Tampilkan postingan dengan label Qalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qalam. Tampilkan semua postingan
Kupu – Kupu Terbang
Kupu – Kupu Terbang
By. Afra Z. Rifa’i
Selembar undangan berwarna biru pucat…
Sepasang kupu – kupu berwarna lembut menghiasi sampulnya…
Hany Sekarini,S.Ked., nama itu tertera di dalamnya… bersanding dengan sebuah nama asing yang… entahlah, kukira bukan urusanku lagi untuk tahu dan peduli…
Kuletakkan kembali undangan itu di atas meja kerjaku, tepatnya di tumpukan paling bawah pada berkas – berkas yang rencananya akan kusingkirkan sebelum aku meninggalkan kantor petang nanti…
“ …Ga, kamu ditunggu tim di bawah… buruan deh, mereka udah siap meluncur buat liputan siaran langsung sore nanti…”, tegur Maya membuyarkan sepasukan lebah yang sedari tadi berdengung - dengung di dalam kepalaku…lebah – lebah madu yang sukses mengacaukan konsentrasi persiapan reportaseku sore ini…hya, Hany selalu menyebut kemelut itu lebah madu…entah apa maksudnya, tapi manakala kudengar live dengungannya, sepertinya memang serupa dengan apa yang aku rasakan barusan…
“ Hurry up man, waktu kita tinggal empat puluh lima menit…!!! “, seru Rio, produserku yang sudah duduk manis di samping Pak Budi, driver tim liputan kami.
“ What’s Up man… ??? “, tanya bos sekaligus sohibku yang baru saja menghelat pernikahannya bulan lalu. “ Nothing…”, jawabku singkat seraya mengalihkan pandangan menyisiri pepohonan dari balik kaca mobil yang senantiasa cling oleh dedikasi Pak Budi yang menikmati profesinya bersama kami. Sorry friend, aku lagi enggan bicara… not to you, not to anybody… Rio mengangkat bahunya dan pilih mendiamkan aku selama di perjalanan.
Aku masih membisu, terkecuali saat shooting liputan sore tadi…selebihnya aku lebih banyak menyendiri… aku benar – benar kehilangan selera untuk bicara, jangankan pada Rio, pada Bunda pun rasanya tidak…
Wanita itu begitu menyayangi Hany, aku tak sanggup jika harus menyampaikan berita ini pada dia yang sejak tadi pagi begitu bahagia mengisi hari – harinya bersama dendro dan phalaeonopsis.
“ Airlangga, duduk sebentar sayang…”, Bunda memintaku untuk tidak meninggalkannya buru – buru selepas makan malam. Sejak Cahaya hijrah mengikuti kepindahan suaminya yang dimutasi tahun lalu dan Ayah masih berada di luar kota mengurusi persiapan pernikahan adikku dari Mama Ana, ibu tiriku yang juga teman baik Bunda semasa kuliah, rumah ini serta merta menjadi semakin sunyi oleh kesibukanku di redaksi sebuah stasiun televisi lokal tempatku berkarir.
“ Lama ya, kita tidak membicarakan tentang kapan pangeran Bunda akan membawa seorang putri mencerahkan istana kecil kita…”, sapanya membuka pembicaraan yang sudah kuhafal betul kemana arah muaranya.
“ Jangan katakan kamu masih menunggu calon doktermu mengambil spesialisnya… terlalu lama… masih kuliah pun tak mengapa… Bunda akan menemaninya menyelesaikan skripsi… “, tawar Bunda penuh semangat yang semakin membuat kecut hatiku.
“ Bunda, Hany akan menikah sabtu ini…” , kalimat itu meluncur begitu saja tanpa sanggup aku tarik kembali…
“ …Oh…”, hanya itu yang kemudian terdengar dari lisannya yang lembut menggetarkan hati…seperti aku yang gagal menahan ucapanku, Bunda pun gagal menyembunyikan keterkejutannya…
“ You’re Ok, Honey…? “, tanyanya hati – hati… aku mengangguk dan akhirnya memilih duduk di sisinya… memeluk wanita terkasihku yang begitu dalam samudera cinta di hatinya…
“ I’m so sorry…”, itu kalimat berikut yang sanggup ia katakan selepas meyakinkan bahwa aku baik – baik saja…
“ But how…? “, tanyanya perlahan…
“ It’s all my fault…I let her go, Mom… Angga yang lepas dia karena Angga memang ga pernah kasi kepastian apa – apa… Angga yang pengecut Bunda…”, aku menyandarkan kepalaku di bahunya… pengecut, semoga pilihan kata itu tidak berlebihan untukku…
“ maksud kamu, kamu tidak menginginkan dia menjadi istrimu…? “, Tanya Bunda lagi..
“ satu – satunya wanita yang pernah Angga ceritakan ke Bunda memang hanya Hany… namun Angga ga pernah yakin, apa Angga cukup baik untuknya… dia ga pernah benar – benar tahu perasaan ini Bunda… kami ga pernah punya hubungan istimewa, selain sebagai seorang sahabat yang saling menjaga silaturahim sejak masih duduk di bangku sekolah… “, sesaat kutarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras… mataku menerawang, mengingat saat – saat indah yang tak kan tergantikan…
“ Kami saling menjaga Bunda… agar hati ini tidak ternodai, agar persaudaraan ini indah seindah warna aslinya… jadi bukan salah Hany jika ia memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain… lelaki yang lebih dulu datang secara resmi menjemput bening hatinya… lelaki yang dengan mantap menunjukkan kesungguhannya untuk menjadi tambatan hati seorang Hany…dia yang lebih… yang lebih siap dan lebih baik untuk Hany… “, selesai mengungkapkan itu semua aku segera mohon diri kembali ke kamar… ada perasaan lega, meski tak dapat kupungkiri ada segores luka di sana… luka karena aku tak cukup punya waktu untuk datang menunjukkan kesungguhanku pada Hany…luka karena aku tak cukup punya keberanian untuk memintanya menemaniku meniti cahaya…
Tapi, mungkin inilah yang dinamakan bukan jodoh… aku harus ikhlas, meski sudah kusiapkan segalanya bulan depan mendatangi kedua orang tuanya untuk sudi menerimaku sebagai menantunya…. Meski ternyata aku terlambat…
***
Sejuk air wudhu yang membasahi terasa merasuk ke jiwaku… perlahan rasa sakit itu mulai berangkat pergi beserta sebuah nama yang pernah mengisi sudut hati … Kusadari masih banyak yang harus aku benahi, namun tekadku telah bulat… aku yakin telah siap, pernikahan Hany membuka fikiranku, betapa akupun hendaknya menyegerakan diri untuk menggenapkan setengah dienku dalam rangka mengikuti sunah Rasulullah yang mulia… Entah bidadari mana yang akan Allah pilihkan buatku… aku telah menyerahkan segala urusanku padaNya… (Dedicated to my belove friends…Wahai Umat Nabi Muhammad…, ente tunggu apa lagi…???)
read more...
By. Afra Z. Rifa’i
Selembar undangan berwarna biru pucat…
Sepasang kupu – kupu berwarna lembut menghiasi sampulnya…
Hany Sekarini,S.Ked., nama itu tertera di dalamnya… bersanding dengan sebuah nama asing yang… entahlah, kukira bukan urusanku lagi untuk tahu dan peduli…
Kuletakkan kembali undangan itu di atas meja kerjaku, tepatnya di tumpukan paling bawah pada berkas – berkas yang rencananya akan kusingkirkan sebelum aku meninggalkan kantor petang nanti…
“ …Ga, kamu ditunggu tim di bawah… buruan deh, mereka udah siap meluncur buat liputan siaran langsung sore nanti…”, tegur Maya membuyarkan sepasukan lebah yang sedari tadi berdengung - dengung di dalam kepalaku…lebah – lebah madu yang sukses mengacaukan konsentrasi persiapan reportaseku sore ini…hya, Hany selalu menyebut kemelut itu lebah madu…entah apa maksudnya, tapi manakala kudengar live dengungannya, sepertinya memang serupa dengan apa yang aku rasakan barusan…
“ Hurry up man, waktu kita tinggal empat puluh lima menit…!!! “, seru Rio, produserku yang sudah duduk manis di samping Pak Budi, driver tim liputan kami.
“ What’s Up man… ??? “, tanya bos sekaligus sohibku yang baru saja menghelat pernikahannya bulan lalu. “ Nothing…”, jawabku singkat seraya mengalihkan pandangan menyisiri pepohonan dari balik kaca mobil yang senantiasa cling oleh dedikasi Pak Budi yang menikmati profesinya bersama kami. Sorry friend, aku lagi enggan bicara… not to you, not to anybody… Rio mengangkat bahunya dan pilih mendiamkan aku selama di perjalanan.
Aku masih membisu, terkecuali saat shooting liputan sore tadi…selebihnya aku lebih banyak menyendiri… aku benar – benar kehilangan selera untuk bicara, jangankan pada Rio, pada Bunda pun rasanya tidak…
Wanita itu begitu menyayangi Hany, aku tak sanggup jika harus menyampaikan berita ini pada dia yang sejak tadi pagi begitu bahagia mengisi hari – harinya bersama dendro dan phalaeonopsis.
“ Airlangga, duduk sebentar sayang…”, Bunda memintaku untuk tidak meninggalkannya buru – buru selepas makan malam. Sejak Cahaya hijrah mengikuti kepindahan suaminya yang dimutasi tahun lalu dan Ayah masih berada di luar kota mengurusi persiapan pernikahan adikku dari Mama Ana, ibu tiriku yang juga teman baik Bunda semasa kuliah, rumah ini serta merta menjadi semakin sunyi oleh kesibukanku di redaksi sebuah stasiun televisi lokal tempatku berkarir.
“ Lama ya, kita tidak membicarakan tentang kapan pangeran Bunda akan membawa seorang putri mencerahkan istana kecil kita…”, sapanya membuka pembicaraan yang sudah kuhafal betul kemana arah muaranya.
“ Jangan katakan kamu masih menunggu calon doktermu mengambil spesialisnya… terlalu lama… masih kuliah pun tak mengapa… Bunda akan menemaninya menyelesaikan skripsi… “, tawar Bunda penuh semangat yang semakin membuat kecut hatiku.
“ Bunda, Hany akan menikah sabtu ini…” , kalimat itu meluncur begitu saja tanpa sanggup aku tarik kembali…
“ …Oh…”, hanya itu yang kemudian terdengar dari lisannya yang lembut menggetarkan hati…seperti aku yang gagal menahan ucapanku, Bunda pun gagal menyembunyikan keterkejutannya…
“ You’re Ok, Honey…? “, tanyanya hati – hati… aku mengangguk dan akhirnya memilih duduk di sisinya… memeluk wanita terkasihku yang begitu dalam samudera cinta di hatinya…
“ I’m so sorry…”, itu kalimat berikut yang sanggup ia katakan selepas meyakinkan bahwa aku baik – baik saja…
“ But how…? “, tanyanya perlahan…
“ It’s all my fault…I let her go, Mom… Angga yang lepas dia karena Angga memang ga pernah kasi kepastian apa – apa… Angga yang pengecut Bunda…”, aku menyandarkan kepalaku di bahunya… pengecut, semoga pilihan kata itu tidak berlebihan untukku…
“ maksud kamu, kamu tidak menginginkan dia menjadi istrimu…? “, Tanya Bunda lagi..
“ satu – satunya wanita yang pernah Angga ceritakan ke Bunda memang hanya Hany… namun Angga ga pernah yakin, apa Angga cukup baik untuknya… dia ga pernah benar – benar tahu perasaan ini Bunda… kami ga pernah punya hubungan istimewa, selain sebagai seorang sahabat yang saling menjaga silaturahim sejak masih duduk di bangku sekolah… “, sesaat kutarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras… mataku menerawang, mengingat saat – saat indah yang tak kan tergantikan…
“ Kami saling menjaga Bunda… agar hati ini tidak ternodai, agar persaudaraan ini indah seindah warna aslinya… jadi bukan salah Hany jika ia memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain… lelaki yang lebih dulu datang secara resmi menjemput bening hatinya… lelaki yang dengan mantap menunjukkan kesungguhannya untuk menjadi tambatan hati seorang Hany…dia yang lebih… yang lebih siap dan lebih baik untuk Hany… “, selesai mengungkapkan itu semua aku segera mohon diri kembali ke kamar… ada perasaan lega, meski tak dapat kupungkiri ada segores luka di sana… luka karena aku tak cukup punya waktu untuk datang menunjukkan kesungguhanku pada Hany…luka karena aku tak cukup punya keberanian untuk memintanya menemaniku meniti cahaya…
Tapi, mungkin inilah yang dinamakan bukan jodoh… aku harus ikhlas, meski sudah kusiapkan segalanya bulan depan mendatangi kedua orang tuanya untuk sudi menerimaku sebagai menantunya…. Meski ternyata aku terlambat…
***
Sejuk air wudhu yang membasahi terasa merasuk ke jiwaku… perlahan rasa sakit itu mulai berangkat pergi beserta sebuah nama yang pernah mengisi sudut hati … Kusadari masih banyak yang harus aku benahi, namun tekadku telah bulat… aku yakin telah siap, pernikahan Hany membuka fikiranku, betapa akupun hendaknya menyegerakan diri untuk menggenapkan setengah dienku dalam rangka mengikuti sunah Rasulullah yang mulia… Entah bidadari mana yang akan Allah pilihkan buatku… aku telah menyerahkan segala urusanku padaNya… (Dedicated to my belove friends…Wahai Umat Nabi Muhammad…, ente tunggu apa lagi…???)
Posted at 06.21 | Label: Edisi Mei 2008, Qalam | 0 Comments
Episode Ta’aruf Naomi
Episode Ta’aruf Naomi
“ …Ta’aruf Ustadz…? “, Ary terlambat menyembunyikan keterkejutannya.Ust. Ridlwan menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan…“ Kami hanya memfasilitasi agar proses ini tetap berjalan syar’I..”, Ustadz muda itu menyodorkan berkas proposal pra nikah bersampul cerah bergambar bunga-bunga. Wajah Ary serta merta memerah. Hya, dia memang sudah pernah sih ikut seminar pra nikah… tapi itu pun karena desakan teman-temannya dan lampu hijau dari Ust. Ridlwan Dia juga memang sudah punya penghasilan walau pas-pasan banget dari honor jadi guru les privat bahasa inggris anak-anak sekolahan. Namun sekalipun Ary yang baru semester tiga kuliah ini sudah terbina sejak SMA dan telah mendalami islam sejak masih ABG, tetap saja secara keseluruhan dia yakin betul dirinya masih belum siap untuk ini semua ditambah lagi dengan cara Ust. Ridlwan yang menyampaikan berita ini dengan sedikit berat. Pasti ada sesuatu, fikirnya…Menikah, sekarang…?, Ary menarik nafas panjang… Rabbi, semua kuserahkan pada_Mu, pasrahnya…*$*“ …lagi-lagi Kak Dyan…Kak Dyan minta tolong ini, Kak Dyan minta tolong itu… selalu ada waktu untuk Kak Dyan…selalu ada kesempatan untuk Kakak yang satu itu…Selalu… “, Naomi menarik-narik lengan Tedy Bear_nya dengan kasar…dia kesal, lebih tepatnya cemburu… dia betul-betul tidak mengira harus bersaing dengan wanita yang jelas-jelas lebih tua darinya, hya…walau gak tua-tua amat sih…“…anehnya lagi Bang Ary selalu bisa, ga pernah nolak… ga pernah bilang ‘gak bisa… huh…sebenarnya dia pernah mikirin perasaanku gak sih…”, rutuk Naomi dengan kesal yang semakin bertambah-tambah…“…kamu sendiri yang pilih, kamu sendiri yang mutusin, Kak Nadya kan ‘gak pernah merekomendasikan nama Ary Yudhistira buat kamu… kamunya aja tuh yang kecentilan…”, seloroh Mella, sohib Naomi yang sedari tadi udah rada ‘neg dengerin tuh cewek ngedumel sendiri.Well, semua berawal saat Naomi ngotot minta difasilitasi ta’aruf dengan seorang ikhwan. Alasannya dia butuh teman buat share…sebetulnya Usia dara manis itu belum masuk kategori kritis bahkan sangat belia untuk ukuran wanita zaman sekarang . Gimana nggak, orang baru semester satu pada Universitas beken di Pontianak kok…!. Hya, memang nggak ada yang tahu dengan pasti apa motiv yang membuat Naomi Naura Hasan segitu ngebetnya pengen buru-buru merit.*$*“ …afwan,ukh… ane harus keluar kota beberapa hari , jadi prosesnya terpaksa di tunda… sekali lagi maaf…“, Ary menyampaikan dengan datar maksud kedatangannya sore itu.Naomi menekuk wajahnya. Lagi-lagi keluar kota… lagi-lagi nemeni Kak Dyan… Mella yang duduk di sebelahnya jadi turut serba salah.“…ssst, kamu kan bisa mengatakan sesuatu sebelum dia pergi…”, bisik Mella.“…sebel…!!! “, hanya itu yang keluar dari mulut mungil Naomi. Kini giliran Ary yang serba salah…“ Maaf, tapi saya harus pergi… Assalammu’alaikum…”, Ary berdiri dan berlalu dari mereka. Wajah tirus itu tampak lelah, hya tentu saja… sejak sebulan terakhir ini Ary benar-benar merasa sangat tertekan. Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin tega terang-terangan menyakiti hati seorang Naomi, walaupun sejujurnya dia benar-benar merasa terganggu atas sikap gadis itu. Ini sungguh benar-benar tarbiyah dari Allah, fikirnya dan ia harus bersabar.*$*“…Kak, aku childish banget ya…”, tanya Naomi manja pada Nadya, pembina kajiannya di suatu senja kala keduanya baru saja menyelesaikan agenda kajian rutin keislaman yang kali ini mengambil tempat di alun-alun sungai kapuas.“…yup…!!! “, jawab Nadya pendek.“ Kak, aku kaya’nya udah zhalim banget deh sama Bang Ary… dan dia juga kaya’nya udah stress banget ngadepin aku… Kak, aku salah ya…? Aku jahat ya…? Kakak kok nggak pernah negur aku sih, cuma sekali aja pas nanya kenapa aku antar proposal itu langsung dan nggak lewat Kakak… aku kan benar-benar nggak ngerti Kak…”, Naomi menunduk dalam, sesekali menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, dibiarkannya kaki beserta kaus kakinya basah berendam di pinggiran sungai terpanjang di Kalimantan itu.“… aku kan cuma cari alternatif aja biar nggak terjebak pacaran, Kakak sendiri yang bilang kalo pacaran itu hubungan yang nggak syar’i dan Allah bakal nggak ridho alias benci, pacaran juga bikin kotor hati, dan seterusnya dan seterusnya…”, Naomi mengatur nafasnya kembali… dia betul-betul ingin mendiskusikan perihal yang satu ini…“ …lagian setelah nonton Film Ayat – Ayat Cinta, Mom en Dad jadi setuju aku ta’aarufan, jadi tambah semangat deh…hm, walau aku sadar sih Kak…Bang Ary belum tentu mau langsung nerima aku… tapi aku nggak bisa bohong kalo aku suka banget sama dia… Kakak tahu sendiri kan kalo dia itu kiut banget… cool, bertanggung jawab en so on deh… aku jadinya ya…”, Naomi menggantung kalimatnya sambil curi-curi lirik ke arah Nadya . Ups…“ Kak… Kak Nadya… Kak…, Kakak kenapa Kak…”, Naomi terkejut, Nadya tiba-tiba menelungkupkan wajahnya dan menangis tersedu-sedu… bahunya terguncang dan tak dapat dielakan Naomi pun spontan turut menangis juga dalam paniknya.“… Naomi, maafin Kakak, Ya… Kakak seharusnya lebih merhatiin kamu, lebih meluangkan waktu untuk diskusi dan menyampaikan banyak hal buat kamu en temen-temen kamu yang laen…”, Nadya merangkul Naomi hangat.“ Aku juga pengen minta maaf Kak, kalo aku suka bandel, manja dan kadang malas banget datang kajian… hasilnya ya dapat ilmu juga setengah-setengah dan gak tuntas, ditambah akunya yang suka sok tahu en sradak-sruduk, akibatnya bukan aku aja yang jadi susah, tapi semua jadi ikutan berabe …”, Naomi berusaha panjang lebar mengutarakan penyesalannya .“ Oke, sekarang kita sama-sama janji untuk jadi lebih baik ya…! “, ajak Nadya yang disambut dengan anggukan cepat Naomi.“…hm, dulu aku tuh mikir kalo ta’aruf udah pasti asyik banget… pasti romantis gitu… dan pasti langsung jadi karena orang yang ta’aruf itu udah pasti serius… nggak seperti orang pacaran yang nggak jelas kemana arahnya sekedar for fun aja… “, Naomi menarik nafas lagi, ada yang masih ingin dia sampaikan…“ Kak, tolongin aku minta maaf ke Ary ya… ya Kak,ya… “, pintanya manja… … Sebaris senyum mengembang di bibir Nadya mengikuti anggukan mantap tanda jawaban. Cakrawala menggurat merah di kaki langit seraya gelap turun perlahan menghampiri khatulistiwa. Keduanya berangkulan dan semakin mengeratkan rangkulan. Naomi… Naomi… Ta’aruf… Ta’aruf… (by. Afra Z. Rifa’i)
read more...
“ …Ta’aruf Ustadz…? “, Ary terlambat menyembunyikan keterkejutannya.Ust. Ridlwan menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan…“ Kami hanya memfasilitasi agar proses ini tetap berjalan syar’I..”, Ustadz muda itu menyodorkan berkas proposal pra nikah bersampul cerah bergambar bunga-bunga. Wajah Ary serta merta memerah. Hya, dia memang sudah pernah sih ikut seminar pra nikah… tapi itu pun karena desakan teman-temannya dan lampu hijau dari Ust. Ridlwan Dia juga memang sudah punya penghasilan walau pas-pasan banget dari honor jadi guru les privat bahasa inggris anak-anak sekolahan. Namun sekalipun Ary yang baru semester tiga kuliah ini sudah terbina sejak SMA dan telah mendalami islam sejak masih ABG, tetap saja secara keseluruhan dia yakin betul dirinya masih belum siap untuk ini semua ditambah lagi dengan cara Ust. Ridlwan yang menyampaikan berita ini dengan sedikit berat. Pasti ada sesuatu, fikirnya…Menikah, sekarang…?, Ary menarik nafas panjang… Rabbi, semua kuserahkan pada_Mu, pasrahnya…*$*“ …lagi-lagi Kak Dyan…Kak Dyan minta tolong ini, Kak Dyan minta tolong itu… selalu ada waktu untuk Kak Dyan…selalu ada kesempatan untuk Kakak yang satu itu…Selalu… “, Naomi menarik-narik lengan Tedy Bear_nya dengan kasar…dia kesal, lebih tepatnya cemburu… dia betul-betul tidak mengira harus bersaing dengan wanita yang jelas-jelas lebih tua darinya, hya…walau gak tua-tua amat sih…“…anehnya lagi Bang Ary selalu bisa, ga pernah nolak… ga pernah bilang ‘gak bisa… huh…sebenarnya dia pernah mikirin perasaanku gak sih…”, rutuk Naomi dengan kesal yang semakin bertambah-tambah…“…kamu sendiri yang pilih, kamu sendiri yang mutusin, Kak Nadya kan ‘gak pernah merekomendasikan nama Ary Yudhistira buat kamu… kamunya aja tuh yang kecentilan…”, seloroh Mella, sohib Naomi yang sedari tadi udah rada ‘neg dengerin tuh cewek ngedumel sendiri.Well, semua berawal saat Naomi ngotot minta difasilitasi ta’aruf dengan seorang ikhwan. Alasannya dia butuh teman buat share…sebetulnya Usia dara manis itu belum masuk kategori kritis bahkan sangat belia untuk ukuran wanita zaman sekarang . Gimana nggak, orang baru semester satu pada Universitas beken di Pontianak kok…!. Hya, memang nggak ada yang tahu dengan pasti apa motiv yang membuat Naomi Naura Hasan segitu ngebetnya pengen buru-buru merit.*$*“ …afwan,ukh… ane harus keluar kota beberapa hari , jadi prosesnya terpaksa di tunda… sekali lagi maaf…“, Ary menyampaikan dengan datar maksud kedatangannya sore itu.Naomi menekuk wajahnya. Lagi-lagi keluar kota… lagi-lagi nemeni Kak Dyan… Mella yang duduk di sebelahnya jadi turut serba salah.“…ssst, kamu kan bisa mengatakan sesuatu sebelum dia pergi…”, bisik Mella.“…sebel…!!! “, hanya itu yang keluar dari mulut mungil Naomi. Kini giliran Ary yang serba salah…“ Maaf, tapi saya harus pergi… Assalammu’alaikum…”, Ary berdiri dan berlalu dari mereka. Wajah tirus itu tampak lelah, hya tentu saja… sejak sebulan terakhir ini Ary benar-benar merasa sangat tertekan. Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin tega terang-terangan menyakiti hati seorang Naomi, walaupun sejujurnya dia benar-benar merasa terganggu atas sikap gadis itu. Ini sungguh benar-benar tarbiyah dari Allah, fikirnya dan ia harus bersabar.*$*“…Kak, aku childish banget ya…”, tanya Naomi manja pada Nadya, pembina kajiannya di suatu senja kala keduanya baru saja menyelesaikan agenda kajian rutin keislaman yang kali ini mengambil tempat di alun-alun sungai kapuas.“…yup…!!! “, jawab Nadya pendek.“ Kak, aku kaya’nya udah zhalim banget deh sama Bang Ary… dan dia juga kaya’nya udah stress banget ngadepin aku… Kak, aku salah ya…? Aku jahat ya…? Kakak kok nggak pernah negur aku sih, cuma sekali aja pas nanya kenapa aku antar proposal itu langsung dan nggak lewat Kakak… aku kan benar-benar nggak ngerti Kak…”, Naomi menunduk dalam, sesekali menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, dibiarkannya kaki beserta kaus kakinya basah berendam di pinggiran sungai terpanjang di Kalimantan itu.“… aku kan cuma cari alternatif aja biar nggak terjebak pacaran, Kakak sendiri yang bilang kalo pacaran itu hubungan yang nggak syar’i dan Allah bakal nggak ridho alias benci, pacaran juga bikin kotor hati, dan seterusnya dan seterusnya…”, Naomi mengatur nafasnya kembali… dia betul-betul ingin mendiskusikan perihal yang satu ini…“ …lagian setelah nonton Film Ayat – Ayat Cinta, Mom en Dad jadi setuju aku ta’aarufan, jadi tambah semangat deh…hm, walau aku sadar sih Kak…Bang Ary belum tentu mau langsung nerima aku… tapi aku nggak bisa bohong kalo aku suka banget sama dia… Kakak tahu sendiri kan kalo dia itu kiut banget… cool, bertanggung jawab en so on deh… aku jadinya ya…”, Naomi menggantung kalimatnya sambil curi-curi lirik ke arah Nadya . Ups…“ Kak… Kak Nadya… Kak…, Kakak kenapa Kak…”, Naomi terkejut, Nadya tiba-tiba menelungkupkan wajahnya dan menangis tersedu-sedu… bahunya terguncang dan tak dapat dielakan Naomi pun spontan turut menangis juga dalam paniknya.“… Naomi, maafin Kakak, Ya… Kakak seharusnya lebih merhatiin kamu, lebih meluangkan waktu untuk diskusi dan menyampaikan banyak hal buat kamu en temen-temen kamu yang laen…”, Nadya merangkul Naomi hangat.“ Aku juga pengen minta maaf Kak, kalo aku suka bandel, manja dan kadang malas banget datang kajian… hasilnya ya dapat ilmu juga setengah-setengah dan gak tuntas, ditambah akunya yang suka sok tahu en sradak-sruduk, akibatnya bukan aku aja yang jadi susah, tapi semua jadi ikutan berabe …”, Naomi berusaha panjang lebar mengutarakan penyesalannya .“ Oke, sekarang kita sama-sama janji untuk jadi lebih baik ya…! “, ajak Nadya yang disambut dengan anggukan cepat Naomi.“…hm, dulu aku tuh mikir kalo ta’aruf udah pasti asyik banget… pasti romantis gitu… dan pasti langsung jadi karena orang yang ta’aruf itu udah pasti serius… nggak seperti orang pacaran yang nggak jelas kemana arahnya sekedar for fun aja… “, Naomi menarik nafas lagi, ada yang masih ingin dia sampaikan…“ Kak, tolongin aku minta maaf ke Ary ya… ya Kak,ya… “, pintanya manja… … Sebaris senyum mengembang di bibir Nadya mengikuti anggukan mantap tanda jawaban. Cakrawala menggurat merah di kaki langit seraya gelap turun perlahan menghampiri khatulistiwa. Keduanya berangkulan dan semakin mengeratkan rangkulan. Naomi… Naomi… Ta’aruf… Ta’aruf… (by. Afra Z. Rifa’i)
Posted at 06.15 | Label: Edisi Juni 2008, Qalam | 0 Comments
Telur Dari Ayah
Telur Dari Ayah
(Afra Z. Rifai)
Telur itu hanya satu, sengaja langsung kumasukkan ke dalam piring makan suamiku yang kali ini berisi nasi goreng dengan sedikit bumbu cabe ditambah sesendok kecap manis.” Hmmmm, nikmat sekali... telur mata sapi memang jodoh yang pas untuk sepiring nasi goreng hangat yang sungguh menggiurkan ini... ”, mata suamiku yang kocak tampak berbinar mendapati sebuah telur mata sapi menghiasi piring sarapan paginya... dan seperti biasa aku cuma nyengir saja mendapati suamiku yang tampak sangat bersemangat menghabisi sepiring nasi goreng yang telah kusiapkan untuknya.
Selepas sarapan kuantar suamiku sampai ke depan pintu, tiba saatnya ia berangkat bekerja , tidak kurang setengah jam lagi suaranya akan segera mengudara di sebuah stasiun radio lokal. Yah, Ari_suamiku memang seorang penyiar sedang aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menulis artikel untuk majalah dakwah lokal yang baru beberapa bulan ini kuusung bersama teman-teman sekolahku dulu...Selepas kuiringi kepergiannya dengan lambaian tangan dan doa kembali kuhampiri notebookku yang sedari ba’da shubuh tadi sudah kuaktifkan. Setelah ma’tsuratan seraya menunggu nasi tanak biasanya aku mulai menuliskan sebaris dua baris ide untuk kalimat utama mengawali tulisan demi tulisanku buat penerbitan bulan depan.Penerbitan bulan lalu memang tak bisa dikatakan berhasil, maklum baru terbit dua kali dengan promosi ala kadarnya pula. Oleh karenanya aku tak berani berharap banyak untuk fee dari hasil diterbitkannya beberapa tulisanku pada majalah itu. Sekedar untuk mengisi pulsa dan ongkos ke warnet sudah kusyukuri sekali mengingat usia media ini yang masih begitu belianya.Kulirik digital clock pada sudut notebook second hadiah dari Ari di ulang tahun perkawinan kami yang pertama. Ups, sudah pukul 10... ada baiknya aku sholat dhuha dulu sebelum melanjutkan mempersiapkan hidangan santap siang. Hhhhaaaahhh santap siang..., tanpa sadar bibirku menyungging sarat arti bersamaan dengan helaan nafas panjang mengangkat himpitan rasa pada sesak di dada yang hampir sepekan ini aku rasa... sejenak kubelai lembut perutku yang kian membesar, ada anugerah terindah dari Allah yang sedang berproses menuju penciptaan terbaik di dalam rahimku. Cinta... maafin bunda yaa, belakangan hari ini agak kurang memperhatikan asupan gizi yang harusnya bunda makan untuk kita... Sungguh, Bunda ga bermaksud begitu... tapi uang yang bunda pegang untuk kelola memang semakin menipis padahal masih kurang lebih sepekan lagi menjelang awal bulan. Ada dua kegiatan remaja masjid yang menurutku cukup penting dan membutuhkan dana yang lumayan, Bunda ga tega kalau harus membebankannya pada adik-adik yang sebagian besar masih pada sekolah dan kuliah, sedangkan uang kas kami sudah masuk siaga satu karena habis diperuntukan buat perbaikan atap sekretariat yang semakin parah bocornya di musim penghujan ini... Bunda harus berhemat sayang...kembali kuhela nafas perlahan... Ups, waktu berlalu cepat dan aku harus bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah tangga yang sudah menjadi rutinitasku, pukul setengah dua nanti ada pengajian adik – adik kampus disini, tak jarang hingga menjelang magrib mereka baru pada bubaran, biasalah curhat dinamika dakwah kampus yang tantangannya juga tak kalah seru dari waktu ke waktu...Tepat selepas sholat dzuhur, Ari memarkir honda primanya di teras kontrakan kami. Ada rasa lega karena semua telah kuselesaikan dengan baik... kucium punggung tangannya dengan lembut. Adhari Fachrindra, lelaki sederhana yang telah begitu indah Allah izinkan mengisi hari – hariku dan menjadikannya penuh dinamika, meski terkadang agak cuek..., sering kali sibuk sendiri dan kurang memperhatikan hal – hal kecil seperti... hm, kapan terakhir kali aku makan telur, hehehehe...” Hmmmm.... harumnya sampai ke teras depan, bunda masak apa ya...? ”, tanyanya dengan senyum lebar ...” Tumis teri pake cabe ijo sama bening pakis plus jagung manis,Sayaaaang... ”, jawabku seraya menggandeng tangannya menuju dapur mungil kami.” Hmmm, yummmi...! ”, serunya... senyum manis mengambang di bibirku, Ah Ari memang tak pernah mengeluh atas apapun yang kusajikan untuknya, syukurku padaMu ya Robb....Kami duduk berhadap – hadapan dengan mangkuk lauk dan sayur tersaji diantara kami. Tiba – tiba Ari mengambil sesuatu dari saku jaketnya yang ia sampirkan pada paku di balik dinding kamar kami.” Hmmm Bunda, Ayah ada bawain bunda sesuatu... tolong jangan ditolak, ini juga buat cinta kita yang di perut Bunda lho...”, aku tertegun menatap sebentuk telur yang ia arahkan padaku. Ayah...” Hm Yah, kita bagi dua aja yuk...”, tawarku.... Ari menggeleng...” Ini untuk Bunda...Ayah sudah bela – belain membelikannya untuk Bunda jadi tolong Bunda makan ya... Ayah perhatikan beberapa hari belakangan ini Bunda agak kurang memperhatikan asupan gizi Bunda, sehari – hari hanya makan teri dengan dalih kaya kalsium...Ayah tahu pengeluaran kita untuk bulan ini cukup besar, dan Ayah juga belum dapat menambah pemasukan... Alhamdulillah Ayah dapat bonus dari rekaman iklan pekan lalu, makanya ayah ingin Bunda belikan susu yah, kan sudah habis sejak beberapa hari lalu...”, Ari menyodorkan selembar uang dua puluhan ribu untukku.... Ayah...aku tergugu...tak menyangka, betapa ternyata ia sangat memperhatikan keadaanku... Ari maafkan aku...
read more...
Selepas sarapan kuantar suamiku sampai ke depan pintu, tiba saatnya ia berangkat bekerja , tidak kurang setengah jam lagi suaranya akan segera mengudara di sebuah stasiun radio lokal. Yah, Ari_suamiku memang seorang penyiar sedang aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menulis artikel untuk majalah dakwah lokal yang baru beberapa bulan ini kuusung bersama teman-teman sekolahku dulu...Selepas kuiringi kepergiannya dengan lambaian tangan dan doa kembali kuhampiri notebookku yang sedari ba’da shubuh tadi sudah kuaktifkan. Setelah ma’tsuratan seraya menunggu nasi tanak biasanya aku mulai menuliskan sebaris dua baris ide untuk kalimat utama mengawali tulisan demi tulisanku buat penerbitan bulan depan.Penerbitan bulan lalu memang tak bisa dikatakan berhasil, maklum baru terbit dua kali dengan promosi ala kadarnya pula. Oleh karenanya aku tak berani berharap banyak untuk fee dari hasil diterbitkannya beberapa tulisanku pada majalah itu. Sekedar untuk mengisi pulsa dan ongkos ke warnet sudah kusyukuri sekali mengingat usia media ini yang masih begitu belianya.Kulirik digital clock pada sudut notebook second hadiah dari Ari di ulang tahun perkawinan kami yang pertama. Ups, sudah pukul 10... ada baiknya aku sholat dhuha dulu sebelum melanjutkan mempersiapkan hidangan santap siang. Hhhhaaaahhh santap siang..., tanpa sadar bibirku menyungging sarat arti bersamaan dengan helaan nafas panjang mengangkat himpitan rasa pada sesak di dada yang hampir sepekan ini aku rasa... sejenak kubelai lembut perutku yang kian membesar, ada anugerah terindah dari Allah yang sedang berproses menuju penciptaan terbaik di dalam rahimku. Cinta... maafin bunda yaa, belakangan hari ini agak kurang memperhatikan asupan gizi yang harusnya bunda makan untuk kita... Sungguh, Bunda ga bermaksud begitu... tapi uang yang bunda pegang untuk kelola memang semakin menipis padahal masih kurang lebih sepekan lagi menjelang awal bulan. Ada dua kegiatan remaja masjid yang menurutku cukup penting dan membutuhkan dana yang lumayan, Bunda ga tega kalau harus membebankannya pada adik-adik yang sebagian besar masih pada sekolah dan kuliah, sedangkan uang kas kami sudah masuk siaga satu karena habis diperuntukan buat perbaikan atap sekretariat yang semakin parah bocornya di musim penghujan ini... Bunda harus berhemat sayang...kembali kuhela nafas perlahan... Ups, waktu berlalu cepat dan aku harus bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah tangga yang sudah menjadi rutinitasku, pukul setengah dua nanti ada pengajian adik – adik kampus disini, tak jarang hingga menjelang magrib mereka baru pada bubaran, biasalah curhat dinamika dakwah kampus yang tantangannya juga tak kalah seru dari waktu ke waktu...Tepat selepas sholat dzuhur, Ari memarkir honda primanya di teras kontrakan kami. Ada rasa lega karena semua telah kuselesaikan dengan baik... kucium punggung tangannya dengan lembut. Adhari Fachrindra, lelaki sederhana yang telah begitu indah Allah izinkan mengisi hari – hariku dan menjadikannya penuh dinamika, meski terkadang agak cuek..., sering kali sibuk sendiri dan kurang memperhatikan hal – hal kecil seperti... hm, kapan terakhir kali aku makan telur, hehehehe...” Hmmmm.... harumnya sampai ke teras depan, bunda masak apa ya...? ”, tanyanya dengan senyum lebar ...” Tumis teri pake cabe ijo sama bening pakis plus jagung manis,Sayaaaang... ”, jawabku seraya menggandeng tangannya menuju dapur mungil kami.” Hmmm, yummmi...! ”, serunya... senyum manis mengambang di bibirku, Ah Ari memang tak pernah mengeluh atas apapun yang kusajikan untuknya, syukurku padaMu ya Robb....Kami duduk berhadap – hadapan dengan mangkuk lauk dan sayur tersaji diantara kami. Tiba – tiba Ari mengambil sesuatu dari saku jaketnya yang ia sampirkan pada paku di balik dinding kamar kami.” Hmmm Bunda, Ayah ada bawain bunda sesuatu... tolong jangan ditolak, ini juga buat cinta kita yang di perut Bunda lho...”, aku tertegun menatap sebentuk telur yang ia arahkan padaku. Ayah...” Hm Yah, kita bagi dua aja yuk...”, tawarku.... Ari menggeleng...” Ini untuk Bunda...Ayah sudah bela – belain membelikannya untuk Bunda jadi tolong Bunda makan ya... Ayah perhatikan beberapa hari belakangan ini Bunda agak kurang memperhatikan asupan gizi Bunda, sehari – hari hanya makan teri dengan dalih kaya kalsium...Ayah tahu pengeluaran kita untuk bulan ini cukup besar, dan Ayah juga belum dapat menambah pemasukan... Alhamdulillah Ayah dapat bonus dari rekaman iklan pekan lalu, makanya ayah ingin Bunda belikan susu yah, kan sudah habis sejak beberapa hari lalu...”, Ari menyodorkan selembar uang dua puluhan ribu untukku.... Ayah...aku tergugu...tak menyangka, betapa ternyata ia sangat memperhatikan keadaanku... Ari maafkan aku...
Posted at 06.01 | Label: Edisi April 2008, Qalam | 0 Comments
Langganan:
Postingan (Atom)






