Bangun Dong,Rien…!!!


Bangun Dong,Rien…!!!
By. Afra Zahra Rifa’i

“ Rien, kamu ke kampusnya bareng siapa…?, aku nebeng…ups… “, Mara serta merta menghentikan kalimatnya. Rien masih bergelung di dalam selimut tebalnya, belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan… gadis semester enam itu hanya bisa tersenyum tipis dan berlalu dari kamar teman kosnya… Rien balik malas seperti dulu lagi nih,fikirnya… habis shubuh nerusin tidur lagi sampai beberapa menit menjelang masuk kuliah…
Sebetulnya Mara tidak tega melihat sohibnya sering ditegur dosen setiap kali terlambat masuk kelas, tapi kalau dibangunin pagi-pagi gadis itu sering ngamuk-ngamuk tak karuan… yang pusing kepala lah… yang masih lemas belum bisa bergerak lah… makanya Mara senang sekali ketika Rien terekrut di remaja masjid dekat kos-kosan beberapa bulan lalu, sohibnya yang manis itu tiba-tiba kehilangan kebiasaannya… sehabis sholat shubuh, Rien biasanya ikut kuliah shubuh di masjid dekat rumah terus melanjutkan aktivitas dengan bersih-bersih masjid bareng remaja masjid lainnya atau rapat membicarakan program syiar dan semacamnya… biasanya dia juga ikutan tilawah bersama sambil menunggu dhuha… selesai semua aktivitas baru deh mereka pulang ke rumah en siap-siap kuliah plus menjalani aktivitas lain yang tak kalah fullnya di kampus. But now… sejak kegiatan remaja masjid mulai kendor karena aktivitas masing-masing personilnya Rien serta merta kembali ke kebiasaan lamanya… Mara betul-betul prihatin melihat sahabat tersayangnya…
* $ *
Suasana musholla masih tenang seperti biasa, maklum masih relatif pagi dan baru akan mulai ramai di jam istirahat pertama… kebanyakan yang datang sekedar numpang duduk-duduk sambil makan makanan ringan, maklum…kantin selalu penuh sesak dengan mahasiswa yang tak sempat sarapan sebelum berangkat kuliah… selebihnya lagi ada juga yang sholat dhuha atau janji bertemu untuk minjam buku, nyalin catatan, ngerjain tugas dan sejenisnya…
“ Assalammu’alaikum, Afwan bisa tolong panggilin ukhti Rien…”, pinta sebuah suara dari balik hijab yang memisahkan zona ikhwan dan akhowat .
“ Wa’alaikumsalam…Ukhti Rien belum datang, mungkin langsung ke kelas…coba lagi di istirahat pertama aja…”, usul Mara.
“ Oke deh, by the way kalau Anti ada bertemu Ukhti Rien , tolong sampaikan padanya Zaky mau konfirmasi tentang jadwal Rapat Rutin Bidang Litbang Pasca Lebaran… Jazakillah ya…! “
“ Wa iyyaka, insya Allah Ana sekelas dengan Ukhti Rien, Insya Allah nanti akan Ana sampaikan pesannya…”, janjinya… Sebelum beranjak dari balik hijab gadis itu menyempatkan diri melirik ke arah jam digital di layar HPnya, Ups ternyata hampir setengah delapan. Syukurnya Amara sudah menyempatkan Dhuha tadi… namun tetap saja dia masih harus ambil langkah seribu sebelum Mr. Pasaribu mendahului gadis berkacamata minus dua itu menjejakkan kakinya di Ruang Melati, kelasnya di jam pertama,pagi ini…
* $ *
Ketika Bel istirahat pertama berbunyi keadaan musholla persis seperti dugaan Amara pagi tadi… ramai, hiruk pikuk dengan salam-salaman plus maaf-maafan, maklum masih dalam suasana idul fitri… yang belum sempat silaturahim, yang baru pulang dari lebaran di kampung… semua-semua pada berebutan saling meminta ridho atas kekhilafannya selama ini… di sudut lain ada juga yang berdesakan antri buat sholat dhuha. Yah…musholla ini memang sudah lama triak-triak minta dibesarkan…tapi belum lagi sanggup dipenuhi para pengurus musholla, karena dana yang terkumpul belum seberapa…paling-paling cuma cukup untuk memperbaiki tempat wudhu akhwat dekat ruang kestari yang memang sudah agak-agak kurang layak…tapi don’t worry be happy, dengar-dengar tahun ini panitia perbaikan musholla sudah punya seabreg rencana dan rancangan strategi buat mengumpulkan dana sebuanyak-buanyaknya demi musholla tercinta, so please dech ukh, be patient githu…
Masih di ruang kestari musholla…
“ Please dech akh, Ana ngga bisa kalo rapatnya jam enam pagi… itu masih terlalu pagi… “, terdengar suara Rien meninggi.
“ …Tapi Bidang Pembinaan & Kaderisasi bisa… mereka rutin rapat setiap jam enam pagi di hari jumat…”, balas suara di balik hijab.
“… kenapa sih kita harus ikut-ikutan anak kaderisasi… kita ya kita, kaderisasi ya biar saja…”, Rien masih meninggikan suaranya…
“… kita bukannya ikut-ikutan, Ukh… Ana hanya bercermin dari Ukhti Amara dan staf-stafnya yang kebetulan teman sekelas Ana juga… mereka berhasil menyelesaikan kendala waktu rapat dengan menentukan jadwal rapat lebih pagi dari jam masuk kuliah…lantas kenapa kita tidak mencobanya juga..? ”, desak Zaky yang mulai ikutan tak sabaran menghadapi akhowat yang hanya terpisah sehelai kain tebal berwarna hijau tua di hadapannya.
“ Memangnya siapa aja yang setuju dengan usulan antum…! “, Rien balik mengejar…
“ Semua ikhwan, termasuk Ukhti Indy dan Ukhti Farah…!!! “, tegas Zaky
“ Farah juga…!!! “, Rien terkejut, selama ini Farah si adik tingkat memang yang paling dekat dan paling setia mendukung segala pendapatnya, termasuk yang berseberangan dengan Zaky, Bosnya.
“ So, gimana… Ana hanya tinggal menunggu persetujuan dari ukhti…”, kembali Zaky melembutkan suaranya… pemuda itu yakin, bukan debat kusir solusinya dan dia memang harus sabar menghadapi saudarinya yang rada vokal plus afwan…sedikit keras kepala… Keduanya terdiam, tepatnya Rien tertunduk lemas tanpa diketahui lawan bicaranya… sekilas ia melirik ke arah Amara yang menemaninya bicara saat ini. Gadis itu hanya diam saja dari tadi, karena memang sekedar menemani agar keduanya tidak berkhalwat alias berdua-duaan…Amara menganggukkan kepalanya pada Rien…
“…Insya Allah aku bantu deh…”, bisiknya ke telinga gadis belia itu… Rien menghela nafasnya dengan berat…
“ …demi dakwah , Rien… perjuangan ini membutuhkan pengorbanan, lagi pula Rasulullah kan memang tidak suka jika sahabatnya meneruskan tidur ba’da shubuh, hingga hukumnya jadi makruh… “, bisiknya lagi menguatkan sahabat di sisinya… dan gadis yang tampak manis mengenakan kerudung ungu muda bermotif bunga-bunga itu pun kian tertunduk…
“ Iiinsyaa…Allah…deh…”, sahutnya dengan suara ogah-ogahan…
“ Alhamdulillah…”, terdengar suara Zaky dipenuhi energi kelegaan …
“ So, kita mulai Jum’at besok ya Ukh…”, pemuda itu meneruskan kalimatnya…
“ Hah… secepat itu…!!!, pekan depan dong,Akh…”, kembali suara Rien panik dan meninggi…
“ …pekan depan sudah mid test… kita dikejar waktu, please Ukh…ini demi dakwah…bukan demi Ana…!!! “, Ups… Zaky kelepasan bicara… wajahnya seketika memerah…
“ Apa-apaan sih, tentu aja demi dakwah… ngapain juga demi antum !!! “, sambar Rien dengan nada sedikit tersinggung seraya menyembunyikan kepiting rebus yang kini mejeng di wajahnya…
“ …ya sudah, mulai besok ya…!!! “, putus akhowat itu berapi-api…
Amara yang sempat terkejut mendengar percakapan yang mulai ngawur itu bertakbir dalam hati melihat sang sohib kini bersemangat kembali…
“…iya sudah… besok ya…”, balas Zaky dengan suara ngga enak hati …nah,lho… ada apa ya…? Makanya Akh kalo ngomong hati-hati… salah-salah ngomong bisa jadi penyakit hati… Amara nyengir seraya beristighfar dalam hati… please dech, jangan buat masalah baru lagi… bisik Ketua Bidang Pembinaan & Kaderisasi Musholla itu dalam hati…(18 November 2005
Dedicated to All my beloved friends in Dakhwah’s way@UNTAN… Keep Istiqomah…!!! en miss U bgt…hiks…)

read more...

Virus Bunga-Bunga,ni ye…


Virus Bunga-Bunga,ni ye…
Afra Zahra Rifa’i

“ …dia datang lagi ga’ ya…? “, mata berbulu lentik itu menerawang keluar jendela…
“ siapa Dis…? “, tanya Anne penasaran melihat gaya sohibnya yang tumben sok romantis. Huuh, si Gadis malah menjawab dengan senyum malu-malu… mencurigakan !!!
“ hm…itu loh, Abang yang kemaren wawancara aku dari Majalah remaja baru itu…”, Gadis melembutkan suaranya…Aih, nih anak kenapa jadi centil begini, refleks Anne merinding…
“…maksud kamu Bang Pria…? “, sambar Anne cepat. Sensornya menangkap ada agresi virus bunga-bunga yang sedang melakukan infiltrasi besar-besaran pada muslimah yang berada di dekatnya saat ini.
“ kamu bayangin aja deh Ne… di sekolah kita ada seabreg siswa-siswi berprestasi dari berbagai jenis potensi, Ada Meira yang jago piano…ada Tyo yang ahli matematika…ada si cantik Nova yang selalu menang lomba modelling, belum lagi Fero yang MVP,Viona finalis aktris lokal berbakat,Keke sang pujangga en laen-laen termasuk kamu yang dua kali juara satu lomba karya tulis ilmiah kok dia malah milih aku untuk profil remaja berprestasi bulan depan… pastinya kan dia emang sudah tau aku en ngikutin terus perkembangan prestasi aku selama ini, Ne…”, Gadis yang emang sering menang speech contest itu dengan semangat empat lima memaparkan analisanya…please dech,Dis…
“ itu kan karena…”, Teeet…teet…teet…bunyi bel tiga kali tanda istirahat selesai menenggelamkan kalimat-kalimat Anne selanjutnya, terlebih karena Gadis juga terlihat ogah mendengarkan kelanjutan argumen Anne yang awalnya sudah tidak antusias menanggapi perasaannya yang dipenuhi mawar, melati, kembang sepatu dan masih banyak lagi…
Sepanjang perjalanan pulang Anne lebih banyak diam… dia tahu Gadis sedang jatuh hati pada Bang Pria, wartawan muda yang sebetulnya ga ramah-ramah amat or kocak githu…bahkan cenderung too cool dan ja’im, jaga iman maksudnya…Well, emang ga semua cewek suka sama cowok genit en gombal kan…? Termasuk Gadis juga tentunya…ups, by the way ramah en kocak juga bukan berarti genit dan gombal lho ya…
“ Bang Pria itu kalo ngomong efektif banget kalimatnya…, to the point en sopaaaan banget… kamu lihat sendiri kan, kalo dia ga pernah melototin aku kaya’ Diko waktu wawancarain aku untuk majalah sekolah bulan lalu…tapi dia juga ga buang muka…cara dia jaga pandangan hebat banget deh Ne…jangan-jangan dia tahu soal kewajiban jaga pandangan seperti yang dijelasin Kak Maya pekan lalu… jangan-jangan dia seperti ikhwan-ikhwan di musholla kita juga ya,Ne…”, Gadis terus nyerocos… Hya, walau sudah kelas dua Gadis emang baru ikut kajian… itu juga atas ajakan Anne yang setia jadi teman sebangkunya sejak mereka sekelas bareng.
“ ya iyalah dia ikhwan…masa akhowat kaya’ kita…!!!, btw ngaku deh…kamu pengen jadi pacar dia ya…!!! “, tembak Anne tiba-tiba… wajah Gadis semakin memerah…
“ ya nggak lah Ne… gini-gini kan aku ngerti kalo pacaran dalam islam itu ga ada… kecuali setelah menikah, Kak Maya kan sudah jelasin itu ke kita beberapa pekan yang lalu…”, Gadis membela diri… Anne menghela nafas lega, namun tak urung dia sempat menyangsikan jawaban gadis manis berkerudung pendek yang kini memalingkan wajahnya ke arah rerumputan…
“ …kamu yakin…? “, Anne merendahkan suaranya…ups, kenapa dia harus nanya seperti itu ke Gadis…iseng banget sih…!!! Wajah Gadis memerah kembali…
“ hm…i…iya, ya…yakin…tapi jujur aja deh, aku merasa ada ribuan kupu-kupu dalam perutku setiap kali ketemu dia…ga normal banget kan,Ne…”, Gadis kini menatap Anne dengan wajah memelas pasrah…Anne tulus membalas tatapan itu dengan senyuman…
“ …kaya’nya gejala VBB deh Dis, virus bunga-bunga …!!! “, celetuk Anne menggoda…
“ …maksud kamu kaya’ virus merah jambu alias VMJ githu…? “, kejar Gadis…
“ Well, kalo virus merah jambu itu kan udah yang parah githu, nah kalo virus bunga-bunga itu baru sampai level ge eran kaya’ kamu…”, celoteh Anne … Gadis manyun…
“ Jadi aku mesti gimana dooong Ne… abisnya dia yang bikin aku ge er duluan … coba kalo dia milih wawancarain yang laen, aku kan jadi ga berprasangka indah seperti yang aku ceritakan di kelas tadi ke kamu…!!! “, Gadis lemes…
“ Denger ya, Gadis Dyah Sekarini… Bang Pria itu milih kamu karena rekomendasi dari Kak Maya…mentor kita yang sekaligus kakak sepupuku…!!! “, jelas Anne…Gadis membesarkan bola matanya…
“ Hah…masa sih,Ne…kamu tega banget ga bilang-bilang sama aku kalo Kak Maya yang meminta Bang Pria ngewawancarain aku…”, ekspresi kaget jelas tergambar utuh di wajah Gadis...
“ Abisnya kamu ga mau dengar penjelasanku sih…Bang Pria itukan adik tingkatnya Kak Maya di kampus… satu jurusan di Fakultas Komunikasi…majalah baru itu gawean mereka plus teman-teman kampusnya yang lain… sekarang kan banyak remaja seperti kita yang ga’ ngeh Bahasa Inggris tuh…padahal bahasa itu bahasa internasional yang kudu dikuasai agar sebagai muslimah kita ga kalah bersaing dengan kompetitor-kompetitor di luar sana…makanya Kak Maya merekomendasikan nama kamu… coz kamu kan emang langganan juara speech contest dari SD, pastinya bisa memotivasi teman-teman yang lain biar semangat belajar bahasa Inggris juga, begitu ceritanya nona manis…!!! “, papar Anne panjang lebar dengan harapan Gadis ga’ salah paham lagi soal kebaikan hati Bang Pria mewawancarai dia tempo hari.
Gadis menggigit bibir bawahnya pelan…wajahnya yang sedari tadi bermusim semi perlahan mendung dan terancam turun hujan…
“ Astaghfirullah, hati aku kok gampang banget berdebu ya,Ne… mungkin karena aku sering ga jaga pandangan kali ya…”, Anne menunduk dalam…
“ Alhamdulillah kalau kamu segera menyadari di mana letak celahnya… kamu ingat perkataan Kak Maya waktu itukan…kalo tatapan mata itu sama dengan anak panah syaitan…dan kita sama-sama tahu kalau syaitan itu ga akan pernah kapok ngegodain manusia…kecuali mereka-mereka yang ikhlas dalam beramal… ayo ikhlaskan wawancara kamu sama Bang Pria… ikhlaskan itu semata-mata karena Allah, agar setiap muslim – muslimah yang baca tulisan itu jadi semakin termotivasi dalam meraih prestasi demi kebangkitan Islam…” Gadis pun perlahan mengangguk lemah. Anne merangkul Gadis memasuki pagar rumahnya…di depan pintu Kak Maya sudah menyambut mereka dengan senyuman hangatnya…Yup, mereka emang ada kajian pekanan hari ini…kajian yang sangat dirindukan dan dinanti-nanti Gadis sepanjang hari…

read more...

Maya Oh, Maya...

Maya Oh, Maya...
By. Rizkika Izzati Hayya


“ …What, kamu nolak Maya…sakit jiwa… Maya gitu loch… Wilmayasha Amaradewi, anak 2IPA1, Bussyeeet... ”, Meo geleng – geleng kepala sesaat setelah menirukan gaya presenter TV favoritnya...
”... Ah, yang bener Gi... loe ga sedang bercanda kan...? jadi benar gossip yang beredar beberapa hari kemarin, kalo Maya cari – cari nomor HP loe... jadi beneran cover girl itu nembakin loe...?!?! ”, giliran Eza garuk – garuk kepala . Aku menarik nafas dalam – dalam... ga nyangka bakal terancam jadi selebritis Khatulistiwa High cuma gara – gara perihal sepele kaya’genee.. sekali lagi kutarik nafas dalam – dalam sebelum melangkah pergi meninggalkan cool corner tempat ngumpul anak - anak band yang katanya high quality jomblo bangeet, ntah versi siapa...
” ...Euy,Gi... say something dong... bagi – bagi jurus gitu… “, teriak Ben saat aku menghilang di balik pintu perpustakaan tak jauh dari pojok angker yang baru saja kutinggalkan…huh,siapa yang sakit jiwa sih sebenarnya…
Semua bermula sejak kehadiran Maya, si anak baru di kelas sebelah… physicly : perfect memang... smart lagi, gampang dideteksi dari nilai – nilai quiznya yang cakep abis… baik…? Iya, baik juga seeh, walau banyak yang suka rada keki sama kelebihan – kelebihan cewek pendatang baru itu,meski dia termasuk ramah, supel en asyik juga kayanya…
Jujur aja ya… aku sebenarnya simpati sama Maya. Cerdasnya kelihatan banget saat diajak diskusi… beberapa waktu lalu ga sengaja kita memang sering ketemu di depan dinding kaca tempat Koran pagi di pasang buat dibaca rame – rame sama siswa… sayangnya ga banyak anak yang tertarik cari tahu perkembangan terkini tentang negerinya… alhasil, segelintir yang langganan mampir sesaat di tempat itu jadi begitu mudah dikenali dan saling mengenal tentu saja…
Tak jarang gara – gara keasyikan ngebahas something, Kania sohib sekaligus sepupuku yang juga staf Keputrian Rohis itu pasang tampang jutek di kejauhan... Jealous…?, Ah Nia… semula aku ga begitu ambil pusing, setahuku Nia memang rada ketat urusan interaksi cowok – cewek… tapi aku kan cuma ngobrol aja… ga ada masalah pribadi pula… jangan negative thingking gitu dong, Sis…
Tak lama kemudian, gossip murahan itu pun mulai berhembus kemana – mana… Maya suka nanyain aku… Maya titip salam buat aku… Maya pengen gabung di Science Club Khatulistiwa High gara – gara aku… berita yang bikin gerah Ben cs karena dia yang paling getol deketin en cari-cari info tentang Maya, dia yang duluan pamer sikap : gue lagi on mission to ngegebet Maya...
Aku berusaha tetap rileks aja... buat aku Maya ga lebih bahkan ga sebanding dengan Nia dan teman – teman putri yang lebih dekat dengan aku sebelumnya... aku yakinkan Nia, kalo apa yang ia dengar selama ini cuma bisa – bisanya forbigos alias forum biang gosip lintas kelas yang baru – baru ini terakreditasi sukses bikin tambah runyam suasana... pfuifh, sudah nasibku barangkali...
Tapi sekali lagi, Maya memang gadis luar biasa...pada waktu – waktu luangnya sering kutemukan dia aktif di kegiatan sosial dan aktivitas bermanfaat yang umumnya dihindari remaja seusianya.... Masa bodo’lah fikir mereka... ngurusi diri sendiri aja belum beres sudah berani – berani ngurusi orang lain pula, fikir kebanyakan dari anak – anak muda itu...
Tak sekali dua kali aku bertemu Maya di kegiatan peduli anak jalanan...dia mengajari mereka membaca... menulis bahkan bernyanyi... suaranya yang indah menyempurnakan wajahnya yang good looking... tapi jangan harap karena itu semua aku luluh padanya...
Dia juga rutin mengunjungi Panti Jompo di pinggiran kota , untuk yang satu ini aku tahu dari Kak Tari yang juga relawan di sana. Tapi sekali lagi, tidak semudah itu seorang Algifari terperdaya... sungguh aku hanya simpati, tidak lebih dan tidak akan pernah lebih...
Kalian mau tahu kenapa... ini berawal sejak Ayah cedera kaki pasca kecelakaan kerja beberapa bulan yang lalu, kini tiap ahad pagi sepulang main basket di taman kota aku yang bertugas menemani ibu ke pasar untuk belanja kebutuhan rumah tangga selama sepekan bila Kak Tari harus berangkat keluar kota... tak jarang ketika kami berada di pasar aku berpapasan dengan para jemaat gereja besar di tengah kota yang sedang menuju ke sana untuk melakukan peribadatan rutin mereka... Nah, saat itulah aku berjumpa dengannya... sosok Maya yang dikagumi seantero Khatulistiwa High... setiap Ahad pagi dia dan keluarganya kujumpai turun dari sebuah mobil mewah dengan pakaian rapi siap mengikuti misa pagi... hya, dia seorang gadis nasrani yang taat, seorang gadis yang tak sekedar cantik tapi juga berbudi luhur dengan kepeduliannya pada sesama...
Sering aku berbagi dengan Nia, berharap dia mengerti dan menghentikan kasak – kusuk komentar iri para gadis di sekolah kami terhadap Maya. Daripada menggunjing tentangnya, lebih baik berlomba – lomba berbuat kebaikan, tentu saja ini akan lebih produktif hasilnya... Alhamdulillah, Nia cepat paham... walau tidak demikian dengan teman – teman lainnya.
” Afwan, Gi... Nia sudah su’udzon sama Algi... Nia yakin Algi bisa jaga hati... Algi juga bisa mengambil hikmah dari realita ini... Nia jadi malu, karena ternyata Maya lebih memiliki hati yang tulus untuk memberikan kepedulian pada sesama, sedang Nia masih suka asyik sendiri dengan kesibukan Nia...”, tuturnya perlahan mengakui kekhilafannya...
”...iya, Gi...akhowat – akhowat yang lain juga jadi lebih introspeksi diri sejak kehadiran Maya di tengah – tengah kita walau baru beberapa bulan ini...”, sambung Rizky, Ketua Divisi Keputrian Rohis tahun ini.
” ... Algi juga merasa masih harus berbuat lebih banyak lagi... Algi butuh teman – teman untuk bersinergi, Nia, Rizky dan yang lain siap terjun bersama Algi dalam program – program pengabdian masyarakat oleh Rohis plus Kru Science Club kita tahun ini kan...? ”, tanyaku... dan Alhamdulillah disambut anggukan mantap gadis berkerudung ungu muda itu diikuti teman – teman kami yang juga turut meramaikan percakapan menjelang senja di teras mushola...

read more...

Hotline Service


HOTLINE SERVICE
By. E. Damayanti Rifai

“ …malem Geo, mo ngucapin salam buat siapa aja nee…jangan lupa spesialnya ya…”, sapa Ova centil…
“ …mo ngucapin Assalamu’alaikum buat adek-adek baru yang tadi siang ikutan orientasi Islamic Student Club, seperti Dimas, Ozzy, Zaky, Devon en laen-laen…istiqomah ya dek…specialnya buat Bang Ihsan ketua panitia, ucapannya Alhamdulillah Bang segala kemudahan telah Allah anugerahkan pada kita…semoga kerja keras beberapa pekan terakhir ini Allah terima sebagai penambah berat timbangan kebaikan kita di yaumul hisab kelak. Amien “ ucap Geo mantap mengakhiri kalimatnya. Ova terdiam, masih bengong dengan apa yang baru aja di dengarnya… pesan macam apa ini…? Istiqomah ? yaumul hisab ? asing… !!!
“ Halo Kak Ova…! Masih di sana…? “, sapa Geo yang jadi risih karena tiba-tiba keadaan jadi hening…
“… eh, iya nih…hm ada lagi ga pesannya…? Buat someone special terspecial githu…”, pancing Ova, penyiar kondang yang konon favoritnya anak-anak gaul di sekolah-sekolah beken di kotanya.
“ Hmmm iya, ada Mbak…buat Hendro, kok lama ga nongol di Musholla Ndro, kita-kita kangen loh sama azan kamu yang merdu ... soal mikropon yang rusak itu sudah diganti kok, that’s ok bro… by the way kita-kita lebih sayang antum kok ketimbang mikropon itu “, nah lho… kok special terspecialnya malah buat yang namanya Hendro…? Bukannya Henny or Helen or Habibah may be… or cewek manalah…
“ …kamu jomblo ya Ge…Devi ama Rara yang temen satu sekolahan ma kamu bilang kalo kamu termasuk keren banget en difavoritin ma cewek-cewek gaul lho, ga kalah ama Yoga or Niko model lokal itu…kenapa ga cari gebetan aja sih… “, ceplos Ova yang emang penasaran ama ikhwan musholla yang berkali-kali nyabet juara satu speech contest antar sekolah satu ini…
“ …syukron idenya Kak…tapi sepertinya Allah lebih ridho kalo Geo Jomblo aja deh…Gubrak… jawaban model apalagi tuh…Ova KO, telpon-telponan pun berakhir…
Allah lebih ridho kalo Geo jomblo… trus kita-kita yang punya gandengan or kecengan gini ga diridhoin Allah, gitu…? Ah ga ngerti…
***
“ Hallo, Siapa nee…? “, Tanya Ova di seberang operator…
“ Chika, Kak Ova…Assalammu’alaikum…”, sapa sebuah suara yang kini mengudara…
“ wa’allaikumsalam Chika… mo kirim-kirim buat siapa aja malam ini…? “, sambut Ova ramah… dia kenal Chika, langganan juara menulis surat cinta peringatan hari ibu yang diadain radionya…
“ Buat Kak Maya, Kak Melati, Kak Deasy en kakak-kakak yang lain yang udah support Chika pake kerudung… Alhamdulillah, sekarang Chika sudah menjalankan kewajiban Chika sebagai muslimah dewasa sebelum ajal menjemput, iiih syereeem… datangnya kan bisa kapan aja tuh… ga ngasi kabar dulu lagi…!!! makasih thauziahnya ya Kak…”, ini lagi makhluk ajaib…tapi apa yang dia bilang masuk akal juga sih… Ova mulai menggaruk-garuk kepalanya yang spontan jadi terasa gatal…ups, belum dijilbabin nee…mana rambutnya keren gini lagi…pantesan si Jody hobi ngacak-ngacak rambut gue, fikirnya…
“ Specialnya buat siapa Chika…? “, pertanyaan wajib…
“ …hmmm, Buat Bang Pras aja deh di kelas sebelas IPA lima, afwan…bukannya Chika sok jual mahal pake acara nolak tawaran antar jemput Abang , Chika hanya khawatir itu bisa mengotori hati kita …selain emang ga syar’I berdekatan dengan disengaja… trus kasian kan suami Chika nanti, dapat istri yang bekas-bekas dibonceng kesana kemari sama lelaki yang bukan mahromnya, beduaan lagi…deuuu chika ngomong suami, eits…udah gede nee…so maapin Chika ya Bang… Abang emang oke punya, lebih oke lagi kalo rajin sholat di Musholla trus ikut kajian sama Abang-abang yang laen, kaya’ Bang Ihsan, Bang Geo, Bang Oky en laennya…ditanggung bidadari-bidadari syurga bakal naksir berat ama Abang…gpp ya Bang ya…” bisa aja nee anak…
“ Buat Kak Ova, Thanx Berat en I Love U coz Allah, Assalammu’alaikum…”, serunya riang…
“ Eh, hm…i..iya…wa’alaikum salam… aduh jadi ge er di love love in…makasih ya,Chika… it’s so sweet…”, pipi Ova memerah, ternyata dicintai saudara seiman bisa bikin bahagia juga ya… mungkin karena tulus, jadi berasa bangeeet…
Selepas mengakhiri siarannya, perlahan Ova mengambil sesuatu dari saku tasnya…dua lembar foto berukuran post card, yang satu foto dia dan Jody pacarnya di kampus en satunya lagi foto dia bersama Mbak Eva, Vania, Ade dan Sita, sahabat-sahabatnya yang selalu rajin mengajaknya ikutan kajian tiap jumat siang zaman SMUnya beberapa tahun yang lalu…tiba-tiba dia kangen pada mereka semua, pada Mbak Eva yang sabar menghadapi ulahnya…pada Vania cs yang ga pernah kapok dijahili olehnya…pada musholla yang dulu tak begitu ramai namun sejuk di matanya… Well, Jody emang TOP BGT…pinter,tajir en romantis banget lagi…tapi apa benar dia yang bakal jadi jodohku, fikir Ova diusianya yang kini memasuki dua dua…kalo ga gimana, benar juga yang Chika bilang barusan…kasian suami gue kan, rutuknya dalam hati…bisa-bisa gue dapat yang bekas-bekas juga nee…kenapa sih manusia suka sok tahu, padahal Mbak Eva dulu pernah bilang, jodoh manusia ga mungkin tertukar dan akan datang jika saatnya tiba…trus, kenapa repot-repotnya sekarang… persiapan emang kudu tapi larak-lirik ya ga perlulah… apa lagi sampe jadian segala, ups… trus Jody gimana Va…!?!?, TTM aja kali ya…??? No Way Ova… itu sama aja dengan ngotor-ngotorin hati… jaga silaturahim wajib… tapi ga cuma sama dia aja dooong… mencintai sesama makhluk Allah juga harus…apa lagi yang jelas-jelas mencintai Allah dan Rasul_Nya, nah lho… Ova kamu makin pinter aja sekarang…trus Jody…??? Please dech, Va… jodoh ga lari kemana… lagi pula baik menurut kamu kan belum tentu baik menurut Allah… tapi Allah pasti tau yang terbaik buat kita…ingat Va : Allah ga bakal ngasi sesuai keinginan, tapi sesuai kebutuhan… so, gimana Ova sayang…??? (nah lho, sepertinya sedang terjadi diskusi seru antara Ova dan hatinya…, tak jauh di sekitarnya ada nafsu dan syaithan yang juga ga kalah getol mempengaruhi sikapnya…Sobat, kita doakan Ova berhasil menemukan hidayah Allah ya… !!!)

read more...

Maafin Mia, Ya Kak Ary…!

Maafin Mia, Ya Kak Ary…!
By. Dyan Rifa’i

“ …saya tunggu hasil liputan expo pendidikan kemarin di meja saya pukul satu…”, datar, dingin, tanpa basa-basi… pfuiffh, benar-benar siluman pinguin…
“ hm, tapi Kak…flash disk saya hilang dan hasil liputan itu tersaving di sana, saya mohon diberi waktu tambahan…”, pintaku dengan suara di tekan sedalam mungkin. Mata elang dibalik kacamata minus dua itu sesaat menatapku tajam…
“ hilang…? Ceroboh sekali kamu… flash disk itu sama dengan nyawa dan otak kedua para jurnalis… kalau sampai hilang, sama saja dengan kamu telah kehilangan keduanya…”, wajah tirus itu berpaling dariku, dengan dagu yang sedikit terangkat jelas kudapati utuh wujud kekesalan di sana…
“ saya tunggu sampai pukul tiga, ba’da ashar saya tidak ingin diganggu dengan masalah konyol seperti ini lagi… dan jangan lupa, sore ini kita ada rapat redaksi…on time ok !, kamu sudah terlambat dua kali ! “, tegasnya mengakhiri pembicaraan sebelum akhirnya melangkah lintasi meja kerjaku yang serta merta ikut terasa dingin jadinya…Bbrrr - 5°C, sekujur tubuhku seketika merinding pula dibuatnya…
Flash disk itu hadiah ulang tahun dari Mas Rama, Kakak sepupuku yang telah terlebih dahulu berjibaku di surat kabar lokal…Kak Ary benar, tidak seharusnya flash disk itu aku hilangkan… lihat nasibku sekarang, sederetan data-data penting milik redaksi plus tugas-tugas sekolah ikut raib bersamanya… tapi aku kan ga sengaja…!!! Asli ga sengaja banget… aku ingat betul terakhir kali MP4 yang juga bisa buat merekam wawancara itu aku simpan baik-baik di kotak pensilku sebelum meninggalkan redaksi sore kemarin…hik, sekarang ga ada lagi yang perlu disesali… semua terjadi begitu cepat dan dengan cepat pula aku harus segera menyelesaikan laporan liputan expo yang diminta Kak Ary atau kalau tidak… hiii syerem… pemimpin redaksiku yang perfeksionis itu akan menelanku bulat-bulat… Ah, Mia kamu hiperbola banget sih… ga mungkin lah Ary Prasetya, senior kamu itu sanggup menelan kamu hidup-hidup…!!!
Sebetulnya banyak teman sekelasku yang pada heran kenapa aku begitu nekad gabung di klub jurnalistik yang dikomandani Kak Ary, kakak kelas tigaku yang terkenal jutek abis, rada sinis en terlalu serius plus jenius itu… kenapa ga gabung di klub tari or ansamble musik aja… atau kalau memang suka menulis, mendingan ngeramein poetry community yang anak-anaknya pada romantis abis …Well, aneka komentar dan tawaran terpaksa dengan manis kutampik coz jurnalistik emang sudah menjadi pilihanku sejak dulu… bergabung dengan klub jurnalistik siapa pun pemimpinnya sudah menjadi cita-citaku saat pertama kali menjejakkan langkah di Khatulistiwa High ini… walau rada gerah dengan sikap Kak Ary yang agak kurang bersahabat aku yakin banyak hal yang bisa aku dapati di sini… sekilas kulirik Mbak Ika yang ga pernah bosan menghadiahiku senyuman hangat dan tatapan teduhnya yang menentramkan… lalu kualihkan pandanganku menuju Kak Oky yang selalu ceria dengan hobi jeprat-jepretnya yang menghibur… belum lagi sederetan nama-nama teman seangkatan yang turut menghuni klub kecil ini…nama-nama yang juga akan selalu memenuhi sudut-sudut hatiku…
“ sabar ya, Mia…Kak Ary ga pernah benar-benar marah kok… percaya atau nggak, dia sengaja menerapkan disiplin pada kita semua agar tidak terbiasa menomorsekiankan kerja-kerja redaksi… agar bisa memahami betapa yang kita lakukan ini sangatlah penting dan bukan main-main…”, tutur Mbak Ika seraya duduk di dekatku yang sedang garuk-garuk kepala memikirkan kalimat utama susunan laporan yang diminta.
“ Don’t Worry, Mbak…Mia baik-baik aja kok… lagipula Mas Rama sering cerita tentang Kak Ary yang juga juniornya di kantor… menurut Mas Rama, Kak Ary punya dedikasi yang tinggi dan talenta yang luar biasa, Mia harusnya bangga bisa bekerja dalam satu tim dengannya… tapi tetap saja sih Mbak, kadang Mia terganggu juga dengan sikapnya yang gak berperasaan… kok ga ada manis-manisnya sama Mia dan teman-teman… apa karena Mia junior ya,Mbak…? Jadi hanya dipandang sebelah mata…? “, tanyaku lepas… Mbak Ika menggeleng cepat… diraihnya tanganku dengan lembut…
“ Mia jangan salah paham… Kak Ary ga seperti yang Mia sangka… mungkin di depan Mia dia lebih memilih bersikap dingin seperti yang kita lihat, tapi Mia ga tahu kan kalo di belakang Mia dan teman-teman Kak Ary justru begitu memperhatikan dan peduli pada kalian semua…Mia, husnudzon ya…”, pintanya tegas dibalik kelembutan sikapnya…
“ Hya, oke deh kakak… apa sih yang ga buat Mbak Ika ku tersayang “, bisikku ke telinganya… waduh, sudah setengah tiga lewat lima belas menit, alamat kudu sprint nee…
Tiba-tiba…
Huk, hah…hu…hah….hosh…bruk…!!!
“ Mi…Mi…Mia, ma…ma…maaf…kan da…ku…Mi…”, aku bengong menyaksikan Don nyungsep di depan meja kerjaku…
“… ayo Don, minum dulu…”, setelah ngejepret beberapa kali barulah Kak Oky memperbolehkan aku menyodorkan segelas air mineral pada Don yang masih terengah-engah di hadapan kami, duh tega juga nih kakak…
“ Wahai Mia, sahabatku yang baik hati… sudilah kiranya dirimu memaafkan diriku ini…”, Huuu, mulai kumat lagi nih personil poetry community…
“… ada apa sih, Don… to the point, napa…?! “, potongku risih…
“ Mia manis, daku mendengar dari Riri anak 1.7 yang juga kru mu di redaksi kalau dirimu baru saja dimarahi Kak Ary karena menghilangkan Flash disk berisikan liputan laporan expo kemarin ya…? “, tanyanya dengan ekspresi serius yang unik…
“ Hm, he eh tuh… trus apa hubungannya sama kamu Don…? “, tanyaku penasaran…
“ Mia, apakah dirimu tidak membaca puisi yang kuselipkan di saku ranselmu…isinya pemberitahuan bahwa daku meminjam flash diskmu untuk merekam pembacaan puisi pilihan poetry community bulan ini tadi malam…”, dengan tampang sayu plus pasrah Don meletakan benda berkapasitas 1 GB itu di atas mejaku…terang aja aku exciting bangeet melihatnya…
“ Alhamdulillah… trims ya,Don… right on time… by the way, puisinya kuberikan pada Jelita, fansmu anak 1.4…habisnya aku ga ngira isinya penting githu… ya sudah, ga pa pa…hanya lain kali tinggalkan pesannya dengan kalimat efektif aja ya…”, segera kutinggalkan Don yang masih melongo karena tak menyangka punya fans anak 1.4, Itukan kelasnya para selebritis Khatulistiwa High, fikirnya… Dengan wajah ceria aku pun berlari kecil menuju ruang khusus milik Kak Ary di lantai dua redaksi, tinggal dua menit lagi… Kak Ary, I’m coming…
Kuhentikan langkahku seketika… pintu ruangan Kak Ary terbuka sedikit dan ada orang lain di dalam sana…
“ …berada di sini sama dengan berdakwah lewat pena… menyampaikan kebenaran dan seruan kebajikan dengan tulisan demi tulisan… tak jarang media digunakan untuk memutar balikan fakta, dijadikan alat mempropagandakan kemaksiatan dan membumikan kebathilan… Demi Allah Mas, saya ingin redaksi ini memberikan kontribusi yang signifikan bagi dakwah di SMA Khatulistiwa …walau untuk demikian itu saya harus bekerja keras membangun mental dan ruhiy personil redaksi agar mampu memahami niat mulia ini… “ papar Kak Ary pada Mas Rama yang sepertinya naik lewat tangga samping hingga kami tidak ada yang menyadari kehadirannya…sesaat aku tertegun mencermati kalimat demi kalimat yang keluar dari lisan Kak Ary selanjutnya... Sungguh aku tidak menyangka dibalik kebekuan sifatnya tersimpan cita-cita mulia yang melangit bersama setiap titik keringat yang menetes di jalan dakwah yang telah dipilih olehnya… Rasa haru perlahan menyelinap penuhi hatiku…Kak Ary maafkan Mia yang telah mengata-ngatai Kak Ary siluman pinguin… yang telah menuduh Kak Ary ga berperasaan…mengira Kak Ary memandang kami sebelah mata… ternyata ketegasan dan kedisiplinan yang Kak Ary terapkan tak lain dan tak bukan karena Kak Ary menginginkan kami dapat menjadi mujahid dan mujahidah bersenjata pena… membela dien ini dan menegakkan kebenaran dengan goresan demi goresan pena yang kami buat… Maafkan Mia, Ya Kak Ary…! Sekali lagi Maafkan…(The day after my birthday_last year, 00.29 )


read more...

Rahasia 3 Hati

RAHASIA 3 HATI
Ayka Maya R.

“ …Kamu ga bisa putuskan sendiri siapa pemateri Training Jurnalistik kita pekan depan hanya karena kamu koordinator Acaranya…”, Kirana menatap tajam manik mataku. Duh, sohibku yang satu ini memang syerem banget kalo sedang marah...
”... ga nentuin sendiri kok, sudah dikonsultasikan dengan Kak Vony dan diketahui oleh Awan dan Kak Andri, mereka ga da masalah, lagian waktunya sudah dekat... emangnya ada apa dengan nama – nama itu, Ukhti...? ”, jawabku tenang... gadis ini ga bisa balas dikerasin... bencana...
Awan masuk dengan tergesa ke ruang redaksi, di luar hujan sudah mulai terjun bebas basahi bumi. Kirana menatap pemuda itu sesaat masih dengan tatapan tajamnya.
” ...ada apa Ran...? ”, tanyanya bingung... Rana diam dan berlalu begitu saja dari hadapan kami... what’s up girl...? aku mengangkat bahu tanda ga ngerti membalas tatapan penasaran Awan ke arahku...
”... dia marah – marah terus dengan aku akhir - akhir ini, terakhir tadi malam aku diomelin di telpon karena menandatangani surat permohonan menjadi pemateri... dia bilang aku ga perhitungan memilih pemateri... aneh, padahal yang kita undang adalah yang terbaik di kota ini... aku benar – benar ga ngerti dengan sikapnya...”, pemuda itu menarik nafas panjang kemudian menyelinap duduk di balik monitor LCDnya menekuni pengeditan foto yang akan dimunculkan pada penerbitan berikutnya...
” ... ya sudah, nanti aku cari tahu deh... ada apa dengan dia...”, closingku lirih seraya kembali ke meja kerjaku, meneruskan kekhusyukan mengejar deadline seperti biasanya...
Kirana, ada apa sih sama kamu... selama ini tim kita adalah tim yang tangguh... kamu gadis brilian yang energik, menyenangkan, bersemangat... tapi mengapa jadi emosional begini,sis.. ?
***
”... tebak, aku baru dapat telpon dari siapa barusan...? ”, suara di seberang sana terdengar agak kesal...
”... dari siapa sih, Wan... ? ”, tanyaku penasaran...
” Kirana... dia marah aku ga respon SMS – SMSnya... Hhhh, padahal ceritanya kemarin kepalaku sakit, makanya tidur lebih awal.. keesokan harinya khilaf belum baca en balas SMS darinya... padahal isinya ga penting-penting banget, cuma lontaran ide – ide yang bisa kita bahas bersama di rapat manajemen sebelum Training ahad depan... dia marah besar. Aku salah memang, tapi.... ah, kalian cewek emang aneh...! ”, Awan mengakhiri telponnya... dasar Awan ga sensitif, Kirana juga... ngapain dia yang jadi over sensitif begitu...ini memang aneh...
***
Kirana membereskan barang – barang di mejanya. Gadis itu memang keras, tapi bukankah team work harusnya dapat menjawab karakter itu... aku menahan nafas sesaat, aku ga ingin ada potensi masalah dalam tim ini hanya karena masalah – masalah sepele yang ga penting...
”... kamu mau kemana Ran ? ”, tanyaku seraya menghentikan aktifitasku sesaat.
” ... entahlah... yang pasti aku ga bisa berlama – lama di tempat ini...”, jawabnya lirih...
”... kamu bagian dari kita semua, Ran... katakan apa yang mengganggu fikiran kamu... kerja tim membutuhkan saling keterbukaan...”, kutinggalkan mejaku menuju mejanya yang mulai bersih dari pernak – perniknya selama ini...
”... aku ga bisa cerita sekarang...”, hanya itu yang dia katakan...
”...kamu sudah bicarakan dengan Kak Vony & Kak Andri...? Awan sudah tahu ini...? ”, kejarku lagi...
” ... via SMS aja, aku pergi...”, selepas menjawab salamnya aku terdiam beberapa saat... ada apa sebenarnya...selang beberapa menit Musyari Rasyid terdengar dari ponselku... Kak Andri...
”... apa maksudnya dengan meninggalkan redaksi...? Dy, I trust u to solve this problem, ok…”, instruksinya…yes Sir… Hhh, ada apa dengan semua ini…
Kembali Musyari Rasyid mengalun jernih…
”...Dy, perasaanku ga enak... kamu tahu soal pengunduran diri Kirana yang tiba – tiba ?, aku merasa ini pasti ada hubungannya dengan aku... kuakui dia agak berlebihan memberi perhatian padaku... dari sekedar sms ingatin aku makan siang sampe miscal tengah malam bangunin aku qiyamulail... kalau dia gadis biasa, mungkin sudah kumainkan saja... tapi dia akhowat...Dy, jujur aku belum siap... walau hampir selesai kuliah... ” Awan panik...
”... kamu GR banget siy, wan...dia kan memang gadis yang baik... tolong jangan berfikiran yang tidak – tidak, soal dia marah – marah beberapa waktu lalu mungkin dikarenakan panik dengan skripsinya... pusing dengan jadwal mengajar honor plus kejar tayang kerjaan kita... jadi rada sensitif...tolong kamu husnudzon...”, Awan gagal menyembunyikan kegelisahan hatinya... sebetulnya dia cukup perasa, hanya saja...
Kali ini terdengar Basmallah dari Musyari Rasyid... SMS dari Kirana :
Aku sudah muhasabah, bukan karena redaksi aku pergi, kalo sekedar training dan deadline aku yakin bisa atasi. Tapi aku harus jujur mengatakan inti masalahku selama ini : aku ga mampu jaga hati dan lisanku pada Awan. Aku bingung sejak kapan aku suka dan apa yang aku suka darinya, aku benar – benar ga tahu...kalo ini jadi pengalaman aku pernah menyukai seseorang, aku terima ini sebagai pelajaran berharga...tapi kalo harus memilih antara membersihkan hati dan meraih cita – cita bersama di redaksi, afwan Dy, aku memilih hatiku... Bismillah, aku keluar dari redaksi. Aku tidak bisa bekerja cerdas kalo hatiku masih kotor. Sungguh Dyantari, ga ada hasil yang baik dari sumber yang kotor. Saat ini aku berdoa semoga Allah memberikan kebaikan dimanapun aku berada...
Pesan yang cukup panjang dan gamblang... kini aku mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi... seketika hatiku pun turut perih karenanya... Kirana, aku juga pernah menyukai Awan... sampai saat ini dan biarlah selamanya karena kita bersaudara... Aku bisa memahamimu, Saudariku... Bismillah, kutegarkan hati membalas SMSnya dengan tulus...
Tentang Awan, dia sangat menghormatimu, Ukh... dia tidak bermaksud cuek, hanya karena fisiknya yang sempat drop beberapa waktu lalu, membuat sms-sms anti terlupakan jadinya... Bersegeralah luruskan niat Ukh, dan jangan ragu untuk kembali karena anti adalah bagian dari redaksi ini.. tapi memang ada baiknya recovery hati dulu ya... biar lebih produktif maksudnya...ada sedikit resep yang Alhamdulillah cukup ampuh hingga kini... setiap kali Dy akan bertemu Awan, Dy selalu berdo’a... supaya Allah menumbuhkan keikhlasan dalam hati agar bisa memberi dan menyayangi Awan tanpa harus takut kehilangannya.Wassalam..
Pfuifh, Awan... mahasiswa berprestasi yang menyenangkan, aktif di BEM juga musholla kampus selain memperkuat redaksi selama hampir dua tahun terakhir ini . Kami sudah saling mengenal sebelumnya, karena pernah beberapa kali berhadapan pada even – even fakultas maupun universitas. Dia memang telah mengumumkan rencananya meninggalkan kota ini begitu selesai wisuda bulan depan... tapi biarlah... bukankah tak semua perpisahan menunjukkan terpisahnya hati, tak semua perjumpaan menunjukkan kecintaan, ukhuwah diukur dari kedekatan hati...maka izinkan aku mencintai kalian semua karena_Nya...Robbiy, jagalah hati – hati kami...jagalah pula rahasia kecil ini...agar kelak di suatu masa kami berjumpa, tak perlu ada luka yang harus kembali menganga...

read more...

Berlalulah Kabut di Hati

Berlalulah Kabut di Hati

“ …Insya Allah hanya lima orang dari tiap-tiap Fakultas yang akan diutus masuk dalam struktur kepanitiaan Dies Natalis Universitas…”, tutur Evan melaporkan hasil rapat koordinasi tingkat UKM Universitas sore kemarin pada majelis PH LDK.
“ …teman-teman di BEM meminta kita untuk mengutus dua orang, satu akhowat dan satu ikhwan… karena issunya akan direkomendasikan menjadi koordinator seksi, maka mereka minta kita mengutus yang capable untuk amanah itu…hitung-hitung image building pada pihak rektorat…”, lanjutnya lagi. Arya sang ketua LDK mangut-mangut seraya mengedarkan pandangannya pada beberapa ikhwan yang ada di dekatnya saat ini.
“ Please Akh, jangan ane… antum kan tahu ane orangnya kuper abis dan ga gaul… so, ditanggung bakal sulit beradaptasi sama anak-anak UKM…”, pinta Jaka_ikhwan kabupaten yang paling hobi menghindari forum-forum plural di Kampus.
“ Ane juga jangan Akh, Ane dengar anak-anak KOPMA masih ngutangin Ane karena berani nolak mentah-mentah LPJ mereka tahun lalu… “, giliran Zaky angkat bicara.
“ Ane…”
“ Stop…stop…stop…”, Arya dengan tegas memotong maksud Tedy yang dengan malu-malu ikut mengacungkan jari seraya membetulkan kacamata tebal minus tujuhnya yang setia nangkring di batang hidungnya yang mancung…
“ Kok jadi pada ketakutan ditunjuk begini sih… apa begini sikap aktivis dakwah menghadapi amanah di depan mata…? “ Arya sedikit meninggikan suaranya. Pemuda itu berusaha untuk tetap tenang dan berwibawa di hadapan jundi-jundinya…semua terdiam… Tedy yang semula memang sudah menunduk saat Evan menyampaikan hasil rapat jadi semakin menunduk diceramahi qiyadahnya. Jaka menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak terasa gatal sedang Zaky yang biasanya vokal lebih memilih untuk menghempaskan tubuhnya ke pojok ruangan sambil membolak-balik Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin yang baru saja diambilnya dari Rak Buku Koleksi LDK di dekatnya.
“ Ane tidak akan langsung main tunjuk-tunjuk seenaknya… kita kan punya mekanisme syuro, harapan Ane siapa pun yang akan diutus oleh syuro dapat menjalankan amanahnya dengan baik dan bertanggung jawab…”, selepas mengucapkan salam Arya pun berlalu dari ruang kestari menuju ruang sholat utama di musholla. Tak lama kemudian Jaka dan Tedy pun mengikuti jejak sang Qiyadah menunggu waktu sholat yang tidak kurang dari sepuluh menit lagi…
Evan menepuk-nepuk pundak Zaky, sohibnya… Evan tahu persis pemuda itu masih masygul… teringat kembali kejadian setahun lalu saat dia memobilisasi teman-temannya untuk Walk Out meninggalkan ruang sidang di detik-detik terakhir saat presidium memutuskan LPJ pengurus KOPMA diterima dan kasus-kasus yang pernah ada dibekukan dengan alasan yang tidak jelas… dia tahu benar deretan penyelewangan yang dilakukan… dia punya bukti-bukti lengkap… dia hanya ingin memberikan pelajaran pada senior-seniornya yang tak tahu malu telah mengambil hak banyak orang dan menodai amanah… Zaky juga ingat, sorenya dia dikeroyok oleh beberapa orang tak dikenal yang belakangan diketahuinya sebagai antek-antek mantan ketua KOPMA yang sekarang malah diangkat jadi Badan Pengarah… sejak saat itu Zaky bersumpah, dia tidak mau lagi menginjakkan kakinya ke kopma… dia tidak sudi membelanjakan satu rupiah pun uangnya di sana… biarlah ke kopma fakultas lain atau ke kopma universitas sekalian… jika pemuda bertubuh tegap itu merasa butuh fotocopy atau beli alat tulis dan semacamnya… yah, Zaky memang keras… tapi bukankah tak ada salahnya bersikap keras pada kebathilan… dan bukankah sikapnya memang didukung oleh anak musholla hingga tak ada kader musholla yang kini mau berbelanja di tempat itu…walaupun pemuda itu tampak sangat memendam amarah, namun jauh di dasar hati sungguh dia kecewa pada dirinya sendiri yang tak sanggup berbuat apa-apa untuk menghalangi Zero, mantan ketua kopma plus senior favoritnya di klub jurnalistik remaja semasa SMA. Zero terbukti menggelapkan uang mahasiswa puluhan juta rupiah. Hasil investigasi teman-teman mendapati fakta-fakta uang tersebut digunakan untuk biaya jalan-jalan dia dan beberapa orang stafnya berkedok studi banding ke beberapa universitas di Asia Tenggara. Zaky juga malu karena dulu sempat begitu membanggakan Zero dan sangat memfigurkannya… namun lebih dari itu, dia tak dapat menutupi kesedihannya… karena sebagai seorang muslim, Zero telah mencoreng nama Islam di seantero kampus dengan kekhilafan yang telah dilakukannya… bertaubatlah Bro, lirih hatinya berbisik…
“ Sudahlah Zak, jangan diingat-ingat lagi… jangan dibikin dendam…biarlah Allah yang membalas semua perbuatan mereka…”, Evan mencoba menentramkan hati sahabatnya.
Tiba-tiba…
“ Hah…Huh… Assalammu’alaikum, Akh…!!! ”, terdengar suara terengah-engah datang dari balik hijab pembatas zona akhwat dan ikhwan.
“ Wa’alaikumsalam… ada apa Ukh…tenang, minum dulu…”, Evan mendekati hijab, tak urung Arya, Jaka dan Tedy pun bergerak ke arah sumber suara.
“ Afwan… Ana dan Ukhti Sari hanya ingin menyampaikan bahwa ada polisi menuju ke arah sini… sepertinya sedang dalam rangka mengadakan penyergapan…”, papar Arini, staf paling bungsu di kemuslimatan.
“ …Penyergapan…? “, Jaka mengulang perkataan Arini setengah tak percaya…
“ I..iya… tapi ga jelas siapa yang akan disergap…”, sambung Sari.
“ …mereka mencari Bang Zero… ternyata teman-teman DPM mengembangkan penyelidikan penggelapan uang 47 juta tahun lalu…dan ketika terbukti, mereka langsung lapor polisi untuk segera mengamankan Bang Zero dan komplotannya…”, Ukhti Amara yang baru saja bergabung disertai Ukhti Rien memaparkan lebih lanjut tentang apa yang sedang terjadi.
“… sementara ini sudah ada tiga tersangka yang diciduk, salah satunya Bang Zero… mereka masih mencari dua orang lagi… dan kalau tidak salah ada satu dosen pengarah Kopma yang terlibat…”, sambung Rien.
Sayup-sayup terdengar kumandang adzan dari Masjid Universitas…
“ Sebaiknya kita sholat dulu, biarlah para polisi itu menyelesaikan pekerjaannya, sehabis sholat baru kita ikuti kembali perkembangannya…”, usul Arya. Semua mengangguk setuju dan bubar seketika…
Percikan air yang dingin tak hanya berhasil merembes ke pori-pori wajah Zaky, perlahan hatinya pun dirambati kesejukan,… pemuda itu tak henti-hentinya melafazkan takbir dan tasbih bergantian… sebongkah beban yang pernah bercokol lama di pundaknya itu kini terangkat sudah, hilang bersama kabut yang selama ini selimuti kalbunya… semoga Allah mengampuni kelemahan diri ini, munajatnya…(01 Desember 2005, kala rindu mengajakku kembali berpetualang ke masa lalu…kembali ke kampus, medan jihad pertamaku…)

read more...

Episode Hijrah 2 Hati


EPISODE HIJRAH 2 HATI
(Khansa ‘Acha’ Hurriy_student of The Arabic Class, Sang Bintang School)

“ Ki… mau ya… Ki… ayo dong… “, cowok keren kebanggan SMU Perdana itu kekeuh merayu sohibnya yang masih khusyuk dengan buku tebal di atas pangkuannya…
“ Ki, Plis… seingat gue, udah lamaaaaa banget kita ga aksi ngerjain anak Perdana… biasanya, sehari aja kita ga’ ngerjain orang, lu protes en bilang body jadi pegel-pegel…”, Eka mengambil posisi tepat di samping Kiki, cewek manis yang emang sudah terakreditasi sebagai sohib sejatinya sejak kecil…Eka menghela nafas berat… setelah hampir setengah jam merayu partner tangguhnya ngejahilin orang…akhirnya dia nyerah juga, dengan pasrah disandarkannya kepala berambut cepak itu seraya melepas pandangan ke langit biru… sang gadis menutup bukunya…
“… well, sudah ngomongnya…? “, tanya si Manis seraya mengambil jarak dari cowok yang duduk santai di sisinya. Si cowok tersentak kaget… tumben !, pake geser-geser segala… biasanya, dia enjoy aja duduk dekat gue… malah bisa lebih ngerapat lagi, hati Eka mulai kasak-kusuk...
“…aku pulang duluan ya, ntar sore ada kajian keputrian di mushola… aku PJnya pekan ini, jadi kudu siap-siap… kirain mo ngomongin apaan… udah ah, Assalamu’alaikum…”, Kiki bergegas meraih tas gendongnya dan berlalu meninggalkan Eka yang tercengang menyaksikan kepergian sahabat terdekatnya …Hey, Ki… What’s Up Girl…? Kamu kok jadi berubah gini sih…resah hati sang kapten basket Perdana yang emang mulai mencium gelagat aneh Kiki, temen maen plus berantemnya sejak mereka sama-sama berseragam merah putih. Pasti ada penyebabnya deh… apa mungkin Sekarang dia sudah punya gebetan…? Ah, ga mungkin, mana ada sih cowok keren, beken en smart di sekolah ini yang melebihi gue, AndrĂ³meda Eka Pramudya…???, Eka semakin gemes… dia betul-betul ga rela kalo Kiki mengurai persahabatan mereka yang kompak en seru abis selama ini… Ki, kita itu sudah berteman lama… orang yang paling ngertiin aku ya cuma kamu… en begitu juga sebaliknya kan…? Iya kan…? dulu kamu pernah bilang begitu kok…!!! Eka mulai panik… dia benar-benar ga terima dengan perubahan sikap Kiki dua bulan terakhir ini...
***
“ …Oy, Ka… loe makan apa melamun… dari tadi mie di mangkok cuma diputer-puter doang… kalo udah kenyang jangan ngeramein kantin,nyemak tau’... mending diem-diem aja di kelas, baca komik...”, omel Tyo seraya mengambil alih mangkok di hadapan Eka dan melahap sesendok demi sesendok Mie Ayam Spesial Perdana dengan semangat empat lima... kesempatan nee, fikirnya gokil... Eka ogah ngebantah... dia masih sibuk dengan isi kepalanya yang dipenuhi perubahan sikap Rezkya Melati Sekarini, gadis yang bertahun-tahun menemaninya melewati hari dengan penuh warna-warni kehidupan...
“ Loe, mikirin siapa siy ? Kiki ya...? dia sih ga perlu lu pikirin lagi... nasibnya lebih baek dibanding nasib loe yang semakin ga jelas... ”, celoteh Tyo asal...
” ...maksud Loe, Yo...? ”, kejar Eka...
” ...lho, loe belum ketemu Kiki sejak tadi pagi ya...? ” , Tyo balik nanya...
” ...Yup, emang kenapa dia...??? ”, tanya Eka penasaran...
” ... dia udah hijrah, Men... udah insaf... kemaren aja gue minta dibagi contekan dia ogah... anak-anak cheers bilang, dia cabut... en pagi ini dia cantik banget dengan jilbab putihnya... ”, Eka mendengarkan dengan cermat...
”...Cuma gue denger-denger... dia makin dekat aja sama Ihsan Prasetya, ketua Rohis Perdana, maklum... mereka kan satu tim di Klub Ilmiah Remaja...”, lanjut Tyo, dia lupa bilang kalo ga cuma Ihsan sebetulnya, tapi juga Nabila, Amalya dan Qonita, trio jilbaber yang jago nulis karya ilmiah en langganan juara antar sekolah... namun glek, wajah si ganteng keburu menegang...dia terlambat menyembunyikan keterkejutannya...
” Udah-udah... ga usah ngomongin dia lagi... ! ”, Eka gerah, secepat kilat dia meninggalkan Tyo yang bengong ditemani mangkuk kosong di hadapannya...
Aih, gue salah ngomong ya...? Tyo nyengir kuda... Eits, ini mie siapa yang bayar...??? Tyo panik...!
***
“ Ki… gue minta penjelasan… kita udah berteman lama… harusnya ga ada rahasia-rahasiaan di antara kita…”, tembak Eka...
” Rahasia apa Ka...? ” tanya Kiki seraya membetulkan letak kacamata bergagang silvernya.
” Loe berubah... banget...!!!, loe nolak gue jemput en pulang sekolah bareng... loe juga ga bolehin gue ngantarin loe kursus kaya’ biasa... kita udah ga pernah jalan bareng lagi... padahal loe tahu gue butuh loe ngasih pendapat tentang penampilan gue en laennya... kenapa sekarang harus belajar kelompok rame-rame, padahal dulu cukup ada Eka en Kiki dan kita bisa sama-sama merebut jawara satu di kelas masing-masing... Kiki, ada apa sebenarnya...??? ”
Si Gadis tertegun. Perlahan, dihelanya nafas dengan berat... well, sebetulnya dia sudah menyangka Eka pasti akan mengomentari fase metamorfosa dalam hidupnya ini...
” ... Kiki ga ngerti harus ngejelasin semuanya ini dari mana... yang Kiki tahu, pertemanan kita selama ini sangat indah en Kiki bersyukur telah melewatinya bersama Eka...”, prolognya...
”...lalu kenapa sekarang kamu ngejauhin aku, Ki...? ”, tanya Eka serius...
” Kiki ga jauhin Eka... Kiki hanya butuh waktu untuk menata hati, meluruskan niat, agar persahabatan ini ridhoi Allah... ” jawabnya pelan...
Eka mengerutkan dahinya... dia ga ngerti...apa ada yang salah dari kedekatan dia dan Kiki selama ini, dia sulit menerima ini... Kiki menghela nafas lagi, kali ini wajahnya turut bersemu merah...
” Hm...Kiki...hm, Kiki...suka deg-degan di dekat Eka... hm, Kiki ga bisa ngejelasinnya... sebaiknya besok sore Eka ikut kajian umum di Mushola aja, materinya Manajemen Hati by. Ust. Haris... semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Eka tadi... ”, Eka masih belum nyambung dengan usulan Kiki... sahabat – deg-degan – ikut kajian – jawaban...?, Kiki...Kiki... kok makin rumit aja sih cara berfikir kamu...
Ternyata berawal dari rasa penasaran yang memaksa langkah Eka menginjakkan kaki ke teras mushola... kini di tengah malam yang dingin dia terpaku menatap sebentuk wajah pada frame di dekat notebooknya. Siapa yang mengira tausiyah Ust. Haris begitu mengena di hatinya... membuatnya tersadar dan memahami keputusan yang diambil oleh sahabat kecilnya... Sesaat Eka tertegun, kala kembali mencermati butir demi butir yang dipapar tuntas sore tadi pada hasil rekaman flash discnya...sesekali terdengar istighfar yang dilafaz dengan tulus...Robb, ampuni aku...terima kasih telah mengirimkan seorang sahabat yang telah menuntunku menuju cahaya ini..., ringan langkah Eka menghampiri air tuk berwudhu...tetesan menyejukkan itu berhasil merembes khidmat ke dalam hatinya... Ki, kita harus kembali bersinergi... dengan konsep yang jauh lebih indah tentunya, tekad Eka dalam hati selepas menutup doa di hamparan sajadah panjangnya...

read more...

Madu









Madu

“ …Bunda serius…? “, tanyaku tergagap… dan serta merta wajah teduh di hadapanku mengangguk mantap sembari mengurai senyum pada bibir mungilnya yang menawan...
“ Bunda sudah punya calonnya…? “, tanyaku lagi… dan kembali pemilik wajah teduh itu mengangguk mantap.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan… wajah teduh itu masih menatapku lembut… menunggu kelanjutan reaksiku.
“ Bunda, gimana kalo kita nggak usah bicarain tentang hal ini sekarang ?, Ayah capek sekali…”, elakku…Bunda…Bunda…ada-ada aja… nggak ada hujan nggak ada badai tiba-tiba nawarin madu…
“ Ayah, tolong difikirkan ya…!!!”, bisiknya lembut ke telingaku sesaat sebelum aku buru-buru memejamkan mata… tanda tak ingin diajak bicara lagi malam ini…
Allah Rabbi… hanya mata yang sanggup terpejam, namun seluruh jiwa dan raga ini menolak untuk beristirahat dengan tenang…
*
Kuputuskan untuk menemui Ust. Rayyan segera… aku butuh pendapatnya sebelum mengambil keputusan besar ini. Aku sengaja menyegerakan pertemuan ini karena aku kenal betul watak Yanti, istriku. Dia pasti akan terus mengejar jawaban dariku dan belum akan berhenti sampai aku menunjukkan sikapku dengan tegas .
“ Ustadz, saya tidak yakin saya mampu… sungguh ini bukan berkenaan dengan masalah finansial, melainkan masalah hati… saya tidak yakin saya mampu berbuat adil dalam memberikan perhatian & kasih sayang pada keduanya…“, tuturku dengan perasaan galau…
“ Bagaimana mungkin kamu bisa mengambil kesimpulan secepat itu sedangkan kamu bahkan belum mengetahui siapa calon istri keduamu…”, tanya Ust. Rayyan menyambut galauku…
“ saya memang belum mengenalnya ustadz… tapi ini tetap terasa begitu berat bagi saya… saya sangat mencintai Yanti, Ustadz… saya khawatir jika keputusan ini kelak malah akan melukai hatinya…”, aku menunduk…
“ Setyo…Setyo, bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau ide ini muncul dari istrimu… jika Yanti saja mampu menyampaikan ini dengan hati yang tenang dan lapang dada…maka apa lagi yang kau khawatirkan…? Bukankah sebaliknya, jika kau menolak tawarannya dia justru akan kecewa…? “, Ust. Rayyan mengingatkanku…
Aku hanya bisa menarik nafas panjang… hya, inilah resiko menikahi wanita istemewa… aku sebetulnya memang sudah harus mempersiapkan diri sebelum saat-saat seperti ini tiba…
“ Ustadz… saya… saya kira saya butuh waktu untuk berfikir…”, aku berlalu dari hadapan lelaki paruh baya yang telah begitu banyak mengajarkan aku arti hidup dan kehidupan…yang juga telah begitu sabar membimbing aku dalam menapak jalan hidupku.
Hatiku kalut… telah waktunyakah tiba giliranku…, setelah Johan, Hary, Fahmi dan Bagus… kini masaku untuk mengikuti jejak mereka, mengambil madu untuk istriku…
Jika Johan harus dengan sabar menjelaskan perihal ini pada Maya, istrinya… jika Hary harus mengalami fitnah yang begitu pahit di lingkungan tempat tinggalnya… dan jika Fahmi harus berhadapan dengan keluarga besar pihak istrinya, Bagus pun harus tegar dengan kebekuan putra-putrinya… maka aku… aku harus pula siap menghadapi tribulasi yang akan datang kepadaku karena keputusan besar ini.
Aku baru saja mengabari Yanti kalau aku akan pulang terlambat , sekitar tengah malam karena ada rapat mendadak persiapan kunjungan da’wah ke beberapa daerah pekan depan, jadi dengan berat hati aku hanya bisa titip maaf buat si sulung_Yudhist, karena aku sudah janji akan pulang tepat waktu agar kami bisa mendiskusikan tentang pemilihan sekolah pasca SLTP_nya. Sedang pada Satrio,putra keduaku aku minta maaf tidak sempat mampir ke toko buku dan membelikannya sebuah buku bagus yang sudah kujanjikan pada kutu buku sholeh kesayanganku itu. Aku juga minta maaf pada si kembar, Dyan & Dyana karena tidak bisa menemaninya berlatih renang. Itu berarti, tidak ada renang sore ini karena Yanti sama sekali tidak bisa renang maka tidak mungkin mengajari putri kembar kami berenang, lagi pula kandungannya sekarang sudah memasuki bulan ketujuh, perutnya sudah mulai menyulitkan untuk diajak berlincah-lincah ria seperti biasanya.
“ Akh Hary, kalau boleh ane tahu, siapa yang lebih dulu mengajukan ide poligami antara antum dan Ukhti Sari …? “, tanyaku pada Hary. Hary menyungging senyum mendengar pertanyaanku…
“ Ane dong… tapi Alhamdulillah, Allah mudahkan hati Sari… cukup dua hari waktu yang ane butuhkan untuk memahamkan Sari tentang betapa mulianya mengangkat derajat seorang janda beranak lima seperti Ummu Raihan “, papar Hary .
“ Antum nggak mau nanya reaksi istri ane …? “, pancing Johan
“ Kalau boleh tahu…? “, sambutku antusias.
“ Hya, Maya memang keras… sejak rahimnya diangkat selepas kelahiran anak pertama kami dia menjadi sangat sensitif…”, sejenak Johan menunduk lalu manarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan…
“ Benar-banar hampir saja gagal… Maya sendiri sempat berfikiran akan meminta cerai… ane betul-betul pusing kala itu…”, Johan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan melepas pandangan menerawang kelangit-langit ruangan.
“ Syukurnya, Allah mudahkan hati Maya untuk mendengar dan menerima nasihat yang disampaikan oleh Mbak Safitri … ane betul-betul terbantu kala itu…dan sampai sekarang antum lihat sendiri, dia dan Ukhti Rika sangat akur sekalipun beda usia mereka terbilang cukup jauh, malah ane yang sering dibuat jealous dengan keakraban mereka…” bibir lelaki itu mengukir senyuman… dia bahagia.
Sesaat aku turut tersenyum haru mendengar cerita kedua sohibku. Fahmi datang mendekat dan duduk bersama kami, dia sudah sedari tadi ikut mendengarkan pembicaraan kami dari balik meja sambil merapikan berkas-berkas lembaga.
“ Well, sekarang giliranku bercerita…”, mulainya tanpa diminta. Aku mengangguk, begitu pula Hary dan Johan, bahkan Bagus pun telah turut bergabung bersama kami yang sedang duduk melingkari meja bundar yang dipenuhi aneka macam berkas.
“ Awalnya aku tak sanggup menyampaikan berita yang kudapat dari Ustadz Rahmat tentang ta’limat menikahi Ukhti Sofia, seorang akhwat yang kalian tahu ditinggal mundur calonnya dua hari sebelum hari akad nikahnya…. Akhirnya, aku minta Ust. Rahmat menyampaikan tentang hal ini pada Istrinya agar menolongku untuk membahasakan berita ini dengan sebaik-baik cara ke telinga Nadya…” , Fahmi berhenti sejenak,…
“…Nadya sangat luar biasa, Ustz. Juwita hanya bercerita tentang beberapa kisah poligami yang dialami para ikhwah dan dia langsung mengerti… lalu terurailah kisah yang dialami Ukhti Sofia dan niat menikahkan wanita itu denganku…”, kembali Fahmi terdiam sejenak…
“ …Mertuaku, Ibu dan Ayah Nadya tidak bisa begitu saja menerima hal tersebut… aku sempat disidang oleh keluarga besarnya… keempat pamannya hadir dalam persidangan itu, begitu pula dengan kakak-kakaknya… aku sudah memasrahkan semua pada Allah… dan Nadya adalah satu-satunya orang yang membela dan selalu meneguhkanku untuk bersabar dan bertahan menghadapi tekanan ini…”, mata lelaki gagah itu berkaca…
“ Dia sungguh luar biasa, karena melihat ketegarannyalah seluruh keluarga besarnya akhirnya merelakan keputusanku untuk mengambil madu untuk putri dan adik mereka… Nadya, istriku yang sangat kucinta…”, dan air mata itu kini telah menitik basahi pipinya…
“ Jika Fahmi harus berhadapan dengan keluarga besar istrinya, maka yang harus kuhadapi adalah putra-putriku sendiri…”, giliran Bagus angkat bicara…
“ Farhan dan Fauzan adalah yang paling keras menolak rencana itu… mereka bahkan sempat dua hari kabur dari rumah karena kecewa dengan keputusanku… Fatya juga tampak sangat kesal, namun dia lebih memilih untuk mengurung diri di kamar selama berhari-hari sejak aku mengabarkan tentang rencana itu… Fifi, mogok bicara, dia menolak aku mengantarnya ke sekolah…tak ketinggalan si kecil Fanny yang belum mengerti apa-apa, terlihat ikut murung melihat tingkah kakak-kakaknya dan kebekuan antara kami…”, Bagus mengarahkan tatapan lurus ke meja…
“ Ane bingung… sangat kebingungan kala itu… bahkan sebelum mengetahui siapa yang akan ane nikahi, Dik Ika sempat pula salah paham… tapi syukurlah setelah mengetahui bahwa yang akan ane nikahi adalah Ummu Hanif, janda yang hidup sebatang kara sejak ditinggal wafat Abu Hanif,suaminya dan Hanif,anak semata wayangnya, hati Dik Ika terketuk dan balik menyemangati aku untuk segera menikahi wanita yang sangat dihormatinya itu…, dia bahkan turut membantuku memberikan pemahaman kepada anak-anak kami… “, Bagus mengangkat tatapannya dari meja dan kini menatap kami satu-persatu…
“ Alhamdulillah, anak-anak kini sangat senang dengan kehadiran Ukhti Sarah di tengah-tengah kami… bahkan Fifi dan Fanny sangat manja padanya… tak jarang ane juga melihat Farhan dan Fauzan melibatkan wanita itu dalam diskusi-diskusinya…”.
“ Nah sekarang, tunggu apa lagi, Yo… Istrimu sudah siap, secara dzahir pun kau tampaknya sudah siap… hya, tapi kalau masalah hati, kaulah yang lebih tahu… “, Bagus menepuk pundakku. Aku menarik nafas panjang…. Ntah berarti apa helaan nafas panjang itu… aku pun tak tahu…
*
“ Ayah…!!! ”, sambut si kembar Dyan dan Dyana seraya menghambur ke pelukanku.
“ Ayah, kapan kita latihan renang lagi… Mas Yudhist dan Mas Rio juga nggak ada yang punya waktu buat ngajari kami berenang… “, sungut Dyan, buah hatiku yang lahir tujuh menit lebih dulu dari saudari kembarnya,Dyana.
“ He eh, Nih Yah… kita jadi nggak ada kemajuan sama sekali minggu ini… “, giliran Dyana angkat bicara. Aku mencium keduanya hangat...
“ Sayang, maafkan Ayah… kalian lihat sendirikan betapa penuhnya jadwal Ayah dalam sepekan terakhir ini…gimana kalo kita atur jadwal baru lagi aja untuk pekan depan ? ”, tawarku yang disambut antusias mereka.
“ Dyan, Dyana… Ayah pasti capek, biarin Ayah istirahat dulu gih… ntar sore ,ba’da Ashar baru kita sambung lagi ngobrolnya yah…”, Yanti datang menghampiri kami. Dia menurunkan satu persatu putri kami yang bergelayut manja di pundakku. Setelah keduanya menghilang dari balik pintu, sesaat kami saling bertatapan… hingga akhirnya wajah teduh itu tertunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya.
“…Ayah makan siang dimana…?, mengapa tidak ada menghubungi Bunda sejak malam tadi, Bunda coba hubungi tapi nggak masuk-masuk…”, tanyanya dengan ekspresi yang begitu aku hafal…
“ Ayah belum makan siang Bunda, yuk temani Ayah makan dulu…nanti Ayah jelaskan…”, wajah teduh itu mengangguk setuju dan kamipun beriringan menuju ruang makan.
*
Yanti berulang kali menarik nafasnya dengan kentara, tampak sekali ia gelisah dan ingin menyampaikan sesuatu…Aku bisa merasakan mata teduh itu tengah menatap tajam ke arahku…Baiklah, sudah cukup tegangnya…
“ Ada apa Sayang, ada yang mau dibicarakan…? “, tanyaku. Dia mengangguk cepat…
“ …tentang anak-anak…? “, kejarku lagi. Segera ia menggeleng…
“ Ayah, Bunda sudah berencana akan sesegera mungkin menyusun jadual ta’aruf Ayah dan Ukhti Qoni Sudiro, jika Ayah setuju dengan rencana pernikahan ini… dan Bunda janji akan turut membantu Ayah mensosialisasikan hal ini dengan anak-anak agar mereka mengerti…”, dengan tenang Yanti mengutarakan isi hatinya kepadaku…
“…Qoni…maksud Bunda .R.R. Qonita Indrayuni Sudiro…? “ , tanyaku hampir tak percaya… dan sosok Iffana Dyantika Hayyanti yang tengah berada di sampingku membalas keterkejutanku itu dengan anggukan lembutnya yang anggun… Demi Allah, makhluk apa sebetulnya wanita di sisiku ini… jelas bukan manusia biasa… bukan wanita biasa…
Sekelebat bayangan 20 tahun lalu kembali melintas di benakku… aku bahkan belum tarbiyah saat itu… gelora rasa dan kecamuk jiwa muda yang meraja kala masa itu telah menyuburkan benih-benih yang bersemi di antara hatiku dan Qoni . Tanpa mampu kulerai, kisah itu terserak kembali hari ini…
“…Bunda… “, takjub kutatap sosok dihadapanku…
“ Dua tahun setelah bercerai dengan Deny Prawira, suaminya … Ukhti Qoni pun perlahan hijrah dan mulai aktif mengikuti kegiatan majelis taklim dan sejenisnya di kota tempat tinggalnya yang baru … Ayah ingat, Bunda pernah minta izin mengisi seminar dan serangkaian kegiatan muslimah di luar kota beberapa bulan lalu…? Nah, di sanalah Bunda bertemu Ukhti Qoni Sudiro, ternyata dia adalah salah seorang panitia pelaksana kegiatan yang mengundang Bunda. Kami saling berkenalan dan segera akrab, terlebih karena memang dia yang diamanahi mengawal Bunda selama rangkaian kegiatan berlangsung. “, Sesaat istriku menarik nafas, tangannya menyentuh tanganku dan menggenggamnya…
“ …kami berbicara banyak… Bunda sungguh betul-betul tidak menyangka Allah akan mempertemukan kami dengan cara seperti ini. Selama ini Bunda hanya mengenali wajah cantiknya melalui koleksi foto zaman kuliah ayah, atau mendengar ceritanya dari teman-teman kuliah ayah yang bersilaturahim ke rumah kita. Bunda tidak pernah mengenalnya secara langsung. Bunda hanya tahu kalau Qoni Sudiro adalah mantan kekasih Ayah yang sekaligus merupakan sosok wanita idaman Ayah… secara fisik, memang kami sangat bertolak belakang, Qoni mungil dan ramping, bahkan terkesan ringkih sedang Bunda tinggi, gede dan tampak sangat sejahtera he he he… tapi entah mengapa hati Bunda mengatakan bahwa secara bathiniah, kami sama-sama wanita yang merindukan dan membutuhkan laki-laki seperti Ayah untuk menentramkan hati kami. Dia kini hidup seorang diri setelah gagal memperjuangkan hak pengasuhan putra-putrinya di pengadilan tahun lalu… Bunda menangkap kesan rapuh dalam setiap tutur katanya, tapi siapa yang tidak akan kecewa dan bersedih ketika harus terpisah dari buah hati. Qoni memiliki seorang putra seusia Yudhist dan putri yang setahun lebih muda dari usia Satrio. Dia membutuhkan seseorang untuk berbagi, tapi Bunda yakin dia tidak akan keberatan jika ternyata ada dua orang sekaligus yang siap berbagi dengannya. Well, setidaknya sekelumit cerita tadi merupakan salah satu alasan diantara begitu banyak alasan mulia untuk meminta Ayah mengambil dia sebagai istri kedua Ayah…”. Dia mengakhiri kisahnya dengan sebaris senyum. Lama kami saling menatap, hingga dia mendahuluiku untuk menunduk lalu menyandarkan kepalanya dibahuku…
“ …Gimana Yah…? “, bisiknya…
“ Yanti… sungguh tak pernah terlintas di kepalaku tentang seorang Qoni sejak aku memutuskan untuk memilihmu sebagai bidadari yang akan menemaniku berjuang menuju syurga_Nya lima belas tahun lalu…tidak, bahkan sampai dengan detik ini masih kamu Yan, satu-satunya wanita yang ada di hatiku…Qoni hanyalah bagian dari masa lalu yang menjadi tahapan sejarah penempaan diri hingga kita jadi seperti diri kita yang sekarang ini … “
“ Tyo Sayang…bukankah tempaan itu tak pernah usai hingga akhir hayat kelak… bahkan di detik ini… bukankah ini bagian dari seni Allah dalam menempa hamba-hamba_Nya yang Ia cintai…? , Tyo Sayang… aku begitu bahagia bisa bersuamikan lelaki sepertimu…lelaki yang selalu mengingatkan aku akan kebesaran Allah… lelaki yang mengingatkanku ‘tuk tak lupa bersyukur…tak berhenti bersabar…namun ada begitu banyak wanita-wanita yang berselimutkan dingin di luar sana kala aku hangat di dekatmu…wanita-wanita yang terluka sayapnya dan menanti uluran tangan lelaki sejati yang mencintai dan menerima mereka karena Allah… walau tak pula kupungkiri ada demikian banyak wanita perkasa yang memilih untuk menikmati duri yang mencakar tubuhnya dalam perjuangan suci seorang diri…Tyo, salahkah…??? “ , tanyanya dengan suara bergetar…kupeluk ia perlahan untuk menentramkan hatinya… Yanti…wanitaku….
“ Airlangga Eka Prasetyo … dia menyebut namamu saat menceritakan kisahnya padaku… Tyo, dia begitu ingin bertemu denganmu… dia tahu siapa aku dan aku merasakan tatapan cemburunya padaku… Tyo, dia masih begitu mencintaimu… Tyo…aku tak pernah berhenti memikirkannya… Tyo, bagaimanapun juga dia saudari kita… dia pun layak memilikimu…”, air mata itu terus mengalir, diringi isakan yang tertahan … Yanti…begitukah yang kau rasakan… begitukah hati perempuan…
Lama kami saling diam, hingga akhirnya aku mengiyakan permintaannya…
“…Baiklah Khadijahku Sayang…aku akan menerimanya… namun bagaimana dengan anak-anak kita…? juga dengan keluarga besarmu…?, tentu butuh waktu untuk meyakinkan mereka…”. Tiba-tiba wanita itu telah menghadiahiku sebuah kecupan hangat…
“ …jangan khawatir Sayang, kita akan hadapi bersama…”, janjinya….

(Eka D.Rifai,Pontianak, 14 Desember 2004 / dua hari sebelum miladku_setahun sudah berlalu cita-citaku…, 00:35 dini hari…)

read more...

Design by Blogger Templates