Tampilkan postingan dengan label Cermin Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin Series. Tampilkan semua postingan
Bangun Dong,Rien…!!!
Bangun Dong,Rien…!!!
By. Afra Zahra Rifa’i
“ Rien, kamu ke kampusnya bareng siapa…?, aku nebeng…ups… “, Mara serta merta menghentikan kalimatnya. Rien masih bergelung di dalam selimut tebalnya, belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan… gadis semester enam itu hanya bisa tersenyum tipis dan berlalu dari kamar teman kosnya… Rien balik malas seperti dulu lagi nih,fikirnya… habis shubuh nerusin tidur lagi sampai beberapa menit menjelang masuk kuliah…
Sebetulnya Mara tidak tega melihat sohibnya sering ditegur dosen setiap kali terlambat masuk kelas, tapi kalau dibangunin pagi-pagi gadis itu sering ngamuk-ngamuk tak karuan… yang pusing kepala lah… yang masih lemas belum bisa bergerak lah… makanya Mara senang sekali ketika Rien terekrut di remaja masjid dekat kos-kosan beberapa bulan lalu, sohibnya yang manis itu tiba-tiba kehilangan kebiasaannya… sehabis sholat shubuh, Rien biasanya ikut kuliah shubuh di masjid dekat rumah terus melanjutkan aktivitas dengan bersih-bersih masjid bareng remaja masjid lainnya atau rapat membicarakan program syiar dan semacamnya… biasanya dia juga ikutan tilawah bersama sambil menunggu dhuha… selesai semua aktivitas baru deh mereka pulang ke rumah en siap-siap kuliah plus menjalani aktivitas lain yang tak kalah fullnya di kampus. But now… sejak kegiatan remaja masjid mulai kendor karena aktivitas masing-masing personilnya Rien serta merta kembali ke kebiasaan lamanya… Mara betul-betul prihatin melihat sahabat tersayangnya…
* $ *
Suasana musholla masih tenang seperti biasa, maklum masih relatif pagi dan baru akan mulai ramai di jam istirahat pertama… kebanyakan yang datang sekedar numpang duduk-duduk sambil makan makanan ringan, maklum…kantin selalu penuh sesak dengan mahasiswa yang tak sempat sarapan sebelum berangkat kuliah… selebihnya lagi ada juga yang sholat dhuha atau janji bertemu untuk minjam buku, nyalin catatan, ngerjain tugas dan sejenisnya…
“ Assalammu’alaikum, Afwan bisa tolong panggilin ukhti Rien…”, pinta sebuah suara dari balik hijab yang memisahkan zona ikhwan dan akhowat .
“ Wa’alaikumsalam…Ukhti Rien belum datang, mungkin langsung ke kelas…coba lagi di istirahat pertama aja…”, usul Mara.
“ Oke deh, by the way kalau Anti ada bertemu Ukhti Rien , tolong sampaikan padanya Zaky mau konfirmasi tentang jadwal Rapat Rutin Bidang Litbang Pasca Lebaran… Jazakillah ya…! “
“ Wa iyyaka, insya Allah Ana sekelas dengan Ukhti Rien, Insya Allah nanti akan Ana sampaikan pesannya…”, janjinya… Sebelum beranjak dari balik hijab gadis itu menyempatkan diri melirik ke arah jam digital di layar HPnya, Ups ternyata hampir setengah delapan. Syukurnya Amara sudah menyempatkan Dhuha tadi… namun tetap saja dia masih harus ambil langkah seribu sebelum Mr. Pasaribu mendahului gadis berkacamata minus dua itu menjejakkan kakinya di Ruang Melati, kelasnya di jam pertama,pagi ini…
* $ *
Ketika Bel istirahat pertama berbunyi keadaan musholla persis seperti dugaan Amara pagi tadi… ramai, hiruk pikuk dengan salam-salaman plus maaf-maafan, maklum masih dalam suasana idul fitri… yang belum sempat silaturahim, yang baru pulang dari lebaran di kampung… semua-semua pada berebutan saling meminta ridho atas kekhilafannya selama ini… di sudut lain ada juga yang berdesakan antri buat sholat dhuha. Yah…musholla ini memang sudah lama triak-triak minta dibesarkan…tapi belum lagi sanggup dipenuhi para pengurus musholla, karena dana yang terkumpul belum seberapa…paling-paling cuma cukup untuk memperbaiki tempat wudhu akhwat dekat ruang kestari yang memang sudah agak-agak kurang layak…tapi don’t worry be happy, dengar-dengar tahun ini panitia perbaikan musholla sudah punya seabreg rencana dan rancangan strategi buat mengumpulkan dana sebuanyak-buanyaknya demi musholla tercinta, so please dech ukh, be patient githu…
Masih di ruang kestari musholla…
“ Please dech akh, Ana ngga bisa kalo rapatnya jam enam pagi… itu masih terlalu pagi… “, terdengar suara Rien meninggi.
“ …Tapi Bidang Pembinaan & Kaderisasi bisa… mereka rutin rapat setiap jam enam pagi di hari jumat…”, balas suara di balik hijab.
“… kenapa sih kita harus ikut-ikutan anak kaderisasi… kita ya kita, kaderisasi ya biar saja…”, Rien masih meninggikan suaranya…
“… kita bukannya ikut-ikutan, Ukh… Ana hanya bercermin dari Ukhti Amara dan staf-stafnya yang kebetulan teman sekelas Ana juga… mereka berhasil menyelesaikan kendala waktu rapat dengan menentukan jadwal rapat lebih pagi dari jam masuk kuliah…lantas kenapa kita tidak mencobanya juga..? ”, desak Zaky yang mulai ikutan tak sabaran menghadapi akhowat yang hanya terpisah sehelai kain tebal berwarna hijau tua di hadapannya.
“ Memangnya siapa aja yang setuju dengan usulan antum…! “, Rien balik mengejar…
“ Semua ikhwan, termasuk Ukhti Indy dan Ukhti Farah…!!! “, tegas Zaky
“ Farah juga…!!! “, Rien terkejut, selama ini Farah si adik tingkat memang yang paling dekat dan paling setia mendukung segala pendapatnya, termasuk yang berseberangan dengan Zaky, Bosnya.
“ So, gimana… Ana hanya tinggal menunggu persetujuan dari ukhti…”, kembali Zaky melembutkan suaranya… pemuda itu yakin, bukan debat kusir solusinya dan dia memang harus sabar menghadapi saudarinya yang rada vokal plus afwan…sedikit keras kepala… Keduanya terdiam, tepatnya Rien tertunduk lemas tanpa diketahui lawan bicaranya… sekilas ia melirik ke arah Amara yang menemaninya bicara saat ini. Gadis itu hanya diam saja dari tadi, karena memang sekedar menemani agar keduanya tidak berkhalwat alias berdua-duaan…Amara menganggukkan kepalanya pada Rien…
“…Insya Allah aku bantu deh…”, bisiknya ke telinga gadis belia itu… Rien menghela nafasnya dengan berat…
“ …demi dakwah , Rien… perjuangan ini membutuhkan pengorbanan, lagi pula Rasulullah kan memang tidak suka jika sahabatnya meneruskan tidur ba’da shubuh, hingga hukumnya jadi makruh… “, bisiknya lagi menguatkan sahabat di sisinya… dan gadis yang tampak manis mengenakan kerudung ungu muda bermotif bunga-bunga itu pun kian tertunduk…
“ Iiinsyaa…Allah…deh…”, sahutnya dengan suara ogah-ogahan…
“ Alhamdulillah…”, terdengar suara Zaky dipenuhi energi kelegaan …
“ So, kita mulai Jum’at besok ya Ukh…”, pemuda itu meneruskan kalimatnya…
“ Hah… secepat itu…!!!, pekan depan dong,Akh…”, kembali suara Rien panik dan meninggi…
“ …pekan depan sudah mid test… kita dikejar waktu, please Ukh…ini demi dakwah…bukan demi Ana…!!! “, Ups… Zaky kelepasan bicara… wajahnya seketika memerah…
“ Apa-apaan sih, tentu aja demi dakwah… ngapain juga demi antum !!! “, sambar Rien dengan nada sedikit tersinggung seraya menyembunyikan kepiting rebus yang kini mejeng di wajahnya…
“ …ya sudah, mulai besok ya…!!! “, putus akhowat itu berapi-api…
Amara yang sempat terkejut mendengar percakapan yang mulai ngawur itu bertakbir dalam hati melihat sang sohib kini bersemangat kembali…
“…iya sudah… besok ya…”, balas Zaky dengan suara ngga enak hati …nah,lho… ada apa ya…? Makanya Akh kalo ngomong hati-hati… salah-salah ngomong bisa jadi penyakit hati… Amara nyengir seraya beristighfar dalam hati… please dech, jangan buat masalah baru lagi… bisik Ketua Bidang Pembinaan & Kaderisasi Musholla itu dalam hati…(18 November 2005
Dedicated to All my beloved friends in Dakhwah’s way@UNTAN… Keep Istiqomah…!!! en miss U bgt…hiks…)
read more...
By. Afra Zahra Rifa’i
“ Rien, kamu ke kampusnya bareng siapa…?, aku nebeng…ups… “, Mara serta merta menghentikan kalimatnya. Rien masih bergelung di dalam selimut tebalnya, belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan… gadis semester enam itu hanya bisa tersenyum tipis dan berlalu dari kamar teman kosnya… Rien balik malas seperti dulu lagi nih,fikirnya… habis shubuh nerusin tidur lagi sampai beberapa menit menjelang masuk kuliah…
Sebetulnya Mara tidak tega melihat sohibnya sering ditegur dosen setiap kali terlambat masuk kelas, tapi kalau dibangunin pagi-pagi gadis itu sering ngamuk-ngamuk tak karuan… yang pusing kepala lah… yang masih lemas belum bisa bergerak lah… makanya Mara senang sekali ketika Rien terekrut di remaja masjid dekat kos-kosan beberapa bulan lalu, sohibnya yang manis itu tiba-tiba kehilangan kebiasaannya… sehabis sholat shubuh, Rien biasanya ikut kuliah shubuh di masjid dekat rumah terus melanjutkan aktivitas dengan bersih-bersih masjid bareng remaja masjid lainnya atau rapat membicarakan program syiar dan semacamnya… biasanya dia juga ikutan tilawah bersama sambil menunggu dhuha… selesai semua aktivitas baru deh mereka pulang ke rumah en siap-siap kuliah plus menjalani aktivitas lain yang tak kalah fullnya di kampus. But now… sejak kegiatan remaja masjid mulai kendor karena aktivitas masing-masing personilnya Rien serta merta kembali ke kebiasaan lamanya… Mara betul-betul prihatin melihat sahabat tersayangnya…
* $ *
Suasana musholla masih tenang seperti biasa, maklum masih relatif pagi dan baru akan mulai ramai di jam istirahat pertama… kebanyakan yang datang sekedar numpang duduk-duduk sambil makan makanan ringan, maklum…kantin selalu penuh sesak dengan mahasiswa yang tak sempat sarapan sebelum berangkat kuliah… selebihnya lagi ada juga yang sholat dhuha atau janji bertemu untuk minjam buku, nyalin catatan, ngerjain tugas dan sejenisnya…
“ Assalammu’alaikum, Afwan bisa tolong panggilin ukhti Rien…”, pinta sebuah suara dari balik hijab yang memisahkan zona ikhwan dan akhowat .
“ Wa’alaikumsalam…Ukhti Rien belum datang, mungkin langsung ke kelas…coba lagi di istirahat pertama aja…”, usul Mara.
“ Oke deh, by the way kalau Anti ada bertemu Ukhti Rien , tolong sampaikan padanya Zaky mau konfirmasi tentang jadwal Rapat Rutin Bidang Litbang Pasca Lebaran… Jazakillah ya…! “
“ Wa iyyaka, insya Allah Ana sekelas dengan Ukhti Rien, Insya Allah nanti akan Ana sampaikan pesannya…”, janjinya… Sebelum beranjak dari balik hijab gadis itu menyempatkan diri melirik ke arah jam digital di layar HPnya, Ups ternyata hampir setengah delapan. Syukurnya Amara sudah menyempatkan Dhuha tadi… namun tetap saja dia masih harus ambil langkah seribu sebelum Mr. Pasaribu mendahului gadis berkacamata minus dua itu menjejakkan kakinya di Ruang Melati, kelasnya di jam pertama,pagi ini…
* $ *
Ketika Bel istirahat pertama berbunyi keadaan musholla persis seperti dugaan Amara pagi tadi… ramai, hiruk pikuk dengan salam-salaman plus maaf-maafan, maklum masih dalam suasana idul fitri… yang belum sempat silaturahim, yang baru pulang dari lebaran di kampung… semua-semua pada berebutan saling meminta ridho atas kekhilafannya selama ini… di sudut lain ada juga yang berdesakan antri buat sholat dhuha. Yah…musholla ini memang sudah lama triak-triak minta dibesarkan…tapi belum lagi sanggup dipenuhi para pengurus musholla, karena dana yang terkumpul belum seberapa…paling-paling cuma cukup untuk memperbaiki tempat wudhu akhwat dekat ruang kestari yang memang sudah agak-agak kurang layak…tapi don’t worry be happy, dengar-dengar tahun ini panitia perbaikan musholla sudah punya seabreg rencana dan rancangan strategi buat mengumpulkan dana sebuanyak-buanyaknya demi musholla tercinta, so please dech ukh, be patient githu…
Masih di ruang kestari musholla…
“ Please dech akh, Ana ngga bisa kalo rapatnya jam enam pagi… itu masih terlalu pagi… “, terdengar suara Rien meninggi.
“ …Tapi Bidang Pembinaan & Kaderisasi bisa… mereka rutin rapat setiap jam enam pagi di hari jumat…”, balas suara di balik hijab.
“… kenapa sih kita harus ikut-ikutan anak kaderisasi… kita ya kita, kaderisasi ya biar saja…”, Rien masih meninggikan suaranya…
“… kita bukannya ikut-ikutan, Ukh… Ana hanya bercermin dari Ukhti Amara dan staf-stafnya yang kebetulan teman sekelas Ana juga… mereka berhasil menyelesaikan kendala waktu rapat dengan menentukan jadwal rapat lebih pagi dari jam masuk kuliah…lantas kenapa kita tidak mencobanya juga..? ”, desak Zaky yang mulai ikutan tak sabaran menghadapi akhowat yang hanya terpisah sehelai kain tebal berwarna hijau tua di hadapannya.
“ Memangnya siapa aja yang setuju dengan usulan antum…! “, Rien balik mengejar…
“ Semua ikhwan, termasuk Ukhti Indy dan Ukhti Farah…!!! “, tegas Zaky
“ Farah juga…!!! “, Rien terkejut, selama ini Farah si adik tingkat memang yang paling dekat dan paling setia mendukung segala pendapatnya, termasuk yang berseberangan dengan Zaky, Bosnya.
“ So, gimana… Ana hanya tinggal menunggu persetujuan dari ukhti…”, kembali Zaky melembutkan suaranya… pemuda itu yakin, bukan debat kusir solusinya dan dia memang harus sabar menghadapi saudarinya yang rada vokal plus afwan…sedikit keras kepala… Keduanya terdiam, tepatnya Rien tertunduk lemas tanpa diketahui lawan bicaranya… sekilas ia melirik ke arah Amara yang menemaninya bicara saat ini. Gadis itu hanya diam saja dari tadi, karena memang sekedar menemani agar keduanya tidak berkhalwat alias berdua-duaan…Amara menganggukkan kepalanya pada Rien…
“…Insya Allah aku bantu deh…”, bisiknya ke telinga gadis belia itu… Rien menghela nafasnya dengan berat…
“ …demi dakwah , Rien… perjuangan ini membutuhkan pengorbanan, lagi pula Rasulullah kan memang tidak suka jika sahabatnya meneruskan tidur ba’da shubuh, hingga hukumnya jadi makruh… “, bisiknya lagi menguatkan sahabat di sisinya… dan gadis yang tampak manis mengenakan kerudung ungu muda bermotif bunga-bunga itu pun kian tertunduk…
“ Iiinsyaa…Allah…deh…”, sahutnya dengan suara ogah-ogahan…
“ Alhamdulillah…”, terdengar suara Zaky dipenuhi energi kelegaan …
“ So, kita mulai Jum’at besok ya Ukh…”, pemuda itu meneruskan kalimatnya…
“ Hah… secepat itu…!!!, pekan depan dong,Akh…”, kembali suara Rien panik dan meninggi…
“ …pekan depan sudah mid test… kita dikejar waktu, please Ukh…ini demi dakwah…bukan demi Ana…!!! “, Ups… Zaky kelepasan bicara… wajahnya seketika memerah…
“ Apa-apaan sih, tentu aja demi dakwah… ngapain juga demi antum !!! “, sambar Rien dengan nada sedikit tersinggung seraya menyembunyikan kepiting rebus yang kini mejeng di wajahnya…
“ …ya sudah, mulai besok ya…!!! “, putus akhowat itu berapi-api…
Amara yang sempat terkejut mendengar percakapan yang mulai ngawur itu bertakbir dalam hati melihat sang sohib kini bersemangat kembali…
“…iya sudah… besok ya…”, balas Zaky dengan suara ngga enak hati …nah,lho… ada apa ya…? Makanya Akh kalo ngomong hati-hati… salah-salah ngomong bisa jadi penyakit hati… Amara nyengir seraya beristighfar dalam hati… please dech, jangan buat masalah baru lagi… bisik Ketua Bidang Pembinaan & Kaderisasi Musholla itu dalam hati…(18 November 2005
Dedicated to All my beloved friends in Dakhwah’s way@UNTAN… Keep Istiqomah…!!! en miss U bgt…hiks…)
Posted at 20.06 | Label: Cermin Series | 1 Comments
Maya Oh, Maya...
Maya Oh, Maya...
By. Rizkika Izzati Hayya
“ …What, kamu nolak Maya…sakit jiwa… Maya gitu loch… Wilmayasha Amaradewi, anak 2IPA1, Bussyeeet... ”, Meo geleng – geleng kepala sesaat setelah menirukan gaya presenter TV favoritnya...
”... Ah, yang bener Gi... loe ga sedang bercanda kan...? jadi benar gossip yang beredar beberapa hari kemarin, kalo Maya cari – cari nomor HP loe... jadi beneran cover girl itu nembakin loe...?!?! ”, giliran Eza garuk – garuk kepala . Aku menarik nafas dalam – dalam... ga nyangka bakal terancam jadi selebritis Khatulistiwa High cuma gara – gara perihal sepele kaya’genee.. sekali lagi kutarik nafas dalam – dalam sebelum melangkah pergi meninggalkan cool corner tempat ngumpul anak - anak band yang katanya high quality jomblo bangeet, ntah versi siapa...
” ...Euy,Gi... say something dong... bagi – bagi jurus gitu… “, teriak Ben saat aku menghilang di balik pintu perpustakaan tak jauh dari pojok angker yang baru saja kutinggalkan…huh,siapa yang sakit jiwa sih sebenarnya…
Semua bermula sejak kehadiran Maya, si anak baru di kelas sebelah… physicly : perfect memang... smart lagi, gampang dideteksi dari nilai – nilai quiznya yang cakep abis… baik…? Iya, baik juga seeh, walau banyak yang suka rada keki sama kelebihan – kelebihan cewek pendatang baru itu,meski dia termasuk ramah, supel en asyik juga kayanya…
Jujur aja ya… aku sebenarnya simpati sama Maya. Cerdasnya kelihatan banget saat diajak diskusi… beberapa waktu lalu ga sengaja kita memang sering ketemu di depan dinding kaca tempat Koran pagi di pasang buat dibaca rame – rame sama siswa… sayangnya ga banyak anak yang tertarik cari tahu perkembangan terkini tentang negerinya… alhasil, segelintir yang langganan mampir sesaat di tempat itu jadi begitu mudah dikenali dan saling mengenal tentu saja…
Tak jarang gara – gara keasyikan ngebahas something, Kania sohib sekaligus sepupuku yang juga staf Keputrian Rohis itu pasang tampang jutek di kejauhan... Jealous…?, Ah Nia… semula aku ga begitu ambil pusing, setahuku Nia memang rada ketat urusan interaksi cowok – cewek… tapi aku kan cuma ngobrol aja… ga ada masalah pribadi pula… jangan negative thingking gitu dong, Sis…
Tak lama kemudian, gossip murahan itu pun mulai berhembus kemana – mana… Maya suka nanyain aku… Maya titip salam buat aku… Maya pengen gabung di Science Club Khatulistiwa High gara – gara aku… berita yang bikin gerah Ben cs karena dia yang paling getol deketin en cari-cari info tentang Maya, dia yang duluan pamer sikap : gue lagi on mission to ngegebet Maya...
Aku berusaha tetap rileks aja... buat aku Maya ga lebih bahkan ga sebanding dengan Nia dan teman – teman putri yang lebih dekat dengan aku sebelumnya... aku yakinkan Nia, kalo apa yang ia dengar selama ini cuma bisa – bisanya forbigos alias forum biang gosip lintas kelas yang baru – baru ini terakreditasi sukses bikin tambah runyam suasana... pfuifh, sudah nasibku barangkali...
Tapi sekali lagi, Maya memang gadis luar biasa...pada waktu – waktu luangnya sering kutemukan dia aktif di kegiatan sosial dan aktivitas bermanfaat yang umumnya dihindari remaja seusianya.... Masa bodo’lah fikir mereka... ngurusi diri sendiri aja belum beres sudah berani – berani ngurusi orang lain pula, fikir kebanyakan dari anak – anak muda itu...
Tak sekali dua kali aku bertemu Maya di kegiatan peduli anak jalanan...dia mengajari mereka membaca... menulis bahkan bernyanyi... suaranya yang indah menyempurnakan wajahnya yang good looking... tapi jangan harap karena itu semua aku luluh padanya...
Dia juga rutin mengunjungi Panti Jompo di pinggiran kota , untuk yang satu ini aku tahu dari Kak Tari yang juga relawan di sana. Tapi sekali lagi, tidak semudah itu seorang Algifari terperdaya... sungguh aku hanya simpati, tidak lebih dan tidak akan pernah lebih...
Kalian mau tahu kenapa... ini berawal sejak Ayah cedera kaki pasca kecelakaan kerja beberapa bulan yang lalu, kini tiap ahad pagi sepulang main basket di taman kota aku yang bertugas menemani ibu ke pasar untuk belanja kebutuhan rumah tangga selama sepekan bila Kak Tari harus berangkat keluar kota... tak jarang ketika kami berada di pasar aku berpapasan dengan para jemaat gereja besar di tengah kota yang sedang menuju ke sana untuk melakukan peribadatan rutin mereka... Nah, saat itulah aku berjumpa dengannya... sosok Maya yang dikagumi seantero Khatulistiwa High... setiap Ahad pagi dia dan keluarganya kujumpai turun dari sebuah mobil mewah dengan pakaian rapi siap mengikuti misa pagi... hya, dia seorang gadis nasrani yang taat, seorang gadis yang tak sekedar cantik tapi juga berbudi luhur dengan kepeduliannya pada sesama...
Sering aku berbagi dengan Nia, berharap dia mengerti dan menghentikan kasak – kusuk komentar iri para gadis di sekolah kami terhadap Maya. Daripada menggunjing tentangnya, lebih baik berlomba – lomba berbuat kebaikan, tentu saja ini akan lebih produktif hasilnya... Alhamdulillah, Nia cepat paham... walau tidak demikian dengan teman – teman lainnya.
” Afwan, Gi... Nia sudah su’udzon sama Algi... Nia yakin Algi bisa jaga hati... Algi juga bisa mengambil hikmah dari realita ini... Nia jadi malu, karena ternyata Maya lebih memiliki hati yang tulus untuk memberikan kepedulian pada sesama, sedang Nia masih suka asyik sendiri dengan kesibukan Nia...”, tuturnya perlahan mengakui kekhilafannya...
”...iya, Gi...akhowat – akhowat yang lain juga jadi lebih introspeksi diri sejak kehadiran Maya di tengah – tengah kita walau baru beberapa bulan ini...”, sambung Rizky, Ketua Divisi Keputrian Rohis tahun ini.
” ... Algi juga merasa masih harus berbuat lebih banyak lagi... Algi butuh teman – teman untuk bersinergi, Nia, Rizky dan yang lain siap terjun bersama Algi dalam program – program pengabdian masyarakat oleh Rohis plus Kru Science Club kita tahun ini kan...? ”, tanyaku... dan Alhamdulillah disambut anggukan mantap gadis berkerudung ungu muda itu diikuti teman – teman kami yang juga turut meramaikan percakapan menjelang senja di teras mushola...
read more...
By. Rizkika Izzati Hayya
“ …What, kamu nolak Maya…sakit jiwa… Maya gitu loch… Wilmayasha Amaradewi, anak 2IPA1, Bussyeeet... ”, Meo geleng – geleng kepala sesaat setelah menirukan gaya presenter TV favoritnya...
”... Ah, yang bener Gi... loe ga sedang bercanda kan...? jadi benar gossip yang beredar beberapa hari kemarin, kalo Maya cari – cari nomor HP loe... jadi beneran cover girl itu nembakin loe...?!?! ”, giliran Eza garuk – garuk kepala . Aku menarik nafas dalam – dalam... ga nyangka bakal terancam jadi selebritis Khatulistiwa High cuma gara – gara perihal sepele kaya’genee.. sekali lagi kutarik nafas dalam – dalam sebelum melangkah pergi meninggalkan cool corner tempat ngumpul anak - anak band yang katanya high quality jomblo bangeet, ntah versi siapa...
” ...Euy,Gi... say something dong... bagi – bagi jurus gitu… “, teriak Ben saat aku menghilang di balik pintu perpustakaan tak jauh dari pojok angker yang baru saja kutinggalkan…huh,siapa yang sakit jiwa sih sebenarnya…
Semua bermula sejak kehadiran Maya, si anak baru di kelas sebelah… physicly : perfect memang... smart lagi, gampang dideteksi dari nilai – nilai quiznya yang cakep abis… baik…? Iya, baik juga seeh, walau banyak yang suka rada keki sama kelebihan – kelebihan cewek pendatang baru itu,meski dia termasuk ramah, supel en asyik juga kayanya…
Jujur aja ya… aku sebenarnya simpati sama Maya. Cerdasnya kelihatan banget saat diajak diskusi… beberapa waktu lalu ga sengaja kita memang sering ketemu di depan dinding kaca tempat Koran pagi di pasang buat dibaca rame – rame sama siswa… sayangnya ga banyak anak yang tertarik cari tahu perkembangan terkini tentang negerinya… alhasil, segelintir yang langganan mampir sesaat di tempat itu jadi begitu mudah dikenali dan saling mengenal tentu saja…
Tak jarang gara – gara keasyikan ngebahas something, Kania sohib sekaligus sepupuku yang juga staf Keputrian Rohis itu pasang tampang jutek di kejauhan... Jealous…?, Ah Nia… semula aku ga begitu ambil pusing, setahuku Nia memang rada ketat urusan interaksi cowok – cewek… tapi aku kan cuma ngobrol aja… ga ada masalah pribadi pula… jangan negative thingking gitu dong, Sis…
Tak lama kemudian, gossip murahan itu pun mulai berhembus kemana – mana… Maya suka nanyain aku… Maya titip salam buat aku… Maya pengen gabung di Science Club Khatulistiwa High gara – gara aku… berita yang bikin gerah Ben cs karena dia yang paling getol deketin en cari-cari info tentang Maya, dia yang duluan pamer sikap : gue lagi on mission to ngegebet Maya...
Aku berusaha tetap rileks aja... buat aku Maya ga lebih bahkan ga sebanding dengan Nia dan teman – teman putri yang lebih dekat dengan aku sebelumnya... aku yakinkan Nia, kalo apa yang ia dengar selama ini cuma bisa – bisanya forbigos alias forum biang gosip lintas kelas yang baru – baru ini terakreditasi sukses bikin tambah runyam suasana... pfuifh, sudah nasibku barangkali...
Tapi sekali lagi, Maya memang gadis luar biasa...pada waktu – waktu luangnya sering kutemukan dia aktif di kegiatan sosial dan aktivitas bermanfaat yang umumnya dihindari remaja seusianya.... Masa bodo’lah fikir mereka... ngurusi diri sendiri aja belum beres sudah berani – berani ngurusi orang lain pula, fikir kebanyakan dari anak – anak muda itu...
Tak sekali dua kali aku bertemu Maya di kegiatan peduli anak jalanan...dia mengajari mereka membaca... menulis bahkan bernyanyi... suaranya yang indah menyempurnakan wajahnya yang good looking... tapi jangan harap karena itu semua aku luluh padanya...
Dia juga rutin mengunjungi Panti Jompo di pinggiran kota , untuk yang satu ini aku tahu dari Kak Tari yang juga relawan di sana. Tapi sekali lagi, tidak semudah itu seorang Algifari terperdaya... sungguh aku hanya simpati, tidak lebih dan tidak akan pernah lebih...
Kalian mau tahu kenapa... ini berawal sejak Ayah cedera kaki pasca kecelakaan kerja beberapa bulan yang lalu, kini tiap ahad pagi sepulang main basket di taman kota aku yang bertugas menemani ibu ke pasar untuk belanja kebutuhan rumah tangga selama sepekan bila Kak Tari harus berangkat keluar kota... tak jarang ketika kami berada di pasar aku berpapasan dengan para jemaat gereja besar di tengah kota yang sedang menuju ke sana untuk melakukan peribadatan rutin mereka... Nah, saat itulah aku berjumpa dengannya... sosok Maya yang dikagumi seantero Khatulistiwa High... setiap Ahad pagi dia dan keluarganya kujumpai turun dari sebuah mobil mewah dengan pakaian rapi siap mengikuti misa pagi... hya, dia seorang gadis nasrani yang taat, seorang gadis yang tak sekedar cantik tapi juga berbudi luhur dengan kepeduliannya pada sesama...
Sering aku berbagi dengan Nia, berharap dia mengerti dan menghentikan kasak – kusuk komentar iri para gadis di sekolah kami terhadap Maya. Daripada menggunjing tentangnya, lebih baik berlomba – lomba berbuat kebaikan, tentu saja ini akan lebih produktif hasilnya... Alhamdulillah, Nia cepat paham... walau tidak demikian dengan teman – teman lainnya.
” Afwan, Gi... Nia sudah su’udzon sama Algi... Nia yakin Algi bisa jaga hati... Algi juga bisa mengambil hikmah dari realita ini... Nia jadi malu, karena ternyata Maya lebih memiliki hati yang tulus untuk memberikan kepedulian pada sesama, sedang Nia masih suka asyik sendiri dengan kesibukan Nia...”, tuturnya perlahan mengakui kekhilafannya...
”...iya, Gi...akhowat – akhowat yang lain juga jadi lebih introspeksi diri sejak kehadiran Maya di tengah – tengah kita walau baru beberapa bulan ini...”, sambung Rizky, Ketua Divisi Keputrian Rohis tahun ini.
” ... Algi juga merasa masih harus berbuat lebih banyak lagi... Algi butuh teman – teman untuk bersinergi, Nia, Rizky dan yang lain siap terjun bersama Algi dalam program – program pengabdian masyarakat oleh Rohis plus Kru Science Club kita tahun ini kan...? ”, tanyaku... dan Alhamdulillah disambut anggukan mantap gadis berkerudung ungu muda itu diikuti teman – teman kami yang juga turut meramaikan percakapan menjelang senja di teras mushola...
Posted at 20.02 | Label: Cermin Series | 0 Comments
Rahasia 3 Hati
RAHASIA 3 HATI
Ayka Maya R.
“ …Kamu ga bisa putuskan sendiri siapa pemateri Training Jurnalistik kita pekan depan hanya karena kamu koordinator Acaranya…”, Kirana menatap tajam manik mataku. Duh, sohibku yang satu ini memang syerem banget kalo sedang marah...
”... ga nentuin sendiri kok, sudah dikonsultasikan dengan Kak Vony dan diketahui oleh Awan dan Kak Andri, mereka ga da masalah, lagian waktunya sudah dekat... emangnya ada apa dengan nama – nama itu, Ukhti...? ”, jawabku tenang... gadis ini ga bisa balas dikerasin... bencana...
Awan masuk dengan tergesa ke ruang redaksi, di luar hujan sudah mulai terjun bebas basahi bumi. Kirana menatap pemuda itu sesaat masih dengan tatapan tajamnya.
” ...ada apa Ran...? ”, tanyanya bingung... Rana diam dan berlalu begitu saja dari hadapan kami... what’s up girl...? aku mengangkat bahu tanda ga ngerti membalas tatapan penasaran Awan ke arahku...
”... dia marah – marah terus dengan aku akhir - akhir ini, terakhir tadi malam aku diomelin di telpon karena menandatangani surat permohonan menjadi pemateri... dia bilang aku ga perhitungan memilih pemateri... aneh, padahal yang kita undang adalah yang terbaik di kota ini... aku benar – benar ga ngerti dengan sikapnya...”, pemuda itu menarik nafas panjang kemudian menyelinap duduk di balik monitor LCDnya menekuni pengeditan foto yang akan dimunculkan pada penerbitan berikutnya...
” ... ya sudah, nanti aku cari tahu deh... ada apa dengan dia...”, closingku lirih seraya kembali ke meja kerjaku, meneruskan kekhusyukan mengejar deadline seperti biasanya...
Kirana, ada apa sih sama kamu... selama ini tim kita adalah tim yang tangguh... kamu gadis brilian yang energik, menyenangkan, bersemangat... tapi mengapa jadi emosional begini,sis.. ?
***
”... tebak, aku baru dapat telpon dari siapa barusan...? ”, suara di seberang sana terdengar agak kesal...
”... dari siapa sih, Wan... ? ”, tanyaku penasaran...
” Kirana... dia marah aku ga respon SMS – SMSnya... Hhhh, padahal ceritanya kemarin kepalaku sakit, makanya tidur lebih awal.. keesokan harinya khilaf belum baca en balas SMS darinya... padahal isinya ga penting-penting banget, cuma lontaran ide – ide yang bisa kita bahas bersama di rapat manajemen sebelum Training ahad depan... dia marah besar. Aku salah memang, tapi.... ah, kalian cewek emang aneh...! ”, Awan mengakhiri telponnya... dasar Awan ga sensitif, Kirana juga... ngapain dia yang jadi over sensitif begitu...ini memang aneh...
***
Kirana membereskan barang – barang di mejanya. Gadis itu memang keras, tapi bukankah team work harusnya dapat menjawab karakter itu... aku menahan nafas sesaat, aku ga ingin ada potensi masalah dalam tim ini hanya karena masalah – masalah sepele yang ga penting...
”... kamu mau kemana Ran ? ”, tanyaku seraya menghentikan aktifitasku sesaat.
” ... entahlah... yang pasti aku ga bisa berlama – lama di tempat ini...”, jawabnya lirih...
”... kamu bagian dari kita semua, Ran... katakan apa yang mengganggu fikiran kamu... kerja tim membutuhkan saling keterbukaan...”, kutinggalkan mejaku menuju mejanya yang mulai bersih dari pernak – perniknya selama ini...
”... aku ga bisa cerita sekarang...”, hanya itu yang dia katakan...
”...kamu sudah bicarakan dengan Kak Vony & Kak Andri...? Awan sudah tahu ini...? ”, kejarku lagi...
” ... via SMS aja, aku pergi...”, selepas menjawab salamnya aku terdiam beberapa saat... ada apa sebenarnya...selang beberapa menit Musyari Rasyid terdengar dari ponselku... Kak Andri...
”... apa maksudnya dengan meninggalkan redaksi...? Dy, I trust u to solve this problem, ok…”, instruksinya…yes Sir… Hhh, ada apa dengan semua ini…
Kembali Musyari Rasyid mengalun jernih…
”...Dy, perasaanku ga enak... kamu tahu soal pengunduran diri Kirana yang tiba – tiba ?, aku merasa ini pasti ada hubungannya dengan aku... kuakui dia agak berlebihan memberi perhatian padaku... dari sekedar sms ingatin aku makan siang sampe miscal tengah malam bangunin aku qiyamulail... kalau dia gadis biasa, mungkin sudah kumainkan saja... tapi dia akhowat...Dy, jujur aku belum siap... walau hampir selesai kuliah... ” Awan panik...
”... kamu GR banget siy, wan...dia kan memang gadis yang baik... tolong jangan berfikiran yang tidak – tidak, soal dia marah – marah beberapa waktu lalu mungkin dikarenakan panik dengan skripsinya... pusing dengan jadwal mengajar honor plus kejar tayang kerjaan kita... jadi rada sensitif...tolong kamu husnudzon...”, Awan gagal menyembunyikan kegelisahan hatinya... sebetulnya dia cukup perasa, hanya saja...
Kali ini terdengar Basmallah dari Musyari Rasyid... SMS dari Kirana :
Aku sudah muhasabah, bukan karena redaksi aku pergi, kalo sekedar training dan deadline aku yakin bisa atasi. Tapi aku harus jujur mengatakan inti masalahku selama ini : aku ga mampu jaga hati dan lisanku pada Awan. Aku bingung sejak kapan aku suka dan apa yang aku suka darinya, aku benar – benar ga tahu...kalo ini jadi pengalaman aku pernah menyukai seseorang, aku terima ini sebagai pelajaran berharga...tapi kalo harus memilih antara membersihkan hati dan meraih cita – cita bersama di redaksi, afwan Dy, aku memilih hatiku... Bismillah, aku keluar dari redaksi. Aku tidak bisa bekerja cerdas kalo hatiku masih kotor. Sungguh Dyantari, ga ada hasil yang baik dari sumber yang kotor. Saat ini aku berdoa semoga Allah memberikan kebaikan dimanapun aku berada...
Pesan yang cukup panjang dan gamblang... kini aku mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi... seketika hatiku pun turut perih karenanya... Kirana, aku juga pernah menyukai Awan... sampai saat ini dan biarlah selamanya karena kita bersaudara... Aku bisa memahamimu, Saudariku... Bismillah, kutegarkan hati membalas SMSnya dengan tulus...
Tentang Awan, dia sangat menghormatimu, Ukh... dia tidak bermaksud cuek, hanya karena fisiknya yang sempat drop beberapa waktu lalu, membuat sms-sms anti terlupakan jadinya... Bersegeralah luruskan niat Ukh, dan jangan ragu untuk kembali karena anti adalah bagian dari redaksi ini.. tapi memang ada baiknya recovery hati dulu ya... biar lebih produktif maksudnya...ada sedikit resep yang Alhamdulillah cukup ampuh hingga kini... setiap kali Dy akan bertemu Awan, Dy selalu berdo’a... supaya Allah menumbuhkan keikhlasan dalam hati agar bisa memberi dan menyayangi Awan tanpa harus takut kehilangannya.Wassalam..
Pfuifh, Awan... mahasiswa berprestasi yang menyenangkan, aktif di BEM juga musholla kampus selain memperkuat redaksi selama hampir dua tahun terakhir ini . Kami sudah saling mengenal sebelumnya, karena pernah beberapa kali berhadapan pada even – even fakultas maupun universitas. Dia memang telah mengumumkan rencananya meninggalkan kota ini begitu selesai wisuda bulan depan... tapi biarlah... bukankah tak semua perpisahan menunjukkan terpisahnya hati, tak semua perjumpaan menunjukkan kecintaan, ukhuwah diukur dari kedekatan hati...maka izinkan aku mencintai kalian semua karena_Nya...Robbiy, jagalah hati – hati kami...jagalah pula rahasia kecil ini...agar kelak di suatu masa kami berjumpa, tak perlu ada luka yang harus kembali menganga...
read more...
Ayka Maya R.
“ …Kamu ga bisa putuskan sendiri siapa pemateri Training Jurnalistik kita pekan depan hanya karena kamu koordinator Acaranya…”, Kirana menatap tajam manik mataku. Duh, sohibku yang satu ini memang syerem banget kalo sedang marah...
”... ga nentuin sendiri kok, sudah dikonsultasikan dengan Kak Vony dan diketahui oleh Awan dan Kak Andri, mereka ga da masalah, lagian waktunya sudah dekat... emangnya ada apa dengan nama – nama itu, Ukhti...? ”, jawabku tenang... gadis ini ga bisa balas dikerasin... bencana...
Awan masuk dengan tergesa ke ruang redaksi, di luar hujan sudah mulai terjun bebas basahi bumi. Kirana menatap pemuda itu sesaat masih dengan tatapan tajamnya.
” ...ada apa Ran...? ”, tanyanya bingung... Rana diam dan berlalu begitu saja dari hadapan kami... what’s up girl...? aku mengangkat bahu tanda ga ngerti membalas tatapan penasaran Awan ke arahku...
”... dia marah – marah terus dengan aku akhir - akhir ini, terakhir tadi malam aku diomelin di telpon karena menandatangani surat permohonan menjadi pemateri... dia bilang aku ga perhitungan memilih pemateri... aneh, padahal yang kita undang adalah yang terbaik di kota ini... aku benar – benar ga ngerti dengan sikapnya...”, pemuda itu menarik nafas panjang kemudian menyelinap duduk di balik monitor LCDnya menekuni pengeditan foto yang akan dimunculkan pada penerbitan berikutnya...
” ... ya sudah, nanti aku cari tahu deh... ada apa dengan dia...”, closingku lirih seraya kembali ke meja kerjaku, meneruskan kekhusyukan mengejar deadline seperti biasanya...
Kirana, ada apa sih sama kamu... selama ini tim kita adalah tim yang tangguh... kamu gadis brilian yang energik, menyenangkan, bersemangat... tapi mengapa jadi emosional begini,sis.. ?
***
”... tebak, aku baru dapat telpon dari siapa barusan...? ”, suara di seberang sana terdengar agak kesal...
”... dari siapa sih, Wan... ? ”, tanyaku penasaran...
” Kirana... dia marah aku ga respon SMS – SMSnya... Hhhh, padahal ceritanya kemarin kepalaku sakit, makanya tidur lebih awal.. keesokan harinya khilaf belum baca en balas SMS darinya... padahal isinya ga penting-penting banget, cuma lontaran ide – ide yang bisa kita bahas bersama di rapat manajemen sebelum Training ahad depan... dia marah besar. Aku salah memang, tapi.... ah, kalian cewek emang aneh...! ”, Awan mengakhiri telponnya... dasar Awan ga sensitif, Kirana juga... ngapain dia yang jadi over sensitif begitu...ini memang aneh...
***
Kirana membereskan barang – barang di mejanya. Gadis itu memang keras, tapi bukankah team work harusnya dapat menjawab karakter itu... aku menahan nafas sesaat, aku ga ingin ada potensi masalah dalam tim ini hanya karena masalah – masalah sepele yang ga penting...
”... kamu mau kemana Ran ? ”, tanyaku seraya menghentikan aktifitasku sesaat.
” ... entahlah... yang pasti aku ga bisa berlama – lama di tempat ini...”, jawabnya lirih...
”... kamu bagian dari kita semua, Ran... katakan apa yang mengganggu fikiran kamu... kerja tim membutuhkan saling keterbukaan...”, kutinggalkan mejaku menuju mejanya yang mulai bersih dari pernak – perniknya selama ini...
”... aku ga bisa cerita sekarang...”, hanya itu yang dia katakan...
”...kamu sudah bicarakan dengan Kak Vony & Kak Andri...? Awan sudah tahu ini...? ”, kejarku lagi...
” ... via SMS aja, aku pergi...”, selepas menjawab salamnya aku terdiam beberapa saat... ada apa sebenarnya...selang beberapa menit Musyari Rasyid terdengar dari ponselku... Kak Andri...
”... apa maksudnya dengan meninggalkan redaksi...? Dy, I trust u to solve this problem, ok…”, instruksinya…yes Sir… Hhh, ada apa dengan semua ini…
Kembali Musyari Rasyid mengalun jernih…
”...Dy, perasaanku ga enak... kamu tahu soal pengunduran diri Kirana yang tiba – tiba ?, aku merasa ini pasti ada hubungannya dengan aku... kuakui dia agak berlebihan memberi perhatian padaku... dari sekedar sms ingatin aku makan siang sampe miscal tengah malam bangunin aku qiyamulail... kalau dia gadis biasa, mungkin sudah kumainkan saja... tapi dia akhowat...Dy, jujur aku belum siap... walau hampir selesai kuliah... ” Awan panik...
”... kamu GR banget siy, wan...dia kan memang gadis yang baik... tolong jangan berfikiran yang tidak – tidak, soal dia marah – marah beberapa waktu lalu mungkin dikarenakan panik dengan skripsinya... pusing dengan jadwal mengajar honor plus kejar tayang kerjaan kita... jadi rada sensitif...tolong kamu husnudzon...”, Awan gagal menyembunyikan kegelisahan hatinya... sebetulnya dia cukup perasa, hanya saja...
Kali ini terdengar Basmallah dari Musyari Rasyid... SMS dari Kirana :
Aku sudah muhasabah, bukan karena redaksi aku pergi, kalo sekedar training dan deadline aku yakin bisa atasi. Tapi aku harus jujur mengatakan inti masalahku selama ini : aku ga mampu jaga hati dan lisanku pada Awan. Aku bingung sejak kapan aku suka dan apa yang aku suka darinya, aku benar – benar ga tahu...kalo ini jadi pengalaman aku pernah menyukai seseorang, aku terima ini sebagai pelajaran berharga...tapi kalo harus memilih antara membersihkan hati dan meraih cita – cita bersama di redaksi, afwan Dy, aku memilih hatiku... Bismillah, aku keluar dari redaksi. Aku tidak bisa bekerja cerdas kalo hatiku masih kotor. Sungguh Dyantari, ga ada hasil yang baik dari sumber yang kotor. Saat ini aku berdoa semoga Allah memberikan kebaikan dimanapun aku berada...
Pesan yang cukup panjang dan gamblang... kini aku mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi... seketika hatiku pun turut perih karenanya... Kirana, aku juga pernah menyukai Awan... sampai saat ini dan biarlah selamanya karena kita bersaudara... Aku bisa memahamimu, Saudariku... Bismillah, kutegarkan hati membalas SMSnya dengan tulus...
Tentang Awan, dia sangat menghormatimu, Ukh... dia tidak bermaksud cuek, hanya karena fisiknya yang sempat drop beberapa waktu lalu, membuat sms-sms anti terlupakan jadinya... Bersegeralah luruskan niat Ukh, dan jangan ragu untuk kembali karena anti adalah bagian dari redaksi ini.. tapi memang ada baiknya recovery hati dulu ya... biar lebih produktif maksudnya...ada sedikit resep yang Alhamdulillah cukup ampuh hingga kini... setiap kali Dy akan bertemu Awan, Dy selalu berdo’a... supaya Allah menumbuhkan keikhlasan dalam hati agar bisa memberi dan menyayangi Awan tanpa harus takut kehilangannya.Wassalam..
Pfuifh, Awan... mahasiswa berprestasi yang menyenangkan, aktif di BEM juga musholla kampus selain memperkuat redaksi selama hampir dua tahun terakhir ini . Kami sudah saling mengenal sebelumnya, karena pernah beberapa kali berhadapan pada even – even fakultas maupun universitas. Dia memang telah mengumumkan rencananya meninggalkan kota ini begitu selesai wisuda bulan depan... tapi biarlah... bukankah tak semua perpisahan menunjukkan terpisahnya hati, tak semua perjumpaan menunjukkan kecintaan, ukhuwah diukur dari kedekatan hati...maka izinkan aku mencintai kalian semua karena_Nya...Robbiy, jagalah hati – hati kami...jagalah pula rahasia kecil ini...agar kelak di suatu masa kami berjumpa, tak perlu ada luka yang harus kembali menganga...
Posted at 19.54 | Label: Cermin Series | 0 Comments
Langganan:
Postingan (Atom)




