memerah, keringat bercucuran membasahi jilbab kaosnya.
“ …wa’alaikum salam… tenang Re, tarik nafas dalam-dalam deh… nih minum dulu…”, aku menyodorkan botol minum yang selalu kubawa kemana-mana dari dalam tasku. Rere meminumnya hingga habis… tarikan nafasnya perlahan kembali normal. Beberapa helai tisu telah basah dan terkulai pasrah dalam genggamannya…
“ …ada apa sih Re, ada apa dengan Oky…? “, tanyaku penasaran, setelah kondisi Rere telah menunjukkan tanda-tanda stabil.
“ Oky dikeroyok sama anak-anak Genk Sambal… “, Genk Sambal ? kok bisa…?
“ Ah masa sih Re…? emangnya si Oky cari gara-gara apa sama mereka ?, trus gimana ceritanya dia bisa jadi martabak telur eh babak belur gitu…? nah sekarang dia dimana…? Udah dilarikan ke klinik belum…? Butuh bantuan darah…? Golongannya masih AB kan…? Bundanya sudah dikash tahu …? Sekarang dia dalam keadaan sadar atau pingsan Re…? Duh, parah banget ya…? Berapa orang sih yang ngeroyok tuh anak…? Masa bisa kalah sih…? kan sudah sabuk hitam…!, payah nih si Oky… tapi dia ga ada niat balas dendam kan…?, tadi siapa aja yang nemeni dia berantem…? ga sendirian kan …?, aduh pasti berdarah-darah deh tuh… anak-anak Genk Sambal bawa senjata tajam ga…? Ga ada yang sampe game over githu kan…?…... “
“ Stop stop stop… kamu gimana sih Wi… nanyanya satu-satu dong… jangan maen berondong gitu… aku kan bukan terdakwa kasus korupsi milyaran rupiah… Ya sudah, sekarang kita sama-sama ke Klinik Nusa Indah… syukurnya saat kejadian ada Ridwan dan Jefry yang melihat dan melarikan Oky ke sana…”, Rere pun langsung menggelandang aku ikut dengannya menuju Klinik Nusa Indah yang tak begitu jauh dari komplek dosen di lingkungan sekitar kampusku.
Ruangan sederhana yang biasanya lengang itu kali ini tampak hiruk pikuk oleh anak-anak musholla kampus yang telah lebih dulu datang ke klinik. Ada Johan, Heru, Yudi, Amar dan tak ketinggalan Ridwan plus Jefry yang sudah nolongin Oky dari kroyokan anak-anak Genk Sambal.
“ Harap tenang ya Saudara-saudara, pasien perlu istirahat…sebaiknya jangan terlalu ramai yang menjenguk, gimana kalau gantian aja ntar sore… lagian sekarang pasiennya juga belum siuman…”, Zuster Anita dengan sabar memperingatkan anak-anak yang masih heboh membicarakan kronologis kejadian tak menyenangkan itu.
“ Iya, maaf Zuster, kita balik ke musholla aja dulu lagian sudah ada yang gantiin kita-kita nungguin Oky “, Johan angkat bicara mewakili anak-anak yang lain sambil pasang isyarat ke arahku yang dia maksud datang menggantikan mereka menjaga Oky. Anak–anak bersiap akan meninggalkan ruang klinik, sebelum benar-benar cabut aku menahan Ridwan dan Jefry buat nyeritain semuanya dengan komplit. Aku benar-benar penasaran nee…
“ Afwan Wi, sebelum colaps Oky keburu berpesan…kalau penyebab peristiwa ini tolong dirahasiakan dari siapa pun termasuk kamu… itu pula sebabnya Oky melarang kami menghubungi orang tuanya untuk memberitahukan tentang accident ini… “, Jefry coba menjelaskan… Bah, pake maen rahasia-rahasiaan lagi… nih anak emang ga ada kapok-kapoknya bikin masalah…
“ Iya,Wi… kita terlanjur udah janji sama Oky… kalau kamu emang penasaran, tunggu aja sampe dia sadar en cerita sendiri… kita udah terikat janji…”, timpal Ridwan menguatkan alasan Jefry.
“ Ya, sudah… biar Tiwi tunggu sampe Okynya sadar aja… jazakumullah ya…! “, aku pilih mengalah dan merelakan kepergian Jefry dan Ridwan yang sudah menolak berbagi cerita tentang musibah yang menimpa Oky padaku…
Ugh, plis deh Ky… kenapa sih harus pake acara bonyok-bonyokan begini segala…
Aku duduk lemas di samping ranjang klinik, di dekatku ada Rere yang mulai sibuk dengan hafalan haditsnya. Bekas-bekas pukulan tampak jelas pada pipi kanan Oky sedang pada sudut bibirnya yang pecah masih sesekali menitikkan darah. Lengan kemejanya juga robek. Ups ini kan kemeja yang jarang dipakai Oky… biasanya dia baru akan menggunakan kemeja ini pada momen-momen spesial seperti saat diundang pada ulang tahun perkawinan mama dan papaku bulan lalu. Lantas kenapa hari ini dia mengenakan setelan istimewa ini...? pake digebukin segala lagi… ada apa sih sebenarnya…?
Setelah satu setengah jam terkantuk-kantuk di sisi ranjangnya, Oky baru menunjukkan tanda-tanda siuman… matanya yang lebam perlahan-perlahan terbuka sedikit… mulutnya mulai komat-kamit ga jelas, sepertinya dia kesulitan bicara karena sudut-sudut bibirnya yang pecah tampak sangat perih…
“ Udah deh Ky, jangan ngomong apa-apa dulu… kamu istirahat aja yang banyak … biar lekas sembuh dan secepat mungkin kembali ke rumah, aku khawatir diteror sama Bunda kamu, ditanya-tanya seputar kamu yang ogah banget untuk aku jawab .”, Sebetulnya dibalik kekesalanku melihat jasad saudaraku yang sudah lecek ini ada juga rasa iba… gimana nggak, Oky kan selama ini terkenal baik dengan siapa aja… termasuk Genk Sambal, dia benar-benar bukan tipe yang suka nantang-nantangin berantem, tapi kenapa coba… kejadian seperti hari ini bisa terjadi. Ah,Oky…
Genk Sambal memang terkenal barbar, sebetulnya beberapa diantara mereka adalah kakak-kakak tingkat kami yang sudah di DO. Aktivitas dulunya sih ngeband, tapi karena ga pernah menang festival satu kali pun personil Geng Sambal satu persatu mulai menunjukkan gejala stress. Liat aja penampilan mereka yang primitif banget… harusnya mereka ke laut… jadi bajak laut githu… karena kalo di darat, benar-benar salah habitat. Tapi sebenarnya anak-anak Genk Sambal secara perseorangan ga’ horor-horor amat. Mereka respek kok sama anak-anak Musholla, apalagi Oky yang suka ngasih jatah kue lebih sisa acara-acara ke mereka. Lantas, kenapa hari ini jadi beringas…? Apa giliran Oky yang ngotot ngambil kue mereka sementara mereka ga sudi ngasih…? Aih, bukan Oky banget githu low… Aku masih bengong di sisi Oky, jujur aku penasaran dan gemes banget pengen ngorek informasi yang sahih dari mulutnya, tapi tentu aja aku ga tega maksain sudut-sudut bibir yang pecah itu buat komat-kamit nyeritain detail kejadian yang sebenarnya. Oky juga tampak serba salah, kentara kalau dia pengen ngomong sesuatu, tapi ga kuat…
“ Kasih kertas sama pensil aja,Wi…”, Rere menggoyang-goyangkan tas punggungku.
“ …tapi tangannya kan juga cedera,Re…”, jawabku dengan nada kasihan… di luar dugaan Oky mengangguk…
“ coba aja dulu…”, pintanya lirih… namun tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara gaduh. Aku urung mengeluarkan pensil dari tasku… Rere bergegas melihat apa yang terjadi. Aku meneruskan kembali mengambil kertas dan pensil untuk Oky…
“ … Gawat,Wi… Geng Sambal nyerbu kemari…!!! “, wajah Rere mendadak pucat… jelas-jelas panik dengan apa yang baru dilihatnya di luar. Bulu kudukku merinding… kertas dan pensil ditanganku jatuh seketika… hiiii syereeeem… so gimana neee… pada saat aku masih sibuk dengan kebingunganku, Bang Jali_ Master Genk Sambal tiba-tiba saja menerobos masuk ke ruangan. He, jangan dikira aku takut ya… masa mujahidah takut sama beginian… ga level, gemuruh genderang perang membahana di kepalaku… Aku sudah akan bersiap-siap melindungi Oky, sedang makhluk yang akan kulindungi ini tampak kalem-kalem saja, bahkan tersenyum menyambut Bang Jali. Subhanalloh… benar-benar mental mujahid sejati, mau mati aja masih pake senyum-senyum segala ke algojo Sambal_ sang eksekutor.
“ Eh,Ky… keadaan lu gimana… ya amplop sampe bonyok githu dikerjain Lontong ame Lupis “, dua staf Bang Jali yang punya nama asli Lilo Susanto dan Dudung Lubis.
“ gue denger Pete ame Terasi ikutan juga ya…”, sambarnya sok ngakrab. Terang aja aku jadi bengong… Pete…? Terasi…? Kaya’nya anggota baru deh, aku ga kenal tuh…! Oky masih tersenyum ramah…
“ Lu pasti payah ngomong ya… ya udah kagak usah ngomong… gue sama anak-anak kesini asli cuma pengen minta maap ame elu… Lontong, Lupis, Pete dan Terasi udah gue nasehatin tentang penting dan manfaatnya disunat… sekarang mereka udah pada mau kok…”, Ha…belom disunat…?
“ bai de wei, dengan kejadian ini lu ga lantas berubah pikiran buat nyiapin acara sunatan massal untuk anak-anak kampus kita kan, Ky…? “, tanya Bang Jali dengan ekspresi penuh harap. Oky menggeleng sambil tetap tersenyum manis…
“ Siiip, soalnya gue mau nitip adek bungsu gue yang juga belon disunat… boleh ya Ky…itung-itung sebagai imbalan gue udah nolongin lu mujukin anak-anak buah gue yang belum sunat biar mau ikutan acara sunatan massal anak-anak musholla…boleh ya Ky…”, pintanya memelas. Kali ini Oky mengangguk tanpa sedetik pun wajah itu lelah untuk memberikan senyuman…
“ Lu emang sohib gue Ky…!, sekarang gue dan anak-anak cabut dulu ye… kasian mereka udah nunggu lama di luar… sebenarnya sih mau gue ajak masuk, tapi dilarang ama Zuster Anita… alasannya sih bau badan kite yang katenye rada-rada pait bisa bikin lu pingsan lagi… ade-ade aja tuh Zuster… tapi ga masalah lah… lagian mereka ga keberatan kok ditemeni Zuster Anita di ruang tunggu… mereka titip salam buat lu… nah, gue sekarang cabut dulu,ye Ky… semoge cepat sembuh… biaye berobatnye lu yang tanggung dulu ye… Kas Geng Sambal lagi payah nee… ga papa kan… dah ya, Assalamu’alaikum…”, setelah berpamitan pada aku dan Rere, Bang Jali pun cabut beserta kru-kru yang emang bau badannya pahit selangit . Oky bilang sih mereka pada rajin mandi di empang dekat laboratorium belakang, tapi soal ganti baju… itu yang amat dengan sangat meragukan… weleh-weleh…
Kami sama-sama terdiam di ruangan Oky, bermacam-macam fikiran bermain di kepalaku… seberkas perasaan penasaran dan kesal di hati perlahan melayang pergi, meninggalkan rasa bangga dan salut pada seorang sahabat kecil bernama Oky…
Oky… Oky… sunatan massal tho…bo’ ya bilang-bilang githu loch…
(Pontianak,31 Maret 2005)
Posted at 20.18 | Label: Friendship Series | 1 Comments
Langganan:
Postingan (Atom)





